Manusia Alami Dua Lonjakan Penuaan Drastis di Usia 44 dan 60 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Lompatan tiba-tiba: Studi terhadap 108 partisipan dewasa mengungkap bahwa penuaan tidak terjadi secara linear, melainkan melonjak tajam pada dua fase kritis: pertengahan 40-an (sekitar 44 tahun) dan awal 60-an (sekitar 60 tahun).
- Perubahan molekuler luas: Lebih dari 80 persen dari 135.239 fitur biologis yang diteliti menunjukkan perubahan signifikan pada salah satu atau kedua fase tersebut—mencakup metabolisme lipid, kafein, alkohol, fungsi jantung, kulit, otot, serta regulasi imun dan ginjal.
- Bukan hanya menopause: Meskipun fase pertama bertepatan dengan masa perimenopause pada wanita, peneliti menemukan bahwa pria juga mengalami perubahan molekuler serupa di usia yang sama—menunjukkan adanya faktor lain yang lebih dominan.

STANFORD, KALIFORNIA — Bangun tidur suatu pagi, bercermin, dan merasa bahwa penuaan terjadi secara tiba-tiba bukanlah sekadar perasaan subjektif. Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2024 oleh para peneliti dari Stanford University dan Nanyang Technological University mengungkap bahwa tubuh manusia mengalami dua lonjakan percepatan penuaan molekuler yang dramatis: pertama pada pertengahan usia 40-an (rata-rata 44 tahun) dan kedua pada awal 60-an (rata-rata 60 tahun). "Kami tidak hanya berubah secara bertahap seiring waktu; ada beberapa perubahan yang benar-benar dramatis," jelas ahli genetika Michael Snyder dari Stanford University saat penelitian ini dirilis.
Metodologi: Melacak 135.239 Fitur Biologis Selama Bertahun-tahun
Tim peneliti melacak 108 partisipan dewasa berusia 25 hingga 70 tahun yang menyumbangkan sampel biologis setiap beberapa bulan selama beberapa tahun. Secara total, para peneliti mengumpulkan dan menganalisis 135.239 fitur biologis yang mencakup RNA, protein, lipid, serta takson mikrobioma dari usus, kulit, hidung, dan mulut. Setiap partisipan menyumbangkan rata-rata 47 sampel selama 626 hari, dengan partisipan paling lama memberikan 367 sampel. Kekayaan data ini menghasilkan lebih dari 246 miliar titik data, yang kemudian diproses untuk menemukan pola perubahan non-linear—sesuatu yang sebelumnya juga telah diamati pada studi hewan seperti tikus, lalat buah, dan ikan zebra.
Hasilnya mencengangkan: sekitar 81 persen dari semua molekul yang diteliti menunjukkan perubahan signifikan pada salah satu atau kedua fase lonjakan tersebut. Fase pertengahan 40-an didominasi oleh perubahan pada molekul yang terkait dengan metabolisme lipid (lemak), kafein, dan alkohol, serta penyakit kardiovaskular, disfungsi kulit dan otot. Sementara itu, fase awal 60-an menunjukkan perubahan pada metabolisme karbohidrat dan kafein, penyakit kardiovaskular, kulit dan otot, regulasi imun, serta fungsi ginjal.
📊 DATA KUNCI STUDI
Jumlah partisipan: 108 orang (usia 25-70 tahun)
Fitur biologis dianalisis: 135.239
Titik data: >246 miliar
Periode sampling: 626 hari (rata-rata)
Lonjakan penuaan: Usia 44 dan 60 tahun
Menyingkirkan Mitos Menopause sebagai Penyebab Tunggal
Salah satu temuan paling signifikan dari studi ini adalah bahwa perubahan drastis di usia pertengahan 40-an tidak hanya terjadi pada wanita yang memasuki masa perimenopause atau menopause, tetapi juga pada pria di usia yang sama. Peneliti utama Xiaotao Shen, yang kini berada di Nanyang Technological University, Singapura, menjelaskan: "Ini menunjukkan bahwa meskipun menopause atau perimenopause dapat berkontribusi terhadap perubahan yang diamati pada wanita di pertengahan usia 40-an, kemungkinan ada faktor lain yang lebih signifikan yang mempengaruhi perubahan ini pada pria dan wanita. Mengidentifikasi dan mempelajari faktor-faktor ini harus menjadi prioritas untuk penelitian di masa depan." Studi-studi sebelumnya memang telah menemukan perubahan non-linear dalam kelimpahan molekuler yang terkait dengan penuaan pada tikus dan manusia, serta menunjukkan proses penuaan bertahap pada lalat buah, tikus, dan ikan zebra. Namun, penelitian inilah yang pertama kali secara komprehensif memetakan kedua lonjakan ini pada populasi manusia dengan detail molekuler setingkat itu.
Prospek ke Depan: Ukuran Sampel Kecil, Implikasi Besar
Para peneliti sendiri mengakui bahwa ukuran sampel penelitian ini relatif kecil (108 orang) dan terbatas pada kelompok usia 25 hingga 70 tahun, sehingga generalisasi ke populasi yang lebih luas masih memerlukan studi lanjutan. Namun, temuan ini membuka pintu bagi pendekatan baru dalam geriatri dan pengobatan pencegahan. Jika penuaan memang terjadi dalam lonjakan diskrit daripada proses bertahap, maka intervensi medis dapat diarahkan secara lebih presisi pada periode-periode kritis tersebut. Misalnya, skrining penyakit kardiovaskular yang lebih intensif pada usia 44 dan 60 tahun, atau program latihan fisik yang disesuaikan dengan perubahan metabolisme otot yang terjadi pada fase-fase ini. Bagi investor di sektor kesehatan dan bioteknologi, temuan ini menyoroti peluang untuk mengembangkan terapi yang menargetkan mekanisme molekuler di balik lonjakan penuaan ini—termasuk suplemen metabolik, terapi hormon alternatif, serta alat diagnostik untuk memprediksi kecepatan penuaan individu. Penelitian di masa depan perlu memperdalam fenomena ini dalam skala yang lebih luas, mencakup rentang usia yang lebih ekstrem (di atas 70 tahun), serta mengeksplorasi apakah faktor gaya hidup (diet, olahraga, stres) dapat memodulasi waktu atau intensitas lonjakan penuaan tersebut. Seperti yang dikatakan Snyder, "Ternyata pertengahan 40-an adalah masa perubahan dramatis, begitu pula awal 60-an. Dan itu benar tidak peduli kelas molekul apa yang Anda lihat."
"We're not just changing gradually over time; there are some really dramatic changes. It turns out the mid-40s is a time of dramatic change, as is the early 60s. And that's true no matter what class of molecules you look at." — Michael Snyder, ahli genetika, Stanford University.



