Persija vs Persebaya: Duel Klasik Penuh Drama, dari Comeback 2009 hingga Penalti Menit 90+5
Baca dalam 60 detik
- Dua pertemuan bersejarah Persija dan Persebaya—2009 dan 2022—menjadi rujukan betapa sengitnya rivalitas kedua tim.
- Perubahan momentum dan gol-gol dramatis di menit akhir menjadi ciri khas laga Macan Kemayoran melawan Bajul Ijo.
- Duel pekan kesembilan BRI Super League 2026/2027 di JIS menjadi panggung anyar untuk meneruskan tradisi drama tersebut.

Rivalitas Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya kembali memasuki babak baru. Pada pekan kesembilan BRI Super League 2026/2027, kedua tim akan berhadapan di Jakarta International Stadium (JIS), Sabtu (7/11/2026). Laga ini bukan sekadar pertarungan tiga poin, melainkan kelanjutan dari sejarah panjang yang telah melahirkan sejumlah pertandingan paling dramatis dalam sepak bola Indonesia.
Dua pertemuan sebelumnya—pada 2009 dan 2022—menjadi bukti bahwa bentrokan Macan Kemayoran dan Bajul Ijo nyaris tak pernah berjalan datar. Keduanya menyajikan hujan gol, comeback, dan perubahan momentum yang membuat laga hidup hingga menit terakhir. Bagi publik sepak bola nasional, duel ini selalu punya daya tarik tersendiri: bukan hanya soal gengsi dua kota besar, tetapi juga tentang mentalitas dan karakter tim yang diuji di lapangan.
Pada 29 November 2009, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Persija tertinggal cepat akibat dua gol Persebaya dalam tujuh menit pertama. Andi Odang membuka skor pada menit ketiga, disusul Korinus Fingkrew empat menit berselang. Namun, Bambang Pamungkas memperkecil ketertinggalan sebelum jeda, lalu Aliyudin menyamakan kedudukan pada menit ke-58. Persebaya kembali unggul melalui Josh Maguire, tetapi Bepe—sapaan Bambang—kembali menyamakan skor. Aliyudin menjadi pahlawan kemenangan 4-3 lewat gol pada menit ke-85, memanfaatkan bola rebound setelah tendangan bebas Bambang Pamungkas diblok kiper Endra Prasetya.
Duel 14 Februari 2022 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, tak kalah menarik. Marko Simic membawa Persija unggul cepat pada menit kedua, tetapi Taisei Marukawa menyamakan lewat penalti. Persebaya berbalik memimpin melalui Ricky Kambuaya, lalu menambah keunggulan lewat Samsul Arif setelah Ryuji Utomo dikartu merah karena pelanggaran keras terhadap Marselino Ferdinan. Saat kemenangan tampak di depan mata, Makan Konate mencetak gol pada menit ke-86 dan kemudian menyamakan kedudukan dari titik penalti pada menit 90+5. Skor 3-3 memaksa kedua tim berbagi poin.
“Dua laga itu menunjukkan bahwa pertemuan Persija dan Persebaya selalu menghadirkan perubahan momentum yang sulit diprediksi,” demikian catatan redaksi Bola.com.
Bagi Persija, hasil-hasil tersebut mencerminkan mentalitas pantang menyerah yang menjadi ciri khas tim. Sementara Persebaya, meski harus kehilangan kemenangan di menit akhir, tetap menunjukkan kualitas dan agresivitasnya. Rivalitas ini pun tak lepas dari dinamika suporter dan tensi di luar lapangan, seperti yang pernah disorot pelatih Persija, Shin Tae-yong, terkait kerusuhan suporter dalam laga melawan Persita Tangerang beberapa waktu lalu.
Kembali ke JIS, pertemuan kali ini akan menjadi ujian bagi kedua tim untuk membuktikan siapa yang lebih siap secara mental dan taktik. Persija sebagai tuan rumah tentu ingin memanfaatkan dukungan pendukung, sementara Persebaya datang dengan ambisi mencuri poin. Sejarah mencatat, laga antara keduanya kerap ditentukan oleh detail kecil: eksekusi bola mati, konsentrasi di menit akhir, dan kemampuan bangkit dari tekanan.
Menarik untuk dinantikan apakah duel di JIS nanti akan kembali menyajikan drama serupa, atau justru berjalan lebih terkendali. Yang jelas, bagi pecinta sepak bola Indonesia, Persija melawan Persebaya selalu punya tempat istimewa—sebuah pertarungan yang tak pernah kehilangan magnetnya.



