Kekacauan di Balik Layar AC Milan: Pertengkaran Ibrahimovic-Allegri dan Harapan Gagal ke Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Laporan media Italia mengungkap pertengkaran fisik antara Zlatan Ibrahimovic dan pelatih Max Allegri yang harus dipisahkan oleh direktur olahraga.
- Manajemen AC Milan diduga berharap tim gagal lolos ke Liga Champions agar lebih mudah dan murah memecat Allegri dan stafnya.
- Setelah kekalahan dari Cagliari yang memastikan kegagalan ke Liga Champions, Milan memecat Allegri, Tare, Furlani, dan Moncada, hanya menyisakan Ibrahimovic.

Kekacauan internal yang melanda AC Milan pada hari-hari terakhir musim lalu ternyata lebih parah dari dugaan. Media Italia melaporkan adanya pertengkaran fisik antara penasihat khusus RedBird, Zlatan Ibrahimovic, dan pelatih Max Allegri di sebuah restoran, yang harus dipisahkan oleh direktur olahraga Igli Tare. Bahkan, ada indikasi bahwa sebagian petinggi klub justru berharap tim gagal lolos ke Liga Champions demi memuluskan rencana pemecatan.
Menurut harian Corriere della Sera, ketegangan antara Allegri dan Ibrahimovic sudah lama tercium, namun insiden di restoran yang melibatkan CEO Giorgio Furlani dan berujung pada intervensi fisik Tare menunjukkan bahwa hubungan keduanya benar-benar retak. Pertengkaran ini menjadi puncak dari serangkaian perselisihan yang mewarnai ruang ganti Milan sepanjang musim.
Laporan yang lebih mengejutkan datang dari pertandingan pamungkas Serie A melawan Cagliari. Ketika Alexis Saelemaekers mencetak gol pembuka pada menit-menit awal, hanya Tare yang terlihat merayakan di tribun. Sumber menyebutkan bahwa para petinggi lainnya justru tidak bergembira karena mereka sadar bahwa lolos ke Liga Champions akan membuat proses pemecatan Allegri dan Tare menjadi lebih rumit dan mahal secara finansial.
Pada akhirnya, Milan justru kalah 2-1 dari Cagliari dan gagal finis di empat besar. Hasil ini membuka jalan bagi pemilik klub, Gerry Cardinale, untuk mengambil tindakan drastis. Dalam satu langkah, Allegri, Tare, Furlani, dan direktur teknis Geoffrey Moncada dipecat. Hanya Ibrahimovic yang selamat dari 'pembersihan' tersebut. Menariknya, Ibrahimovic adalah satu-satunya figur yang hadir dalam pertemuan puncak dengan Cardinale beberapa jam sebelum pertandingan, selain Moncada yang muncul sebentar.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisruh ini menjadi pelajaran tentang pentingnya harmoni antara manajemen dan tim pelatih. Klub-klub besar Eropa seringkali menjadi barometer tata kelola olahraga, dan kasus Milan menunjukkan bahwa ambisi bisnis bisa berbenturan dengan prestasi di lapangan. Ke depannya, pertanyaan besar adalah apakah Ibrahimovic, yang kini menjadi tokoh sentral di belakang layar, mampu membangun kembali struktur yang solid tanpa figur-figur yang dianggapnya 'menghalangi'? Ataukah ini awal dari era baru yang lebih stabil di San Siro?



