Artikel The Jakarta Post menggarisbawahi ironi tajam dalam arsitektur kebijakan ekonomi kita saat ini. Ketika negara-negara lain melakukan intervensi pasar besar-besaran untuk meredam guncangan inflasi energi akibat krisis Timur Tengah, para teknokrat di Jakarta memilih strategi "diam itu emas". Pendekatan minimalis ini pada awalnya dirancang untuk mencegah kepanikan pasar domestik, namun di mata investor asing, hal ini justru dipersepsikan sebagai bentuk pengabaian terhadap risiko.
Penurunan outlook oleh Fitch dan Moody's adalah alarm nyata bahwa pasar meragukan kedisiplinan fiskal kita. Skema pelonggaran atau "berbagi beban" antara bank sentral dan pemerintah di saat krisis belum dideklarasikan secara resmi menimbulkan tanda tanya besar mengenai independensi otoritas moneter. Keengganan pemerintah untuk merespons secara reaktif berisiko memicu gelombang capital outflow jika bantalan fiskal ternyata jebol lebih cepat dari perkiraan.
• Psikologi Kebijakan: Pemerintah menghindari narasi 'krisis' agar konsumsi domestik tidak anjlok, mengingat ekonomi kita sangat ditopang oleh daya beli masyarakat.
• Sorotan Asing: Lembaga rating global tidak menyukai 'kejutan' atau ketidakpastian. Kurangnya transparansi dalam penanganan defisit membuat sentimen investasi mendingin.
• Risiko Tersembunyi: Mengandalkan BI untuk terus menopang program prioritas pemerintah dapat melemahkan fundamental nilai tukar Rupiah dalam jangka menengah.
• Pesan Utama: "Bersikap tenang di tengah badai adalah keberanian; namun mengabaikan kompas navigasi saat kapal mulai oleng adalah sebuah kecerobohan fatal."




