Mancini Bungkam soal Kembali ke Timnas Italia: 'Saya Akan Nonton Piala Dunia'
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini enggan berkomentar mengenai spekulasi dirinya kembali menukangi Italia, hanya menyebut akan menonton Piala Dunia 2026.
- Italia gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut setelah kalah adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina pada Maret lalu.
- FIGC akan menunjuk pelatih baru setelah pemilihan presiden pada 22 Juni 2026, dengan Mancini, Conte, Allegri, dan Ranieri sebagai kandidat utama.

Mantan pelatih tim nasional Italia, Roberto Mancini, memilih bungkam saat ditanya mengenai kemungkinan dirinya kembali menangani Gli Azzurri. Dalam sebuah acara di Roma, Rabu (14/5), ia hanya berujar singkat: “Saya akan menonton Piala Dunia.”
Pernyataan itu muncul di tengah spekulasi bahwa Mancini menjadi salah satu kandidat kuat untuk menggantikan posisi pelatih Italia yang lowong. Ia hadir dalam acara yang digelar Asosiasi Medis Roma, namun enggan memberi kejelasan soal masa depannya. Menurut laporan Lapresse, Mancini tidak memberikan perkembangan apa pun selain mengaku akan menyaksikan turnamen sepak bola terbesar musim panas ini.
Ketiadaan Italia di Piala Dunia 2026 menjadi pukulan berat. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Italia gagal lolos setelah kalah adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina pada babak play-off Maret lalu. Silvio Baldini untuk sementara akan memimpin tim senior Italia dalam laga uji coba Juni mendatang. Namun, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) baru akan menunjuk pelatih tetap setelah pemilihan presiden pada 22 Juni 2026.
Mancini bukan satu-satunya nama yang dikaitkan dengan kursi panas tersebut. Media Italia menyebut sejumlah pelatih top seperti Antonio Conte, Massimiliano Allegri, dan Claudio Ranieri juga masuk dalam daftar kandidat. Mancini sendiri memiliki rekam jejak mentereng bersama Italia: ia sukses membawa pulang trofi Euro 2020, namun gagal meloloskan Italia ke Piala Dunia 2022. Ia tiba-tiba mengundurkan diri pada 2023 dan beberapa pekan kemudian menerima tawaran menangani tim nasional Arab Saudi—keputusan yang belakangan ia sesali.
Di sela acara, Mancini juga menyoroti pengaruh algoritma dan kecerdasan buatan (AI) dalam sepak bola. Menurutnya, teknologi itu sudah masuk ke dunia sepak bola, namun ia menekankan pentingnya keputusan berdasarkan pengamatan langsung. “Algoritma bisa salah dalam sepak bola,” ujarnya. Mancini juga yakin AI tidak akan mampu menggantikan pelatih manusia. “Saya rasa tidak; saya masih percaya aspek manusia yang utama,” pungkasnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan pada tantangan yang dihadapi tim-tim besar yang gagal lolos ke Piala Dunia. Indonesia sendiri tengah berjuang meningkatkan kualitas sepak bola nasional, dan kasus Italia bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi kepelatihan dan manajemen federasi. Keputusan FIGC pada akhir Juni nanti akan menjadi sorotan, khususnya apakah mereka akan kembali memercayakan tim pada Mancini atau memilih figur baru.
Pertanyaan besarnya: mampukah Italia bangkit dari keterpurukan dan kembali bersaing di panggung dunia? Atau justru krisis ini akan berlarut-larut seperti yang dialami beberapa dekade terakhir?



