Kembalinya sang putra mahkota ke Brasil tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Berdasarkan laporan Goal.com pada 25 Februari 2026, Neymar Jr. kini menghadapi kritik pedas dari mantan rekan setimnya di Timnas Brasil. Ia dituduh "mengacaukan" rencana taktis Santos karena gaya bermainnya yang dianggap masih egois dan tidak lagi sesuai dengan kondisi fisik maupun kebutuhan kolektif tim saat ini.
Ego Individual vs Disiplin Taktis
Kritik utama tertuju pada kecenderungan Neymar untuk terlalu lama menguasai bola dan meninggalkan posisinya demi mencari sorotan individual. Secara teknis, pergerakan "liar" Neymar memaksa rekan setimnya untuk terus-menerus melakukan kompensasi ruang, yang pada akhirnya merusak struktur serangan balik dan organisasi pertahanan Santos. Mantan rekannya menyebut bahwa Neymar "merasa masih muda" dan mampu melewati lawan sesuka hati, padahal realitas fisiknya telah banyak berubah.
Di tahun 2026, sepak bola modern menuntut transisi yang sangat cepat dan kerja keras kolektif saat kehilangan bola. Bagi Santos, kehadiran Neymar adalah berkas sinar sekaligus beban ganda. Di satu sisi, ia adalah magnet komersial dan pencetak gol handal; namun di sisi lain, ketidakinginannya untuk mengikuti instruksi taktis yang disiplin menciptakan celah yang mudah dieksploitasi oleh lawan di Liga Brasil yang kian kompetitif.
Tantangan Adaptasi di Usia Senja
Situasi ini menempatkan pelatih Santos dalam posisi sulit: memberikan kebebasan total kepada sang megabintang atau memaksanya tunduk pada sistem tim. Jika Neymar gagal beradaptasi dengan peran barunya sebagai pengatur serangan yang lebih efisien, romansa kembalinya ke klub masa kecil ini terancam berakhir sebagai kegagalan taktis. Santos perlu segera menemukan keseimbangan antara mengakomodasi kejeniusan individual Neymar dan menjaga integritas skema tim demi meraih trofi.




