Star Wars Kalahkan Mass Effect: Alasan Sesungguhnya EA Tutup BioWare
Baca dalam 60 detik
- EA memilih membatalkan Mass Effect baru dan menutup BioWare demi peluang Star Wars Battlefront 3 yang dinilai lebih aman secara finansial.
- Kegagalan komersial Dragon Age: The Veilguard dan warisan Anthem mempercepat penutupan studio yang menyisakan 50 karyawan.
- Penutupan BioWare menambah daftar studio legendaris yang diakuisisi lalu dimatikan EA, sementara industri game 2026 dilanda pemutusan hubungan kerja massal.

Keputusan Electronic Arts (EA) menutup BioWare dan membatalkan sekuel Mass Effect bukanlah akibat tekanan langsung dari dana investasi Arab Saudi, melainkan karena peluang menggarap game Star Wars Battlefront ketiga. Menurut laporan jurnalis Bloomberg, Jason Schreier, EA baru saja mendapatkan tawaran dari Lucasfilm (milik Walt Disney Co.) untuk mengerjakan proyek tersebut. Eksekutif EA lantas menilai portofolio mereka memiliki dua game aksi fiksi ilmiah yang masing-masing diperkirakan menelan biaya ratusan juta dolar. Karena tekanan finansial setelah diakuisisi Public Investment Fund (PIF) senilai US$55 miliar, mereka memilih mematikan proyek Mass Effect yang dianggap bersaing dengan Star Wars.
Meski pengembangan Battlefront 3 belum dimulai, EA memandangnya sebagai opsi dengan risiko finansial lebih rendah. Ironisnya, EA dahulu mengakuisisi BioWare sebagian karena kesuksesan seri Star Wars: Knights of the Old Republic. Kini, waralaba yang membesarkan nama studio justru menjadi algojo bagi kelangsungan hidupnya.
Juru bicara EA menyatakan keputusan itu diambil "setelah melalui perencanaan, peninjauan, dan analisis selama berbulan-bulan, termasuk mempertimbangkan kondisi bisnis yang berkembang, dinamika industri, dan prioritas jangka panjang kami." Pernyataan tersebut tidak menyebut secara spesifik faktor Star Wars, tetapi laporan Bloomberg mengungkap bahwa itulah titik baliknya.
Schreier juga menyoroti faktor lain yang mempercepat kematian BioWare. Game terbaru mereka, Dragon Age: The Veilguard, gagal memenuhi ekspektasi penjualan hingga setengahnya. Sebelumnya, Mass Effect: Andromeda (2017) diterima dengan buruk, dan Anthem (2019) dianggap sebagai kegagalan layanan langsung. Penutupan ini adalah akhir dari proses panjang pengurangan staf yang membuat studio hanya menyisakan 50 karyawan saat ditutup pekan lalu.
"EA telah lama dikritik karena cara mengelola studio yang diakuisisinya. Mereka membeli lalu menutup banyak pengembang legendaris, termasuk Westwood, Origin, Pandemic, Black Box Games, dan Visceral."
Beberapa mantan karyawan juga mengungkapkan bahwa EA menekan BioWare untuk menghapus bendera dukungan hak LGBTQ+ dari proyek Mass Effect Universe yang sedang dikembangkan. BioWare dikenal lama sebagai studio inklusif, dan spekulasi muncul bahwa tekanan tersebut terkait dengan kepemilikan baru EA oleh PIF Arab Saudi. EA belum menanggapi tuduhan ini secara terbuka.
Penutupan BioWare hanyalah satu dari sekian banyak gejolak yang melanda industri game AAA pada 2026. Biaya produksi yang terus membengkak membuat penerbit besar semakin bergantung pada waralaba raksasa yang sudah mapan. Xbox memulai "reset besar" pada Juli yang berujung pada pemutusan hubungan kerja sekitar 3.200 orang dan melepaskan sejumlah studio ternama seperti Ninja Theory, Double Fine, Undead Labs, dan Compulsion Games. Sementara itu, Obsidian dipindahkan ke bawah Bethesda untuk menggarap game Fallout, dan pengembangan Halo diserahkan kepada Activision, produser Call of Duty.
Bagi industri game Indonesia, keputusan EA ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada judul-judul besar dan pendanaan asing tidak menjamin keberlanjutan studio pengembang. Ekosistem lokal yang tengah tumbuh perlu membangun model bisnis yang tidak sekadar mengejar skala besar, tetapi juga ketahanan terhadap tekanan pemodal. Pertanyaannya, akankah gelombang konsolidasi global ini mempersempit ruang bagi ide-ide orisinal dari pengembang di negara berkembang?



