Tingkat Partisipasi TKA 2026 Tembus 97%, Kemendikdasmen Tegaskan Fokus pada Pemetaan Mutu
Baca dalam 60 detik
- Partisipasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 mencapai lebih dari 97%, menandakan meningkatnya budaya evaluasi pendidikan nasional.
- Kemendikdasmen menegaskan TKA bukan alat pelabelan, melainkan instrumen pemetaan capaian akademik untuk kebijakan presisi.
- Hasil TKA menunjukkan literasi bahasa Indonesia lebih unggul dibanding numerasi, mendorong penguatan penalaran logis di sekolah.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaporkan bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 mencatat partisipasi nasional di atas 97 persen dari total sasaran peserta didik. Capaian ini dinilai sebagai indikator menguatnya kesadaran kolektif terhadap pentingnya evaluasi pendidikan berbasis data di Indonesia. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyampaikan hal tersebut dalam taklimat media di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Menurut Toni, tingginya angka partisipasi tidak terlepas dari dukungan aktif pemerintah daerah, satuan pendidikan, guru, orang tua, dan peserta didik. Ia menekankan bahwa TKA dirancang sebagai alat pemetaan, bukan untuk memberikan label atau peringkat pada daerah, sekolah, maupun individu. โTKA ini bukan untuk melabeli daerah, sekolah, ataupun peserta didik, tetapi untuk memetakan capaian akademik secara lebih komprehensif,โ ujarnya.
Data TKA yang terkumpul mencakup level nasional hingga kategori kompetensi peserta didik, memberikan gambaran detail tentang kekuatan dan kelemahan sistem pendidikan. Toni menjelaskan bahwa informasi ini menjadi fondasi bagi penyusunan kebijakan yang lebih presisi. โData capaian akademik yang terpetakan hingga tingkat provinsi, kabupaten, kota, satuan pendidikan, bahkan kategori kompetensi peserta didik, akan menjadi dasar yang sangat penting dalam penyusunan kebijakan pendidikan yang lebih teliti dan presisi,โ katanya.
Pendekatan berbasis data ini memungkinkan pemerintah mengidentifikasi daerah yang membutuhkan intervensi intensif serta daerah yang berhasil mencapai hasil baik untuk dijadikan model praktik pembelajaran. Dengan demikian, distribusi layanan pendidikan dapat lebih adil dan efektif. Toni menambahkan bahwa hasil TKA 2026 mengonfirmasi perlunya penguatan kemampuan berpikir logis, penalaran matematis, dan pemecahan masalah dalam pembelajaran sehari-hari, sejalan dengan temuan bahwa literasi bahasa Indonesia relatif lebih unggul dibanding numerasi.
Dari segi penyelenggaraan, TKA tahun ini dinilai lebih siap, tertib, dan adaptif terhadap tantangan teknis. Kemendikdasmen menerapkan mekanisme pengawasan dan verifikasi ketat, termasuk penyediaan jadwal susulan bagi peserta yang mengalami kendala. โPelaksanaan TKA tahun ini memperlihatkan bahwa sistem asesmen nasional itu semakin siap, semakin tertib, dan juga semakin adaptif terhadap tantangan di lapangan,โ ujar Toni.
Ke depan, hasil TKA diharapkan tidak hanya menjadi angka statistik, melainkan menjadi pijakan untuk perbaikan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Dengan data yang komprehensif, pemerintah dapat merancang intervensi yang lebih tepat sasaran, sehingga setiap peserta didik mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.



