Presiden Prabowo Targetkan Zero Impor BBM dalam Tiga Tahun
Baca dalam 60 detik
- Transformasi Energi: Indonesia memproyeksikan penghentian total impor bahan bakar minyak melalui strategi elektrifikasi masif dan optimalisasi sumber daya domestik.
- Efisiensi Fiskal: Penonaktifan 13 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ditargetkan mampu mereduksi beban impor nasional hingga 20 persen atau setara 200 ribu barel per hari.
- Kedaulatan Industri: Penguatan ekosistem kendaraan listrik (EV) dan peningkatan TKDN hingga 80% menjadi pilar utama hilirisasi teknologi otomotif nasional.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara tegas menetapkan sasaran strategis bagi kedaulatan energi nasional dengan menargetkan penghentian seluruh aktivitas impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
Dalam pidatonya saat meresmikan fasilitas perakitan kendaraan listrik komersial di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (9/4), Kepala Negara menyoroti pentingnya reposisi kebijakan energi dari ketergantungan fosil menuju swasembada yang berkelanjutan. Target ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah peta jalan teknis yang mengandalkan program elektrifikasi 100 gigawatt. Strategi ini dirancang untuk menggantikan konsumsi hidrokarbon yang selama ini membebani neraca perdagangan nasional melalui impor yang mencapai satu juta barel per hari.
Salah satu instrumen utama dalam kebijakan ini adalah penghentian operasional 13 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PT PLN (Persero). Langkah ini dinilai strategis karena mampu memangkas konsumsi solar nasional secara signifikan. Dengan mengalihkan beban energi dari diesel ke sistem kelistrikan terintegrasi, pemerintah memproyeksikan penghematan devisa yang substansial, sekaligus menurunkan emisi karbon di sektor ketenagalistrikan sesuai dengan komitmen transisi energi bersih.
- Target Swasembada: Zero impor BBM dalam periode 24-36 bulan.
- Reduksi Konsumsi: Penghematan 200.000 barel solar per hari melalui penutupan 13 PLTD.
- Kapasitas Produksi EV: Pabrik baru di Magelang mampu memproduksi hingga 10.000 unit bus listrik per tahun.
- Optimasi Sawit: Konversi kelapa sawit dan minyak jelantah (UCO) menjadi bio-avtur sebagai substitusi bahan bakar penerbangan.
Selain pembenahan di sektor hulu pembangkit, pemerintah secara simultan memacu hilirisasi industri otomotif. Peresmian fasilitas produksi bus listrik dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ditargetkan mencapai 80 persen menunjukkan keseriusan dalam membangun ekosistem transportasi publik yang bebas emisi. Investasi besar-besaran juga dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur pengolahan (refinery) guna memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam rantai pasok energi hijau global.
| Indikator Energi | Kondisi Saat Ini | Target (2028-2029) |
|---|---|---|
| Volume Impor BBM | ยฑ 1 Juta Barel/Hari | 0 Barel (Net-Zero Import) |
| Ketergantungan Solar (PLTD) | Penggunaan Masif di 13 Titik | Pengalihan Total ke Elektrifikasi |
| TKDN Kendaraan Listrik | Tahap Pengembangan | Minimum 80 Persen |
| Pemanfaatan Bio-Energi | Eksperimental/Terbatas | Produksi Massal Avtur Berbasis Kelapa Sawit |
Menatap masa depan, keberhasilan target ambisius ini akan sangat bergantung pada sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan kecepatan pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan (EBT). Dengan mengintegrasikan kekuatan sektor perkebunan kelapa sawit sebagai bahan baku biofuel dan percepatan adopsi kendaraan listrik, Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk mengubah struktur ekonomi dari berbasis konsumsi impor menjadi berbasis produksi mandiri. Fokus pada kemandirian ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan nasional di tengah volatilitas harga komoditas global.



