Ditinggal Pelatih di Tengah French Open, Petenis Spanyol Alejandro Davidovich Fokina Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- Alejandro Davidovich Fokina mengaku pelatihnya, Mariano Puerta, meninggalkannya begitu saja setelah kemenangan di babak pertama French Open.
- Puerta, mantan petenis top dunia yang pernah terkena sanksi doping, pergi ke Miami tanpa pamit dan hanya mengirim pesan teks.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang profesionalisme pelatih di tengah turnamen Grand Slam yang penuh tekanan.

Petenis Spanyol Alejandro Davidovich Fokina mengungkapkan kekecewaannya setelah sang pelatih, Mariano Puerta, tiba-tiba meninggalkannya di tengah perhelatan French Open tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kejadian ini menambah daftar panjang drama di luar lapangan yang mewarnai turnamen Grand Slam tahun ini.
Davidovich Fokina, yang menjadi unggulan ke-21, mengaku baru mengetahui kepergian Puerta setelah menerima pesan teks dari pelatihnya itu. Dalam konferensi pers usai kekalahannya di babak kedua, ia menjelaskan bahwa tidak ada pertengkaran atau insiden khusus yang memicu keputusan tersebut. "Kami tidak bertengkar. Semuanya normal," ujarnya.
Menurut penuturannya, setelah pertandingan pertama melawan Damir Dzumhur, Puerta mengeluh tidak enak badan dan memilih kembali ke hotel. Beberapa jam kemudian, pesan singkat masuk: Puerta menyatakan tidak akan melanjutkan kerja sama. "Dia tidak bilang apa-apa kepada siapa pun, kepada tim. Dia langsung naik pesawat dan terbang ke Miami tanpa mengucapkan sepatah kata pun," kata Davidovich Fokina dengan nada kecewa.
Puerta, yang pernah menempati peringkat sembilan dunia dan memenangkan tiga gelar ATP, bukanlah sosok asing di dunia tenis. Namun, kariernya sempat tercoreng akibat kasus doping. Ia direkrut Davidovich Fokina awal tahun ini untuk menggantikan Felix Mantilla, setelah petenis berusia 26 tahun itu melewati musim 2025 yang frustrasi dengan empat kali menjadi runner-up.
Meski ditinggal di momen krusial, Davidovich Fokina mengaku tidak menyimpan dendam. "Saya tidak berharap yang buruk padanya. Saya harap semuanya berjalan baik jika dia mulai bekerja dengan pemain lain," katanya. Namun, ia juga memberikan peringatan halus: "Setelah ini, mereka akan tahu untuk berhati-hati, dan bahkan lebih baik lagi bahwa dia akan meninggalkan mereka di saat terburuk."
Insiden ini menyoroti dinamika rumit antara pemain dan pelatih di dunia tenis profesional, di mana tekanan turnamen Grand Slam kerap memicu keputusan impulsif. Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap lapangan, ada sisi manusiawi yang penuh kejutan dan kekecewaan.
Ke depan, pertanyaan besar muncul: akankah Davidovich Fokina mampu bangkit dari pengalaman pahit ini dan menemukan pelatih yang lebih setia? Atau justru insiden ini akan menjadi titik balik yang memperkuat mentalitasnya di turnamen-turnamen mendatang?


