Netflix Akan Menghapus 'The End of the F***ing World' pada 5 November, Kesempatan Terakhir Menonton
Baca dalam 60 detik
- Serial komedi gelap remaja 'The End of the F***ing World' akan meninggalkan Netflix pada 5 November mendatang.
- Adaptasi komik Charles Forsman ini mendapat pujian kritis berkat perpaduan humor gelap, thriller, dan kisah cinta yang menyentuh.
- Penonton Indonesia memiliki waktu kurang dari sepekan untuk menonton atau mengulang kedua musim sebelum hilang dari platform streaming.

Netflix akan segera kehilangan salah satu serial komedi gelap paling berpengaruh dalam satu dekade terakhir. 'The End of the F***ing World', adaptasi dari komik mini karya Charles Forsman, dijadwalkan meninggalkan platform streaming pada 5 November 2023. Bagi penonton yang belum sempat menyaksikannya, ini adalah kesempatan terakhir untuk mengejar kedua musim sebelum judul tersebut lenyap dari katalog.
Serial ini pertama kali tayang pada 2017 dan langsung menuai pujian luas. Mengisahkan James (Alex Lawther), remaja yang meyakini dirinya psikopat, dan Alyssa (Jessica Barden), gadis pemberontak yang melihat James sebagai pelarian dari kekacauan rumah tangganya. Keduanya memulai perjalanan darat melintasi Inggris yang awalnya tampak sebagai pelarian remaja biasa, namun perlahan berubah menjadi pelarian dari masa lalu dan diri mereka sendiri.
Keputusan Netflix menarik judul ini dari peredaran bukan hal baru. Platform tersebut secara berkala melakukan evaluasi lisensi, dan sering kali serial yang sudah berusia lebih dari lima tahun harus rela dilepas. Meski demikian, hilangnya 'The End of the F***ing World' terasa lebih pahit mengingat kualitasnya yang di atas rata-rata. Serial ini bukan sekadar komedi remaja; ia adalah potret psikologis yang tajam tentang trauma, pencarian identitas, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan.
Bagi penonton Indonesia, keputusan ini juga menjadi pengingat bahwa akses terhadap karya-karya berkualitas di platform streaming tidak selamanya. Meskipun Netflix Indonesia memiliki katalog yang cukup luas, judul-judul tertentu bisa hilang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Penggemar serial ini di Tanah Air mungkin harus segera mengatur waktu untuk menonton ulang atau menyelesaikan ceritanya sebelum tanggal tersebut.
Yang membuat 'The End of the F***ing World' istimewa adalah kemampuannya menyeimbangkan nada. Di satu sisi, serial ini menyajikan humor gelap yang absurd—adegan James dan Alyssa membobol rumah mewah, menghancurkan ponsel, dan mengenakan pakaian warna-warni dari toko loak. Di sisi lain, di balik tingkah laku mereka yang ugal-ugalan, tersimpan kerentanan yang perlahan terungkap. James yang awalnya mengaku tidak punya perasaan, perlahan menunjukkan bahwa ia hanyalah remaja yang terluka. Sementara Alyssa, yang tampak tangguh, sebenarnya sedang berjuang melarikan diri dari luka batin akibat perpecahan keluarganya.
"Serial ini adalah kisah cinta yang dibungkus dalam komedi gelap dan thriller psikologis. Di balik semua kekacauan, ada pesan tentang menemukan rumah pada orang yang tepat."
Kritikus film dan televisi sering menyoroti bagaimana serial ini mendobrak batas genre coming-of-age. Alih-alih menampilkan remaja yang berjuang untuk diterima di lingkungan sosial, James dan Alyssa justru memilih untuk menjauh dari norma. Mereka menciptakan dunia mereka sendiri yang penuh risiko, namun di situlah mereka menemukan kebebasan dan kejujuran yang tidak pernah mereka dapatkan di rumah. Pendekatan ini membuat serial tersebut relevan tidak hanya bagi remaja, tetapi juga orang dewasa yang pernah merasa terasing.
Dari segi sinematografi, serial ini juga patut diacungi jempol. Pengambilan gambar yang luas dengan latar pedesaan Inggris menciptakan kontras antara keindahan alam dan kekacauan batin para tokoh. Warna-warna cerah dalam adegan tertentu—seperti jaket kuning ikonik Alyssa—menjadi simbol pemberontakan yang mudah diingat. Detail-detail kecil inilah yang membuat serial ini terasa hidup dan berbeda dari drama remaja lainnya.
Meski hanya terdiri dari 16 episode, 'The End of the F***ing World' berhasil meninggalkan jejak mendalam. Musim kedua yang tayang pada 2019 memperluas cerita dengan menghadirkan karakter baru, Bonnie (Naomi Ackie), yang membawa dinamika baru dan menantang James dan Alyssa untuk menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka. Sayangnya, setelah musim kedua, tidak ada kelanjutan. Serial ini berakhir dengan penutup yang terbuka, meninggalkan penonton dengan pertanyaan tentang masa depan kedua tokoh.
Kepergian serial ini dari Netflix bisa jadi momentum untuk merefleksikan bagaimana kita mengonsumsi konten di era streaming. Karya-karya seperti ini sering kali luput dari perhatian karena algoritma platform lebih menyoroti judul-judul baru. Padahal, di balik judulnya yang provokatif, 'The End of the F***ing World' adalah permata tersembunyi yang layak ditonton. Apakah kita akan membiarkannya menghilang begitu saja, atau justru memanfaatkan waktu tersisa untuk merayakan keberaniannya dalam bercerita?



