Inggris Hanya Kirim Tiga Polisi untuk 10.000 Suporter di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Polisi Inggris hanya mengerahkan tiga petugas untuk mendampingi lebih dari 10.000 suporter di Piala Dunia 2026, menyusul penolakan pendanaan dari otoritas AS.
- Jumlah ini menurun drastis dibandingkan 40 petugas yang dikirim saat Euro 2024 di Jerman, yang sepenuhnya didanai tuan rumah.
- Keterbatasan personel dinilai berpotensi menghambat upaya mitigasi risiko dan komunikasi dengan suporter serta aparat setempat.

Kepolisian Inggris hanya akan mengerahkan tiga orang petugas untuk mengawasi puluhan ribu suporter Timnas Inggris yang diperkirakan memadati stadion-stadion di Amerika Serikat pada Piala Dunia 2026. Keputusan ini diambil setelah pihak Amerika menolak memberikan pendanaan untuk operasi pengamanan tambahan yang biasa dilakukan oleh Inggris di turnamen besar.
Dalam konferensi pers pra-turnamen, Kepala Kepolisian Sepak Bola Nasional Inggris, Mark Roberts, mengungkapkan bahwa jumlah petugas yang dikirim jauh di bawah angka ideal. Pada Euro 2024 di Jerman, Inggris mengirimkan 40 petugas yang seluruh biayanya ditanggung oleh tuan rumah. Namun, untuk Piala Dunia 2026, Amerika Serikat tidak tertarik dengan konsep delegasi bergerak (mobile delegations) yang biasa digunakan Inggris untuk memantau pergerakan suporter.
Roberts menegaskan bahwa dengan hanya tiga petugas, kemampuan untuk memantau suporter di berbagai titik—seperti pusat kota, stadion, dan hub transportasi—menjadi sangat terbatas. “Kami tidak bisa berada di dua tempat sekaligus,” ujarnya. Ia juga menyoroti perbedaan budaya sepak bola di AS yang belum terbiasa dengan kerumunan suporter Eropa. “Ada 18.000 lembaga penegak hukum di AS, masing-masing dengan pengalaman berbeda dalam menangani massa,” tambah Roberts.
Sementara itu, Juru Bicara Satuan Tugas Piala Dunia Gedung Putih menyatakan bahwa pihak AS akan memimpin sendiri urusan keamanan untuk memastikan lingkungan teraman di stadion dan fanfest. Namun, mereka tetap mendorong kota-kota tuan rumah untuk memanfaatkan keahlian Inggris dalam keamanan acara sepak bola internasional.
Di sisi lain, Thomas Concannon, pemimpin kelompok suporter Football Supporters' Association, mengaku kecewa dengan jumlah tiket yang terjual. Dari 12.000 hingga 15.000 suporter per laga, hanya 3.000–4.000 yang berasal dari klub suporter resmi. “Kami pikir akan lebih banyak, tapi biaya yang sangat tinggi membuat banyak orang tidak mampu,” katanya.
Roberts juga mengkritik keputusan pemerintah Inggris yang melonggarkan aturan perizinan pub selama turnamen. Menurutnya, kebijakan yang mengizinkan pub buka lebih larut untuk pertandingan babak gugur justru meningkatkan risiko. “Kami sudah memberikan saran, tapi tidak diindahkan. Alkohol selalu menjadi faktor dalam perilaku buruk dan peningkatan laporan kekerasan dalam rumah tangga,” tegas Roberts.
Dengan segala keterbatasan ini, Inggris tetap berharap suporter dapat menunjukkan perilaku terbaik seperti turnamen-turnamen sebelumnya. Namun, minimnya petugas di lapangan menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keamanan dan kelancaran acara.



