Partai Hijau Inggris di Persimpangan: Mantan Pemimpin Desak Fokus Nilai Inti Usai Mosi Zionisme
Baca dalam 60 detik
- Adrian Ramsay menilai Partai Hijau Inggris berada di titik krusial setelah anggota mengesahkan mosi yang menyebut Zionisme sebagai bentuk rasisme.
- Mantan co-leader itu memperingatkan pendekatan yang memecah belah dapat menjauhkan partai dari mayoritas pemilih Inggris.
- Pemimpin Partai Hijau Zack Polanski membela mosi tersebut, sementara tekanan eksternal dari Partai Buruh dan kelompok Yahudi meningkat.

Partai Hijau Inggris menghadapi ujian internal terbesar dalam beberapa tahun terakhir setelah mantan pemimpin bersama mereka, Adrian Ramsay, menyatakan bahwa partai kini berada di "persimpangan jalan" dan perlu kembali kepada nilai-nilai inti. Pernyataan itu muncul beberapa pekan setelah anggota partai mengesahkan mosi kontroversial yang mendefinisikan Zionisme sebagai bentuk rasisme, sebuah langkah yang memicu gelombang kritik dari berbagai pihak.
Ramsay, yang menjabat sebagai co-leader periode 2021–2025, mengingatkan bahwa Partai Hijau hanya bisa mewujudkan perubahan lingkungan yang signifikan jika kebijakan mereka mendapat dukungan mayoritas publik Inggris. Ia menilai pendekatan yang terlalu berfokus pada isu internal dan cenderung memecah belah justru berisiko menjauhkan partai dari basis pemilih yang lebih luas. Dalam wawancara dengan BBC, ia menegaskan bahwa partai perlu membangun konsensus dan melibatkan akar rumput secara lebih efektif.
Mosi yang disahkan bulan lalu oleh anggota Partai Hijau England and Wales itu mendefinisikan Zionisme sebagai ideologi yang mendukung "negara Yahudi etnonasionalis" dan menuduhnya menyebabkan "pencabutan hak dan kehancuran" rakyat Palestina. Mosi tersebut juga mendukung pembentukan "satu negara demokratis Palestina di seluruh Palestina historis", yang mencakup wilayah Israel modern. Keputusan ini memicu reaksi keras dari sejumlah kelompok Yahudi, anggota parlemen dari Partai Buruh dan Liberal Demokrat, serta Komisi Kesetaraan dan Hak Asasi Manusia (EHRC) yang meminta klarifikasi lebih lanjut.
Di tengah tekanan yang meningkat, Ramsay secara tegas menyatakan bahwa Zionisme bukanlah rasisme. Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi di Gaza, seraya menegaskan bahwa Israel memiliki hak untuk eksis—sikap yang tidak secara eksplisit diambil oleh Polanski. Ramsay mengaku sangat tidak nyaman dengan mosi tersebut dan melihat adanya peluang untuk melakukan tindakan korektif menjelang konferensi musim semi partai tahun depan.
"Saya pikir ada titik persimpangan nyata bagi partai saat ini. Salah satu opsi adalah semakin mendalami pendekatan ini, tetapi ada risiko yang menyertainya—pendekatan yang memecah belah dan terlalu berfokus ke dalam," ujar Ramsay.
Polanski, yang tidak turut serta dalam pemungutan suara mosi tersebut karena sedang berkampanye di pemilihan parlemen lokal, membela diri dengan mengatakan bahwa tidak ada keadilan lingkungan tanpa keadilan sosial, rasial, dan ekonomi. Ia sebelumnya menyatakan keinginannya agar mosi yang dinilainya "tidak sempurna" itu diamandemen di masa depan, namun ia menegaskan bahwa bagian substansial dari mosi—yang menyebut pengungsian dan genosida rakyat Palestina didasari ideologi rasis—adalah "jelas". Israel berulang kali membantah tuduhan genosida di Gaza.
Kontroversi ini tidak hanya berdampak pada citra Partai Hijau di mata publik Inggris, tetapi juga berimplikasi pada dinamika politik lokal. Partai Buruh telah mengisyaratkan akan mengakhiri kerja sama bagi kekuasaan di sejumlah dewan lokal jika anggota dewan dari Partai Hijau tidak mencabut dukungan terhadap mosi. Sementara itu, larangan masuk bagi Polanski ke Israel menambah dimensi internasional pada perselisihan ini, memperlihatkan bahwa kebijakan luar negeri partai kecil sekalipun dapat memicu reaksi diplomatik.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin bagaimana partai politik di negara demokrasi maju bergulat dengan isu identitas dan solidaritas global yang kompleks. Meskipun konteksnya berbeda, dinamika Partai Hijau menunjukkan bahwa tekanan dari basis anggota dapat bertabrakan dengan upaya meraih dukungan elektoral yang lebih luas—sebuah dilema yang juga kerap dihadapi partai-partai di Indonesia ketika menyikapi isu internasional sensitif. Publik Indonesia yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu Palestina dapat mencermati bagaimana partai di Eropa menyeimbangkan prinsip dan realpolitik.
Ke depan, mata akan tertuju pada konferensi musim semi Partai Hijau tahun depan, di mana Ramsay berharap ada langkah konkret untuk merevisi mosi tersebut. Pertanyaannya, akankah Polanski dan kepemimpinan partai memilih bertahan pada garis ideologis yang telah disepakati anggota, atau mulai melunakkan pendekatan demi merangkul kembali pemilih moderat dan mitra koalisi potensial? Jawaban atas dilema ini tidak hanya menentukan arah Partai Hijau, tetapi juga masa depan politik hijau di Inggris.



