Protes Alokasi Hadiah Grand Slam: Sabalenka dan Petenis Top Batasi Wawancara di Prancis Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Aryna Sabalenka bersama 19 petenis papan atas lainnya memangkas durasi konferensi pers menjadi 15 menit sebagai bentuk protes terhadap alokasi pendapatan Grand Slam yang dinilai tidak adil.
- Para pemain menyoroti bahwa porsi hadiah yang mereka terima hanya 15,5% dari total pendapatan turnamen, lebih rendah 7% dibandingkan alokasi di ajang ATP dan WTA reguler.
- Langkah ini dianggap sebagai aksi kolektif pertama yang nyata, dengan potensi memicu perubahan kebijakan di turnamen Grand Slam lainnya.

Prancis Terbuka 2025 diwarnai aksi protes para petenis top dunia. Aryna Sabalenka, petenis nomor satu dunia asal Belarusia, secara simbolis memotong sesi konferensi persnya pada Jumat (30/5) setelah hanya berlangsung 15 menit. Langkah ini merupakan bagian dari gerakan kolektif yang melibatkan sekitar 20 pemain papan atas, termasuk Jannik Sinner dan Coco Gauff, yang menuntut peningkatan persentase pendapatan yang dialokasikan untuk pemain di turnamen Grand Slam.
Para pemain menilai bahwa alokasi hadiah saat ini tidak proporsional. Menurut perhitungan mereka, pemain hanya menerima sekitar 15,5 persen dari total pendapatan turnamen. Angka ini tujuh persen lebih rendah dibandingkan dengan alokasi yang diberikan pada ajang ATP dan WTA Tour reguler. Durasi 15 menit yang dipilih dalam aksi protes ini menjadi simbol dari persentase yang mereka perjuangkan.
Sabalenka, yang mendapat pujian dari Novak Djokovic atas kepemimpinannya dalam isu ini, menegaskan bahwa aksinya bukan untuk kepentingan pribadi. "Ini bukan tentang saya. Ini tentang pemain peringkat bawah yang menderita. Sebagai petenis nomor satu dunia, saya merasa harus berdiri dan berjuang untuk mereka," ujarnya. Ia menambahkan bahwa para pemain ingin menyampaikan pesan dengan cara yang penuh hormat, terutama kepada media. "Kami hanya ingin memperjuangkan persentase yang adil. 15 menit lebih baik daripada nol," tegasnya.
Coco Gauff, yang juga mengakhiri konferensi persnya lebih awal, menyebut aksi ini sebagai langkah nyata pertama yang dilakukan para pemain secara kolektif. "Ini menunjukkan bahwa kami semua sepakat dan mengambil tindakan nyata, bukan sekadar diskusi," kata Gauff. Sementara itu, Jannik Sinner menekankan bahwa masalah ini berkaitan dengan rasa hormat. "Menunggu lebih dari setahun hanya untuk mendapat tanggapan kecil itu tidak menyenangkan. Mari kita lihat bagaimana Grand Slam lainnya bereaksi," ujarnya.
Namun, tidak semua pemain sepakat dengan ancaman boikot yang sempat disinggung Sabalenka. Taylor Fritz, misalnya, mengingatkan agar para pemain tidak membuat ancaman besar tanpa kesiapan penuh. "Saya pikir itu adalah diskusi yang perlu kami lakukan, dan kami harus melihat potensi dampaknya," katanya. Andrey Rublev menambahkan bahwa isu ini lebih tentang kebersamaan dan upaya mengembangkan olahraga tenis.
Pihak penyelenggara Roland Garros menyatakan "penyesalan" atas situasi ini dan berkomitmen untuk bekerja sama dengan para pemain. Sebuah pertemuan telah dijadwalkan pada hari Jumat untuk membahas tuntutan mereka. Aksi protes ini diperkirakan akan terus berlanjut selama turnamen berlangsung, dan bisa menjadi preseden bagi Grand Slam lainnya untuk meninjau ulang kebijakan alokasi pendapatan mereka.



