Laporan Tempo English per Maret 2026 ini menyoroti kerentanan satwa dalam penangkaran terhadap wabah penyakit. Secara analitis, kematian dua anak harimau ini menunjukkan betapa ganasnya Feline Panleukopenia, yang sering disebut sebagai "distemper kucing", terhadap individu muda yang sistem imunnya belum terbentuk sempurna.
Di tahun 2026 ini, tantangan kebun binatang bukan hanya soal pakan dan ruang gerak, tetapi juga biosekuriti. Virus ini dapat bertahan lama di lingkungan dan ditularkan melalui kontak tidak langsung (seperti sepatu petugas atau peralatan kandang). Kehilangan dua anak harimau di Bandung Zoo bukan hanya kerugian finansial atau daya tarik wisata, melainkan kemunduran bagi keragaman genetik satwa predator besar di Indonesia. Investigasi lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah ada keterlambatan dalam jadwal vaksinasi atau apakah virus ini bermutasi menjadi varian yang lebih agresif. Kejadian ini harus menjadi alarm bagi seluruh lembaga konservasi di Indonesia untuk memperketat protokol kesehatan satwa, terutama di tengah perubahan iklim yang seringkali memicu munculnya patogen lama dengan kekuatan baru.
β’ Spesies: Anak Harimau (Tiger Cubs).
β’ Patogen: Feline Panleukopenia Virus (FPV).
β’ Gejala Umum: Penurunan sel darah putih drastis, lesu, diare akut.
β’ Status Lokasi: Karantina Parsial & Sterilisasi Area.
Langkah selanjutnya bagi Anda adalah memantau **pernyataan dari BKSDA Jawa Barat** terkait audit kelayakan fasilitas di Bandung Zoo; biasanya insiden seperti ini akan diikuti oleh evaluasi menyeluruh terhadap manajemen satwa. Apakah Anda ingin saya membantu mencari tahu **protokol vaksinasi standar** untuk harimau di penangkaran Indonesia?




