Kimi Antonelli Juara F1 Termuda di Usia 20, Pecahkan Rekor Vettel
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli resmi menjadi juara dunia F1 termuda setelah finis ketiga di GP Meksiko, mengunci gelar dengan empat seri tersisa.
- Pebalap Mercedes berusia 20 tahun itu mengalahkan rekor Sebastian Vettel (23 tahun, 2010) dan menjadi orang Italia pertama yang juara sejak Alberto Ascari pada 1953.
- Dominasi Antonelli sepanjang musim—sembilan kemenangan—membuka babak baru persaingan F1, dengan Max Verstappen dan Lewis Hamilton sebagai penantang utama musim depan.

Kimi Antonelli memastikan diri sebagai juara dunia Formula 1 termuda dalam sejarah setelah finis ketiga pada Grand Prix Meksiko di Autódromo Hermanos Rodríguez, Minggu (1/11/2026). Pebalap Mercedes berusia 20 tahun itu mengunci gelar dengan empat seri masih tersisa, memecahkan rekor Sebastian Vettel yang juara pada usia 23 tahun pada 2010.
Gelar ini menjadi puncak musim dominan Antonelli. Ia memimpin klasemen sejak putaran ketiga di Jepang dan tak pernah tergoyahkan. Dari 20 balapan yang telah dijalani, ia meraih sembilan kemenangan, termasuk kemenangan dramatis dari posisi ke-19 di Grand Prix Italia di Monza—sirkuit kandangnya. Satu-satunya kegagalan finis terjadi dua kali akibat masalah mekanis.
Di Meksiko, Antonelli hanya membutuhkan finis di posisi kesembilan atau lebih baik untuk mengunci titel. Meski start dari posisi keempat, ia tampil tenang dan agresif. Balapan sempat dihentikan sementara (red flag) setelah Valtteri Bottas mengalami kecelakaan keras di tikungan pertama. Setelah restart, Antonelli bergerak ke posisi ketiga dan bertahan hingga garis finis, memastikan gelar lewat podium.
Kemenangan balapan sendiri diraih Max Verstappen (Red Bull) yang tampil impresif dari posisi kelima, disusul Lewis Hamilton (Ferrari). Namun sorotan utama tetap pada Antonelli. Di akhir balapan, Verstappen dan Hamilton mengangkat Antonelli di atas podium—simbol estafet generasi.
“Ini hari yang sangat istimewa. Seorang pemuda memecahkan rekor juara dunia termuda. Saya rasa ini baru permulaan baginya,” ujar Peter Bonnington, race engineer Antonelli.
Bagi Mercedes, gelar ini membuktikan keberanian mereka menempatkan Antonelli menggantikan Hamilton pada musim lalu. Saat itu, keputusan tersebut sempat diragukan karena musim debutnya yang naik-turun. Namun, kepercayaan pada pebalap asal Bologna itu—yang direkrut ke akademi Mercedes sejak usia 12 tahun—terbayar lunas.
Di sisi lain, balapan di Meksiko juga diwarnai ketegangan internal Ferrari. Charles Leclerc, yang finis keempat, mendapat penalti lima detik karena memotong tikungan saat menyalip Hamilton. Hamilton murka dan menyebut keputusan steward menguntungkan Leclerc. “Dia seharusnya mengembalikan posisi. Steward seolah memberikan kemenangan ini kepada Charles,” kata Hamilton.
Meski demikian, drama itu tak mengurangi makna gelar Antonelli. Ia menjadi pebalap Italia pertama yang juara dunia sejak Alberto Ascari pada 1953—sebuah kebangkitan tradisi balap Italia setelah lebih dari tujuh dekade.
Ke depan, persaingan F1 diprediksi semakin ketat. Verstappen menunjukkan kecepatan kompetitif di Meksiko dan bertekad bangkit musim depan. Hamilton, meski kecewa dengan insiden internal, tetap menjadi ancaman. Sementara Antonelli, dengan gelar di usia 20 tahun, telah membuka jalan bagi era baru di mana ia bisa menjadi ikon dominan seperti yang pernah dilakukan Michael Schumacher atau Lewis Hamilton.
Pertanyaannya kini: mampukah Antonelli mempertahankan konsistensi dan menghadapi tekanan sebagai juara bertahan, atau akankah Verstappen dan Hamilton kembali merebut takhta pada 2027?



