French Open 2026: Boulter dan Jones Melaju ke Babak Kedua, Samuel Tersingkir
Baca dalam 60 detik
- Katie Boulter mengatasi perlawanan sengit Akasha Urhobo untuk melaju ke putaran kedua, di mana ia akan berhadapan dengan unggulan Anastasia Potapova.
- Petenis putri Inggris lainnya, Fran Jones, juga memastikan tempat di babak kedua setelah meraih kemenangan di hari yang sama.
- Kualifikan Toby Samuel harus mengakui keunggulan unggulan kedelapan Alex De Minaur, namun penampilannya di Paris tetap menjadi pencapaian besar.

Petenis putri Inggris, Katie Boulter, sukses melaju ke babak kedua Prancis Terbuka 2026 setelah menaklukkan remaja Amerika Serikat, Akasha Urhobo, dalam pertarungan tiga set yang menegangkan di Lapangan 8, Roland Garros, Senin (26/5) waktu setempat. Boulter bergabung dengan rekan senegaranya, Fran Jones, yang juga memastikan tempat di putaran kedua.
Boulter, yang kini menempati peringkat 71 dunia, menunjukkan peningkatan kepercayaan diri di permukaan tanah liat dalam beberapa musim terakhir. Ia tiba di Paris dengan modal performa menjanjikan, termasuk lolos ke perempat final WTA 250 di Rouen dan meraih kemenangan di nomor tunggal maupun ganda di Mutua Madrid Open. Petenis berusia 29 tahun ini berambisi untuk melampaui pencapaian terbaiknya di Roland Garros yang hanya sampai babak kedua, namun ia harus menghadapi tantangan berat dari Anastasia Potapova, petenis kelahiran Rusia yang kini mewakili Austria.
Sementara itu, juara bertahan empat kali Iga Swiatek melaju mulus ke babak kedua setelah mengalahkan wildcard Australia, Emerson Jones, dengan skor 6-1, 6-2 dalam waktu singkat. Swiatek, yang hanya kalah dua kali di Roland Garros dalam enam tahun terakhir, mengaku senang dengan penampilannya. "Saya sangat senang bisa bermain di lapangan ini; pertandingan pertama adalah untuk membiasakan diri dengan kondisi. Saya senang dengan cara saya bermain hari ini, secara taktis," ujarnya. Swiatek akan berhadapan dengan Sara Bejlek asal Ceko di babak selanjutnya.
Di sisi lain, petenis putri Ukraina unggulan ketujuh, Elina Svitolina, harus bekerja keras untuk mengatasi perlawanan Anna Bondar. Svitolina bangkit dari ketertinggalan untuk menang 3-6, 6-1, 7-6 (10-8). "Pertandingan pertama seperti ini membuat Anda langsung berada di jalur yang benar. Kekuatan mental yang membawa saya melewati garis finis, begitu juga kondisi fisik saya," kata Svitolina, yang kini telah memainkan empat pertandingan tiga set berturut-turut.
Namun, petualangan Toby Samuel di Paris harus berakhir lebih awal. Kualifikan asal Inggris itu harus mengakui keunggulan unggulan kedelapan asal Australia, Alex De Minaur, dengan skor 6-4, 6-4, 6-2. Meski kalah, Samuel menunjukkan perlawanan sengit di set kedua dengan sempat memimpin 2-0 setelah mematahkan servis De Minaur. Namun, keunggulannya dengan cepat sirna, dan De Minaur menutup pertandingan dengan lima game beruntun.
Samuel, yang tahun lalu berada di peringkat 1.000 besar, mengaku bahwa pengalaman ini membuktikan bahwa jarak antara dirinya dengan pemain papan atas tidak terlalu besar. "Beberapa bulan lalu saya tidak akan pernah berpikir bisa bermain melawan pemain seperti Alex De Minaur. Terutama tahun lalu, saya berada di luar 1.000. Saya jauh dari mereka, tapi ternyata jaraknya tidak sebesar yang saya kira, dan minggu ini benar-benar menunjukkan itu kepada saya," ujarnya. Samuel kini akan bersiap untuk musim rumput, dengan harapan mendapatkan wild card untuk Wimbledon.
Pertandingan lain yang menarik perhatian adalah kekalahan Stan Wawrinka, juara Prancis Terbuka 2015, yang harus mengakhiri penampilan terakhirnya di Roland Garros dengan kekalahan dari Jesper De Jong. Sementara itu, petenis muda Spanyol, Rafael Jodar, memulai langkahnya dengan kemenangan telak atas Aleksandar Kovacevic.
Isu lain yang mencuat adalah ketiadaan electronic line-calling (ELC) di Roland Garros, satu-satunya turnamen Grand Slam yang belum mengadopsi teknologi tersebut. Petenis Prancis, Pierre-Hugues Herbert, meluapkan kemarahannya kepada wasit setelah keputusan kontroversial dalam pertandingannya melawan Lorenzo Sonego. Anne Keothavong dan Tim Henman, dalam diskusi di TNT Sports, mengakui bahwa meskipun tradisi line judge di tanah liat memiliki nilai tersendiri, penggunaan ELC dinilai sebagai langkah maju yang lebih akurat.



