Haaland Peringatkan Premier League: 'Kami Marah, Api Ini Akan Jadi Bahan Bakar Musim Depan'
Baca dalam 60 detik
- Kekecewaan jadi motivasi: Erling Haaland mendesak Manchester City menggunakan rasa sakit kehilangan gelar Premier League ke Arsenal sebagai "bahan bakar" untuk musim depan, setelah hasil imbang 1-1 melawan Bournemouth secara matematis mengubur harapan City.
- Dua tahun tanpa gelar liga: Haaland mengakui bahwa "dua tahun terasa seperti selamanya" bagi klub sekelas City, dan menyerukan seluruh tim merasakan "api di dalam perut" untuk kembali merebut mahkota.
- Sukses terbatas di domestik: City tetap memenangkan Piala FA dan Carabao Cup musim ini—meningkat dari musim lalu yang tanpa trofi—namun Haaland menegaskan bahwa dua trofi tersebut tidak cukup jika bukan Premier League.

BOURNEMOUTH, INGGRIS — Kegagalan Manchester City mempertahankan gelar Premier League untuk musim kedua berturut-turut menyisakan luka yang mendalam. Hasil imbang 1-1 melawan Bournemouth di Vitality Stadium pada pekan ke-37 secara matematis mengakhiri pengejaran City terhadap Arsenal yang memuncaki klasemen dengan satu laga tersisa. Namun, bagi Erling Haaland, ini bukan akhir—melainkan awal dari kebangkitan. "Kami harus marah, kami harus merasakan api di dalam perut karena ini tidak cukup baik," tegas penyerang Norwegia itu usai pertandingan.
'Dua Tahun Terasa Seperti Selamanya'
Haaland, yang mencetak gol penyama kedudukan untuk memberi harapan singkat bagi City, tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. "Pada akhirnya, setiap pertandingan di Premier League itu sulit. Kami sudah mencoba, tetapi tidak cukup," ujarnya kepada City Studios. "Seluruh klub harus menggunakan ini sebagai motivasi sekarang. Ini sudah berjalan dua tahun, rasanya seperti selamanya. Kami akan melakukan segalanya, siapa pun yang akan berada di sini musim depan, untuk memenangkan liga." Haaland juga mengakui bahwa City masih mengalami "mabuk" usai final Piala FA. Empat hari sebelumnya, City sukses mengalahkan Chelsea di final Wembley untuk merebut trofi tersebut—ditambah gelar Carabao Cup yang sudah diamankan lebih awal. "Tidak pernah mudah datang ke sini, terutama setelah final melawan tim yang sangat bagus. Final selalu lebih emosional, lebih sulit karena Anda secara otomatis memberikan lebih banyak energi. Jadwalnya berat. Tidak ada alasan, tetapi tidak mudah datang ke Bournemouth setelah bermain di Wembley."
Meskipun gagal meraih Premier League, Haaland tetap menjadi kandidat kuat untuk meraih Golden Boot ketiganya dalam empat musim. Dengan 27 gol, ia unggul jauh dari pesaing terdekatnya, Igor Thiago dari Brentford yang baru mengoleksi 22 gol (delapan di antaranya dari titik penalti). Dengan satu laga tersisa, hampir mustahil Thiago dapat mengejar ketertinggalan tersebut. Haaland menutup evaluasi musim City dengan nada positif namun tetap ambisius: "Semuanya relatif; ini lebih baik dari musim lalu. Saya merasa kami masih bisa berusaha sedikit lebih keras di liga, tetapi semuanya sudah berakhir sekarang. Kami memenangkan dua trofi, itu penting, tetapi kami juga menginginkan Premier League."
📊 STATISTIK HAALAND 2025/26
Gol Premier League: 27
Golden Boot: Hampir pasti (ke-3 dalam 4 musim)
Trofi musim ini: Piala FA, Carabao Cup
Pesaing terdekat: Igor Thiago (Brentford, 22 gol)
Selisih poin dengan Arsenal: Tidak dapat dikejar (1 laga tersisa)
Dari Final Wembley ke Kekecewaan Bournemouth
City sebenarnya datang ke Bournemouth dengan beban ganda: selain harus menang untuk memperpanjang peluang gelar, mereka juga harus mengatasi kelelahan mental dan fisik setelah pertandingan final Piala FA yang menguras emosi. Haaland mengakui bahwa faktor tersebut berkontribusi terhadap performa tim yang tidak maksimal. Namun, ia dengan tegas menolak menggunakan itu sebagai alasan. Meskipun demikian, pernyataan Haaland yang paling mengena adalah seruannya untuk "api di dalam perut." Setelah mendominasi Premier League selama bertahun-tahun di bawah Pep Guardiola, City kini menghadapi kenyataan pahit: dua musim berturut-turut tanpa gelar liga. Bagi klub dengan sumber daya dan ambisi sebesar City, ini adalah periode yang tidak dapat diterima. Arsenal di bawah Mikel Arteta telah menunjukkan konsistensi luar biasa, sementara Liverpool, Chelsea, dan Manchester United juga terus membangun kekuatan mereka. Persaingan di puncak klasemen semakin ketat, dan City tidak bisa lagi mengandalkan superioritas tunggal seperti di era 2017-2023.
Prospek ke Depan: Akankah City Bangkit atau Justru Tergelincir?
Ke depan, pertanyaan besar yang harus dijawab City adalah apakah mereka dapat memanfaatkan kekecewaan ini sebagai katalis kebangkitan—atau justru memasuki fase penurunan setelah era dominasi Guardiola. Haaland tampaknya bertekad untuk memastikan skenario kedua tidak terjadi. Dengan 27 gol di musim yang "gagal" sekalipun, ia telah membuktikan bahwa ia tetap menjadi mesin gol paling produktif di liga. Namun, sepak bola adalah olahraga tim; tanpa dukungan lini tengah yang kreatif dan pertahanan yang solid, produktivitas Haaland saja tidak cukup untuk mengangkat trofi. Musim panas ini, direktur sepak bola Txiki Begiristain harus bergerak cepat untuk merekrut gelandang kreatif pengganti Kevin De Bruyne yang semakin rentan cedera, serta bek tengah yang dapat menjadi jangka panjang partner Ruben Dias. Bagi para penggemar City, pernyataan Haaland adalah angin segar—seorang pemimpin yang tidak menerima mediokritas dan siap memikul beban untuk membawa klub kembali ke puncak. Namun, kata-kata saja tidak cukup. Musim depan akan menjadi ujian apakah "api di dalam perut" itu benar-benar menyala atau hanya sekadar retorika belaka.
"We should be angry, we should feel a fire inside our belly because it’s not good enough. It’s gone two years now, it feels like forever. We’re going to do everything we can, everyone that will be here next season, to win the league." — Erling Haaland, penyerang Manchester City.



