Truk Molen Rem Blong di Bekasi Tewaskan Enam Orang, Polisi Selidiki Penyebab
Baca dalam 60 detik
- Truk molen menabrak kerumunan di halte Jalan Cut Mutia, Rawalumbu, Kota Bekasi, menewaskan enam orang dan melukai enam lainnya.
- Polisi menduga rem blong menjadi pemicu, namun penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti.
- Insiden ini kembali menyoroti keselamatan kendaraan berat dan infrastruktur jalan menurun di kawasan padat.

Enam nyawa melayang dalam kecelakaan maut yang melibatkan truk molen di halte Jalan Cut Mutia, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Minggu (1/11) sekitar pukul 16.30 WIB. Truk bermuatan adonan semen itu menabrak belasan orang yang tengah menunggu bus, memicu pertanyaan serius tentang pengawasan kendaraan berat di jalur menurun.
Menurut Kanit Gakkum Satlantas Polres Metro Bekasi Kota Iptu Rojali, truk melaju dari arah Universitas Muhammadiyah Indonesia menuju Rawa Panjang. Saat melintasi jalan menurun di jembatan depan kampus BSI, kendaraan tak terkendali. Pengemudi sempat berupaya menghentikan laju dengan menabrakkan truk ke tembok gerbang kampus, namun gagal. Truk kemudian menghantam 12 orang di halte.
“Pengemudi mengaku tidak bisa mengendalikan kendaraan karena tidak dapat melakukan pengereman,” ujar Rojali di lokasi kejadian, seperti dikutip Antara. Enam korban meninggal di tempat, sementara enam lainnya luka-luka. Korban terdiri atas perempuan, laki-laki, dan anak-anak.
Kasat Lantas Polres Metro Bekasi Kota AKBP Joko Sembodo menyatakan dugaan awal rem blong. “Kendaraan Truck B-9548-MV mengalami rem blong (jember rem pecah), sehingga tidak bisa menguasai kemudi dan oleng ke kiri,” kata Joko dalam keterangan tertulis. Meski demikian, ia menegaskan penyebab pasti masih didalami.
Polisi telah mengamankan pengemudi untuk pemeriksaan. Hingga Minggu malam, petugas masih menunggu alat berat untuk mengevakuasi truk yang menutupi sebagian jalan. Rojali menyebut pihaknya berkoordinasi dengan perusahaan pemilik truk untuk mendatangkan derek, dan selama proses evakuasi jalan akan ditutup.
“Korban saat kejadian memang sedang menunggu bus di halte. Enam orang meninggal dunia di lokasi kejadian,” ujar Rojali.
Kecelakaan ini bukan pertama kali terjadi di jalur menurun yang ramai dilalui kendaraan berat. Pengamat transportasi menilai insiden semacam ini mestinya bisa dicegah dengan inspeksi rutin terhadap kelaikan kendaraan, terutama rem, serta pemasangan rambu peringatan dan jalur pelarian di titik rawan. Pengawasan terhadap truk molen yang beroperasi di kawasan padat juga perlu diperketat, mengingat bobot muatan yang sangat besar.
Dari sisi infrastruktur, jalan menurun di depan kampus BSI menjadi sorotan. Warga sekitar mengaku sudah lama mengkhawatirkan keselamatan pejalan kaki dan penumpang angkutan umum di halte tersebut. Mereka berharap ada evaluasi menyeluruh, termasuk pemasangan pembatas dan peningkatan pengawasan kecepatan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum menetapkan tersangka. Penyelidikan akan mencakup pemeriksaan teknis kendaraan, keterangan saksi, dan rekaman kamera pengawas. Jika terbukti ada kelalaian, pengemudi maupun perusahaan pemilik truk bisa dijerat sanksi pidana.
Kejadian ini menambah daftar panjang kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan berat di Indonesia. Pertanyaannya, apakah evaluasi keselamatan akan berhenti pada kasus ini, atau menjadi momentum perbaikan menyeluruh bagi standar kelaikan armada dan tata kelola jalur rawan di kota-kota besar?



