FIFA Disidang Jaksa Agung AS: Tiket Piala Dunia 2026 Dituduh Dimanipulasi
Baca dalam 60 detik
- Jaksa Agung New York dan New Jersey resmi menyelidiki FIFA atas dugaan manipulasi harga tiket Piala Dunia 2026, termasuk penciptaan kelangkaan palsu dan kenaikan harga hingga 34%.
- Fans mengeluhkan lokasi kursi yang menyesatkan, dengan kategori 'depan' mahal yang baru dirilis setelah penjualan awal, serta harga tiket yang melampaui turnamen sebelumnya.
- Investigasi ini berpotensi memicu tuntutan hukum dan denda, serta menjadi preseden bagi penyelenggaraan event global di AS, termasuk implikasi bagi penggemar Indonesia yang berencana hadir.

FIFA, induk organisasi sepak bola dunia, resmi menjadi sasaran penyelidikan resmi oleh jaksa agung New York dan New Jersey atas tuduhan praktik penjualan tiket Piala Dunia 2026 yang dinilai merugikan konsumen. Langkah hukum ini memaksa FIFA untuk membuka data internal terkait harga tiket yang disebut-sebut melambung jauh dibanding turnamen sebelumnya.
Jennifer Davenport, Jaksa Agung New Jersey, dalam pengumuman bersama dengan rekannya dari New York, Letitia James, serta Komisioner Departemen Perlindungan Konsumen New York, Samuel AA Levine, menyebut proses pembelian tiket sebagai "rintangan kebingungan, kelangkaan palsu, dan harga yang mustahil". Davenport menegaskan akan ada "penyelidikan menyeluruh terhadap perilaku FIFA" dengan mengeluarkan panggilan resmi (subpoena) untuk menyerahkan dokumen terkait.
Penyelidikan ini menyoroti sejumlah praktik yang dianggap menyesatkan. Fans melaporkan bahwa lokasi kursi yang mereka beli tidak sesuai dengan yang diiklankan. FIFA juga dituduh menciptakan kategori tiket 'depan' yang lebih mahal setelah penjualan gelombang pertama, memaksa penggemar yang sudah membeli tiket standar untuk mengupgrade jika ingin duduk di posisi strategis. Lebih jauh, sistem harga variabel antar fase dinilai memungkinkan FIFA menaikkan harga untuk 90 dari 104 pertandingan dengan rata-rata kenaikan 34%.
Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya membela harga tiket dengan menyebutnya sebagai cerminan dari antusiasme publik yang "benar-benar gila". Namun, data menunjukkan bahwa hingga saat ini masih banyak tiket yang belum laku, mempertanyakan narasi permintaan yang melonjak. Langkah penyelidikan ini datang setelah Jaksa Agung California, Rob Bonta, sebelumnya mengirim surat keprihatinan serupa kepada FIFA.
Bagi penggemar Indonesia yang berencana menyaksikan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, kasus ini menjadi peringatan penting. Dengan harga tiket yang sudah tinggi, ditambah biaya transportasi dan akomodasi yang membengkak, potensi kerugian finansial akibat praktik manipulasi tiket menjadi ancaman nyata. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Kedutaan Besar di Washington perlu mencermati perkembangan ini untuk memberikan perlindungan bagi WNI yang akan bepergian.
Perseteruan antara penyelenggara lokal dan FIFA sebenarnya sudah berlangsung selama beberapa bulan. Gubernur New Jersey, Mikie Sherrill, sebelumnya mengkritik FIFA yang menolak mensubsidi transportasi, dan bersikeras bahwa pembayar pajak lokal tidak akan menanggung biaya tambahan. Kini, dengan investigasi resmi, tekanan terhadap FIFA semakin meningkat. Pertanyaan besarnya: apakah FIFA akan tunduk pada subpoena dan membuka data internalnya, atau justru memicu pertarungan hukum yang panjang?



