Jannik Sinner Ukir Sejarah: Juara Italian Open 2025, Hentikan Puasa 50 Tahun Italia
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner menaklukkan Casper Ruud 6-4, 6-4 di final Italian Open 2025, mengakhiri penantian 50 tahun bagi petenis putra Italia untuk juara di kandang sendiri.
- Kemenangan ini melengkapi koleksi sembilan gelar Masters 1000 Sinner, menjadikannya petenis kedua setelah Novak Djokovic yang meraih 'Golden Masters'.
- Dengan rekor 17-0 di atas tanah liat musim ini dan rentetan 29 kemenangan beruntun, Sinner memasuki Prancis Terbuka sebagai favorit kuat.

Jannik Sinner sukses menorehkan namanya dalam buku sejarah tenis Italia setelah mengalahkan Casper Ruud pada partai final Italian Open 2025, Minggu (18/5) waktu setempat. Petenis peringkat satu dunia itu menang dua set langsung 6-4, 6-4 di lapangan tanah liat Foro Italico, Roma, sekaligus memutus puasa gelar selama setengah abad bagi petenis putra tuan rumah.
Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Italia sejak Adriano Panatta berjaya pada 1976. Sinner pun mengaku bangga bisa mengakhiri penantian panjang tersebut. "Luar biasa. Sudah lama sekali sejak petenis Italia terakhir menangโ50 tahun. Saya senang salah satu dari kami bisa memanfaatkan periode emas tenis Italia ini," ujar Sinner usai pertandingan.
Lebih dari sekadar gelar kandang, trofi ini juga melengkapi koleksi sembilan turnamen Masters 1000 bagi Sinner. Ia menjadi petenis kedua dalam sejarah yang berhasil meraih seluruh gelar Masters 1000 setelah Novak Djokovic. Djokovic sendiri menyelesaikan 'Golden Masters' pada 2018 di usia 31 tahun, sementara Sinner baru berusia 24 tahun.
Dominasi Sinner di permukaan tanah liat musim ini terlihat nyata. Sebelum Roma, ia telah merebut gelar Masters 1000 Monte-Carlo dan Madrid. Dengan performa ini, ia dianggap sebagai kandidat utama untuk merebut gelar Prancis Terbuka yang akan dimulai pekan depan. Absennya Carlos Alcaraz karena cedera pergelangan tangan kanan semakin membuka peluang bagi Sinner untuk bersinar di Roland Garros.
Pertandingan final berlangsung ketat, namun Sinner mampu mengendalikan ritme permainan. Ia hanya membutuhkan satu championship point untuk mengunci kemenangan, dengan sebuah forehand inside-out yang mendarat tepat di garis. Perayaan kemenangannya pun tenang, hanya senyum lebar dan lambaian tangan kepada penonton yang hadir, termasuk Panatta yang duduk di barisan depan.
Pencapaian Sinner tidak hanya mengukuhkan posisinya sebagai petenis nomor satu dunia, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan tenis Italia. Dengan usia yang masih muda dan konsistensi permainan yang terus meningkat, masa depannya di dunia tenis tampak sangat cerah. Perhatian kini tertuju pada Prancis Terbuka, di mana Sinner berpeluang menambah satu lagi mahkota bergengsi ke dalam koleksinya.



