Nuno Espirito Santo Bertahan di West Ham: Misi Kembali ke Premier League Dimulai
Baca dalam 60 detik
- West Ham mempertahankan Nuno Espirito Santo sebagai manajer setelah degradasi ke Championship, dengan target promosi langsung.
- Klub memperkirakan kerugian pendapatan £200 juta, memaksa penjualan pemain bintang seperti Jarrod Bowen dan Mateus Fernandes.
- Manajemen berkomitmen memperbaiki hubungan dengan suporter, termasuk pemotongan harga tiket musiman hingga 30%.

Nuno Espirito Santo tetap memegang kendali di West Ham United setelah klub memutuskan untuk tidak memutus kontraknya pasca-degradasi ke Championship. Keputusan ini diumumkan melalui surat terbuka kepada suporter, Senin (5/5), sehari setelah The Hammers dipastikan turun kasta untuk pertama kalinya sejak 2012.
Manajemen klub menilai bahwa meskipun musim ini berakhir dengan kegagalan, performa tim dalam 17 pertandingan terakhir Premier League menunjukkan perbaikan signifikan. Dengan raihan 25 poin atau rata-rata 1,47 poin per laga, angka tersebut setara dengan peringkat ketujuh jika diterapkan sepanjang musim. Hal inilah yang menjadi alasan utama kepercayaan kepada pelatih asal Portugal itu.
Nuno sendiri bukanlah wajah baru di Championship. Pada 2018, ia sukses membawa Wolverhampton Wanderers promosi ke Premier League dengan gemilang—mengoleksi 99 poin dan merebut gelar juara. Pengalaman itu menjadi modal berharga yang diyakini bisa diulang di London Stadium.
Namun, tantangan berat sudah menanti. Skuad West Ham diperkirakan akan mengalami perombakan besar-besaran. Klub harus menjual beberapa pemain bintang untuk menyeimbangkan keuangan, termasuk kapten Jarrod Bowen dan gelandang Portugal Mateus Fernandes yang menjadi incaran banyak klub Premier League. Situasi ini kontras dengan pengalaman Nuno di Wolves, di mana ia diperkuat pemain seperti Ruben Neves dan Diogo Jota yang datang sebagai pinjaman.
Di luar persoalan teknis, manajemen West Ham juga bertekad memperbaiki hubungan yang retak dengan suporter. Sejak pindah dari Upton Park ke London Stadium pada 2016, banyak fans merasa kecewa karena janji untuk bersaing di papan atas Premier League dan tampil di Eropa tidak pernah terwujud. Ketua klub David Sullivan menjadi satu-satunya arsitek relokasi yang tersisa setelah David Gold meninggal pada 2023 dan Karren Brady mengundurkan diri bulan lalu.
Sebagai langkah awal rekonsiliasi, klub mengumumkan pemotongan harga tiket musiman hingga 30% untuk musim depan. "Kami berkomitmen mendengarkan masukan suporter dan mewujudkannya dalam tindakan nyata," tulis manajemen dalam pernyataan resmi.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah West Ham menjadi pengingat betapa pentingnya manajemen keuangan dan hubungan dengan basis penggemar dalam sepak bola modern. Klub-klub Indonesia yang tengah membangun identitas dan stadion baru bisa belajar dari pengalaman The Hammers: janji besar tanpa realisasi hanya akan menyisakan kekecewaan. Pertanyaan besarnya, mampukah Nuno mengulang sukses di Wolves dengan skuad yang kemungkinan besar akan kehilangan pilar-pilar utamanya?