Perdebatan abadi mengenai di mana posisi Celtic dan Rangers jika mereka bermain di Liga Inggris kembali memanas. Berdasarkan laporan dari Daily Record pada Februari 2026, mantan gelandang dan pakar sepak bola Marvin Bartley secara tegas menepis klaim bahwa kedua raksasa Glasgow tersebut mampu bersaing di zona Liga Champions Premier League. Bartley menekankan adanya perbedaan signifikan dalam hal kedalaman skuad dan intensitas ekonomi yang membuat perbandingan tersebut menjadi tidak realistis dalam konteks kompetisi modern.
Faktor Kedalaman Skuad dan Intensitas Pertandingan
Argumen utama Bartley berfokus pada perbedaan kualitas antara Starting XI dengan pemain pelapis. Meskipun ia mengakui bahwa dalam satu pertandingan tunggal (one-off match) Celtic atau Rangers bisa mengalahkan tim papan atas Inggris, namun untuk mengarungi 38 pertandingan Premier League adalah hal yang berbeda. Bartley menilai bahwa saat tim-tim Inggris melakukan rotasi, kualitas pemain yang masuk tetap berada di level elit, sementara di Skotlandia, penurunan kualitas saat rotasi masih terlihat cukup mencolok.
Secara finansial, kesenjangan pendapatan hak siar televisi memainkan peran besar. Tim yang berada di posisi terbawah Premier League sekalipun memiliki kekuatan finansial yang melampaui total anggaran belanja klub-klub di luar Old Firm. Bartley berargumen bahwa tanpa suntikan dana yang setara selama bertahun-tahun, menempatkan Celtic atau Rangers langsung ke posisi enam besar (Big Six) adalah sebuah kekeliruan. Menurutnya, posisi yang lebih realistis bagi duo Glasgow tersebut adalah di papan tengah bawah, setidaknya pada musim-musim awal transisi.
Realitas vs Nostalgia Suporter
Pernyataan Bartley ini merupakan sebuah "pemeriksaan realitas" bagi para penggemar yang sering kali mengedepankan besarnya basis massa dan sejarah klub. Ia menegaskan bahwa sejarah tidak mencetak gol di lapangan Premier League yang sangat atletis dan taktis. Meski demikian, Bartley tetap memuji atmosfer pertandingan di Skotlandia sebagai salah satu yang terbaik di dunia, namun ia memperingatkan agar tidak mencampuradukkan gairah suporter dengan kesiapan teknis untuk mendominasi liga terkaya di dunia.




