Crystal Palace di Ambang Krisis: Sage Terancam, Hjulmand Jadi Kandidat Pengganti
Baca dalam 60 detik
- Pierre Sage menghadapi tekanan besar setelah Palace menelan tiga kekalahan beruntun dan menjadi tim paling bocor di Premier League dengan 21 gol kemasukan.
- Kasper Hjulmand, mantan pelatih Denmark dan Bayer Leverkusen, disebut sebagai kandidat kuat untuk menggantikan Sage.
- Dengan jadwal berat melawan Hoffenheim dan Liverpool, posisi Sage bisa ditentukan dalam sepekan ke depan.

Pierre Sage mungkin tidak pernah membayangkan awal kariernya di Premier League akan seberat ini. Setelah tiga kekalahan beruntun, termasuk dari Tottenham Hotspur akhir pekan lalu, posisinya sebagai manajer Crystal Palace berada di ujung tanduk. Palace saat ini menjadi tim dengan pertahanan terburuk di liga, kebobolan 21 golโsebuah rekor yang mengkhawatirkan bagi klub yang musim lalu tampil impresif di bawah Oliver Glasner.
Tekanan semakin meningkat menjelang laga krusial melawan Hoffenheim di Europa League dan Liverpool di Premier League. Kekalahan tambahan bisa membuat kursi Sage goyah, dan manajemen klub yang dipimpin Steve Parish disebut mulai mempertimbangkan opsi pengganti. Meski demikian, Sage dianggap memiliki potensi taktik yang mumpuni, namun hasil di lapangan belum sesuai harapan.
Nama Kasper Hjulmand muncul sebagai kandidat potensial. Pelatih asal Denmark itu dikenal dengan gaya bermain possession-focused dan formasi 3-4-2-1 yang ia terapkan saat menangani timnas Denmark di Euro 2020. Hjulmand juga dianggap mampu membangun hubungan baik dengan pemain, sesuatu yang dibutuhkan Palace untuk membangkitkan kepercayaan diri skuad.
"Hjulmand bukan salinan Glasner, tetapi gaya bermain progresifnya bisa menjadi obat bagi Palace yang kehilangan identitas sejak kepergian Glasner," tulis analis Football FanCast.
Perbandingan dengan Glasner tak terhindarkan. Pelatih asal Austria itu sukses membawa Eintracht Frankfurt finis di posisi 11 Bundesliga pada musim pertamanya, lalu mengantarkan klub ke gelar Europa League sebelum hijrah ke Palace dan menorehkan sejarah. Hjulmand, yang juga pernah menangani Leverkusen, diharapkan bisa mengikuti jejak serupa.
Bagi Palace, keputusan mengganti pelatih di tengah musim bukan hal baru. Namun, dengan ambisi bermain di Eropa dan ancaman degradasi yang mengintai, manajemen dituntut sigap. Jika Sage gagal meraih hasil positif dalam dua laga mendatang, bukan tidak mungkin Parish akan melakukan perombakan besar-besaran.
Konteks Indonesia: Meski tidak secara langsung memengaruhi sepak bola nasional, dinamika kepelatihan di Premier League sering menjadi rujukan bagi klub-klub Indonesia dalam memilih pelatih asing. Kisah Sage dan Hjulmand menjadi pelajaran tentang pentingnya adaptasi cepat dan dukungan manajemen dalam menghadapi tekanan kompetisi level tinggi.
Ke depan, akankah Palace bertahan dengan Sage atau beralih ke Hjulmand? Jawabannya mungkin akan terjawab dalam beberapa pekan ke depan, seiring dengan hasil di lapangan yang akan menentukan arah klub.



