Sunderland Incar Kondogbia untuk Gantikan Peran Xhaka di Eropa
Baca dalam 60 detik
- Sunderland dikabarkan mendekati kesepakatan dengan gelandang Marseille Geoffrey Kondogbia untuk memperkuat lini tengah.
- Kehadiran Kondogbia diharapkan menjadi rotasi ideal bagi Granit Xhaka yang berusia 33 tahun, terutama di kompetisi Eropa.
- Langkah ini krusial bagi Sunderland yang musim depan akan tampil di Liga Europa setelah finis ketujuh di Premier League.
Sunderland dipastikan akan tampil di Liga Europa musim depan setelah finis di posisi ketujuh Premier League musim 2025/26—sebuah pencapaian langka bagi tim yang baru promosi. Namun, tantangan ganda di domestik dan Eropa memaksa manajer Regis Le Bris untuk segera menambah kedalaman skuad, terutama di lini tengah. Klub asal Inggris timur laut itu kini dikabarkan tengah mendekati kesepakatan dengan Geoffrey Kondogbia, gelandang veteran Marseille yang dianggap sebagai solusi rotasi ideal bagi Granit Xhaka.
Menurut laporan Media Foot, Sunderland telah menjalin komunikasi intensif dengan pemain berusia 33 tahun asal Republik Afrika Tengah tersebut. Kondogbia, yang kontraknya di Marseille tersisa hingga 2027, disebut siap hengkang setelah hanya tampil sepuluh kali di Ligue 1 musim lalu. Meski menit bermainnya menurun, statistiknya tetap impresif: rata-rata 2,4 tekel dan intersepsi per laga, serta tingkat keberhasilan duel mencapai 58 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pemain yang pernah merumput di LaLiga, Serie A, dan Ligue 1 itu masih memiliki kemampuan untuk bersaing di level tertinggi.
Langkah Sunderland mendatangkan Kondogbia bukan tanpa alasan. Granit Xhaka, yang didatangkan dari Bayer Leverkusen seharga 13 juta poundsterling musim panas lalu, menjadi motor permainan tim dengan 32 starter dan kontribusi satu gol serta enam assist. Namun, usianya yang sudah 33 tahun membuat Le Bris tidak bisa mengandalkannya di setiap pertandingan—terutama dengan jadwal padat yang menanti. “Kami butuh pemain berpengalaman yang bisa menjadi opsi rotasi, terutama di kompetisi Eropa,” demikian kira-kira pertimbangan sang manajer.
Jika transfer ini terwujud, Sunderland akan memiliki dua gelandang senior yang bisa saling menggantikan. Xhaka diplot sebagai andalan di Premier League, sementara Kondogbia diharapkan menjadi “Xhaka versi Eropa” yang mengisi laga-laga di Liga Europa dan Piala Domestik. Strategi ini mirip dengan yang diterapkan Wolverhampton Wanderers saat pertama kali lolos ke Eropa pada 2018/19—mereka juga mengandalkan pemain berpengalaman untuk menjaga konsistensi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah Sunderland ini menarik untuk dicermati. Klub-klub Inggris yang baru promosi sering kali kesulitan mempertahankan performa saat harus bermain di dua ajang sekaligus. Kehadiran pemain sekaliber Kondogbia—yang pernah memperkuat Atletico Madrid, Inter Milan, dan Valencia—bisa menjadi contoh bagaimana manajemen beban pemain menjadi kunci sukses di era modern. Apalagi, Sunderland juga disebut masih membutuhkan tambahan kreativitas di lini depan, yang menunjukkan bahwa bursa transfer mereka belum selesai.
Kesepakatan ini diperkirakan akan rampung dalam beberapa pekan ke depan, mengingat Marseille terbuka untuk menjual. Namun, satu pertanyaan masih menggantung: apakah Kondogbia mampu beradaptasi dengan cepat di Premier League, atau justru menjadi investasi yang hanya berguna di kompetisi Eropa? Sunderland tampaknya siap mengambil risiko demi mempertahankan momentum sejarah mereka.

