Jejak Karbon Piala Dunia 2026: Penggemar Inggris Berpotensi Hasilkan Emisi Setara Pemanas Rumah 19 Bulan
Baca dalam 60 detik
- Analisis BBC Sport mengungkap bahwa penggemar Inggris yang terbang ke seluruh pertandingan timnas di Piala Dunia 2026 dapat menghasilkan emisi karbon hingga 3,5 ton CO2 per orang, setara dengan konsumsi energi rumah tangga di Inggris selama 19 bulan.
- Format turnamen yang tersebar di tiga negara Amerika Utara dengan 48 tim memaksa perjalanan udara jarak jauh, menjadikan edisi ini sebagai yang paling boros karbon dalam sejarah Piala Dunia.
- FIFA mengklaim telah menerapkan model regional dan inisiatif hijau, namun para pegiat lingkungan menilai ekspansi turnamen justru bertentangan dengan komitmen iklim global.

Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko diproyeksikan menjadi turnamen dengan jejak karbon terbesar sepanjang sejarah. Analisis BBC Sport menunjukkan bahwa seorang penggemar timnas Inggris yang terbang dari London dan menyaksikan seluruh laga—dari fase grup hingga final—dapat menghasilkan emisi sekitar 3,5 ton CO2. Angka tersebut setara dengan pemanasan rata-rata rumah di Inggris selama 19 bulan atau produksi 34.000 kantong plastik.
FIFA memperkirakan lebih dari lima juta penggemar dari seluruh dunia akan hadir. Dengan format 48 tim dan lokasi pertandingan yang membentang dari pantai ke pantai, perjalanan udara menjadi moda transportasi utama. Seorang pendukung Inggris yang mengikuti tim dari laga perdana di Dallas (17 Juni) hingga final di New Jersey (19 Juli) harus menempuh jarak hampir dua pertiga keliling Bumi, atau setidaknya 14.698 mil jika tim juara grup, dan 15.385 mil jika runner-up grup.
Dr. Stuart Parkinson dari Scientists for Global Responsibility (SGR) menyebut temuan ini "sangat mengkhawatirkan". Ia membandingkan emisi satu penggemar Inggris (3,4 ton CO2) dengan dua hingga tiga kali lipat emisi tahunan rata-rata penduduk Haiti. "Kita tidak bisa lagi menoleransi emisi seperti ini. Ini tidak berkelanjutan bagi planet," tegasnya. SGR memperkirakan total jejak karbon Piala Dunia 2026 bisa mencapai sembilan juta ton CO2—hampir dua kali lipat rata-rata empat edisi sebelumnya.
FIFA, dalam pernyataan resminya, mengakui bahwa perjalanan udara merupakan kontributor signifikan terhadap jejak karbon dan menjadi tantangan terbesar penyelenggara. Mereka mengklaim telah menerapkan model regional untuk mengurangi ketergantungan pada penerbangan jarak jauh, serta inisiatif efisiensi energi, konservasi air, transportasi umum, kendaraan listrik, daur ulang, dan penanaman pohon. Namun, Parkinson menilai keputusan memperbesar turnamen justru "merusak secara fundamental" komitmen terhadap perubahan iklim. "Mereka perlu mengecilkan turnamen, bukan memperbesarnya," ujarnya.
Perbandingan dengan edisi sebelumnya memperkuat kekhawatiran ini. Qatar 2022 menjadi turnamen paling kompak dengan stadion berpusat dan transportasi umum yang memadai. Brasil 2014 dan Rusia 2018 memang melibatkan jarak tempuh besar, namun dengan jumlah tim lebih sedikit (32). Sementara itu, Piala Dunia 2030 akan digelar di tiga benua (Maroko, Portugal, Spanyol, plus tiga laga di Amerika Selatan), dan 2034 di Arab Saudi dengan 11 stadion baru. Pola ekspansi geografis ini, menurut para pengamat, akan terus meningkatkan beban lingkungan.
Paul Goodwin, salah satu pendiri Asosiasi Pendukung Sepak Bola Skotlandia, mengakui bahwa kesadaran penggemar terhadap dampak lingkungan semakin tumbuh. "Sebagai penggemar Skotlandia, Anda benar-benar ingin berada di sana. Anda tidak bisa tidak bepergian. Banyak penggemar merasa konflik batin," katanya. Asosiasi tersebut tengah menyusun program edukasi keberlanjutan bagi para pendukung. Ke depannya, keseimbangan antara semangat olahraga dan tanggung jawab lingkungan menjadi isu yang tak bisa diabaikan oleh FIFA maupun para penggemar.

