CEO Nothing Pastikan Perangkat AI Perdana Meluncur Desember, Tanpa Layar dan Bukan Aplikasi
Baca dalam 60 detik
- Carl Pei mengumumkan produk AI native pertama Nothing akan dikirim Desember, namun identitas perangkat masih dirahasiakan.
- Perangkat ini digadang sebagai alat produktivitas tanpa layar baru dan tidak berbentuk aplikasi, sekaligus meredam spekulasi soal wearable AI.
- Langkah Nothing menantang arus industri yang tengah mengejar 'momen iPhone' lewat pin, liontin, atau kacamata pintar.

Nothing, startup ponsel asal London yang dikenal lewat desain transparan Nothing Phone, memastikan produk berbasis kecerdasan buatan pertamanya akan dikirim ke pasar pada Desember. Namun hingga kini, belum ada satu pun gambaran resmi mengenai wujud perangkat tersebut.
Pengumuman itu disampaikan langsung oleh CEO Carl Pei melalui akun X pada Rabu (waktu setempat). Ia menyebut produk anyar ini sebagai "perangkat AI native" pertama perseroan. Dalam cuitannya, Pei menegaskan bahwa perangkat tersebut bukan sekadar aplikasi, tidak mengandalkan layar baru, dan dirancang sebagai alat bantu produktivitas. "Ini alat, tapi dibangun dengan kepribadian dan perhatian yang selama ini menjadi ciri produk Nothing," tulisnya, seperti dikutip dari keterangan resmi.
Pernyataan Pei seolah menutup spekulasi yang selama ini beredar. Sebelumnya, Nothing dikabarkan tengah menyiapkan kacamata pintar berintegrasi AI dan earbuds dengan fitur kecerdasan buatan. Namun dalam unggahannya, Pei justru memberi sinyal bahwa produk Desember nanti tidak serta-merta masuk ke kategori wearable AI yang sedang ramai dibicarakan.
Alih-alih mengikuti pola peluncuran perangkat AI yang ada, Pei menyatakan memiliki pandangan berbeda. "Seluruh industri sedang memburu momen iPhone-nya: liontin, pin, kacamata, pendamping, semacam perangkat konsumen ajaib yang membuat AI menjadi bagian dari hidup semua orang. Saya mengagumi keberaniannya, tapi saya membaca momen ini dengan cara lain," ujarnya.
Pernyataan itu menggarisbawahi posisi Nothing yang enggan terjebak dalam euforia perangkat AI berbentuk gadget. Pei tampaknya ingin menempatkan produk barunya sebagai perangkat yang menyatu dengan ekosistem Nothing yang sudah ada, bukan sebagai perangkat baru yang berdiri sendiri. Sayangnya, ia belum merinci bagaimana perangkat itu akan bekerja, apakah terhubung ke ponsel Nothing, atau berdiri sebagai perangkat mandiri.
Langkah Nothing ini menjadi ujian bagi strategi perusahaan yang selama ini dikenal lewat desain unik dan harga terjangkau. Jika berhasil, produk AI native perdana mereka bisa menjadi pembeda di pasar yang semakin padat oleh perangkat AI. Namun jika gagal, Nothing berisiko kehilangan momentum di tengah persaingan yang makin ketat, terutama dari pemain besar seperti Apple, Google, dan Samsung yang juga gencar mengintegrasikan AI ke perangkat mereka.
Bagi pasar Indonesia, langkah Nothing ini patut dicermati. Sebagai merek yang cukup populer di kalangan anak muda dan pengguna teknologi Tanah Air, kehadiran perangkat AI baru dari Nothing berpotensi memperluas adopsi AI di tingkat konsumen. Namun tantangannya tidak ringan: ekosistem AI lokal masih terbatas, dan perangkat seperti ini biasanya baru masuk ke Indonesia beberapa bulan setelah peluncuran global. Jika Nothing serius menggarap pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mereka perlu memastikan perangkat ini kompatibel dengan layanan AI yang tersedia secara lokal.
Hingga kini, belum ada tanggal pasti peluncuran selain Desember. Pei hanya berjanji bahwa penggemar Nothing akan segera mengetahui apa yang disiapkan perusahaan. Pertanyaannya, apakah perangkat ini akan menjadi terobosan yang mendefinisikan ulang cara orang berinteraksi dengan AI, atau justru sekadar produk eksperimental yang tenggelam di tengah hiruk-pikuk industri? Jawabannya akan terlihat dalam hitungan pekan.



