Colin Farrell Buka Pintu Rumah untuk Dokumenter Soal Putranya, Soroti Kesenjangan Dukungan Disabilitas
Baca dalam 60 detik
- Colin Farrell tampil bersama putra sulungnya, James (23), dalam dokumenter The Slightest Touch yang tayang 25 November.
- Film ini mengangkat perjuangan Farrell dan aktivis Emma Fogarty menyiapkan maraton Dublin, sekaligus kisah personal tentang sindrom Angelman.
- Farrell mendirikan yayasan pada 2024 untuk menyoroti transisi layanan disabilitas yang terputus saat penyandang disabilitas menginjak usia 21 tahun.

Aktor Hollywood Colin Farrell membuka pintu rumahnya yang biasanya tertutup rapat untuk kamera. Dalam dokumenter terbaru berjudul The Slightest Touch, ia tidak hanya berbagi kisah persahabatan dan maraton, tetapi juga menunjukkan ikatan personal dengan putra sulungnya, James, 23 tahun, yang hidup dengan sindrom Angelman. Film ini dijadwalkan tayang pada 25 November.
Bagi Farrell, kehadiran kru film di kediamannya adalah hal yang tidak biasa. Dalam trailer yang dirilis, ia mengakui jarang sekali membiarkan kamera mendekati keluarganya. "Saya belum pernah ada kru film yang mendekati rumah saya," ujarnya. Namun, proyek ini dinilainya sebagai cara untuk menyuarakan isu yang selama ini ia perjuangkan: dukungan bagi penyandang disabilitas intelektual, terutama saat mereka beranjak dewasa.
Dokumenter ini mengikuti persiapan Farrell dan sahabat lamanya, Emma Fogarty, seorang aktivis hak disabilitas, menuju Maraton Dublin. Fogarty sendiri hidup dengan epidermolisis bulosa, kondisi genetik langka yang membuat kulitnya sangat rapuh dan mudah melepuh. Perjalanan mereka menjadi benang merah yang menyoroti ketahanan fisik dan emosional, sekaligus memotret realitas keluarga yang merawat anak dengan kebutuhan khusus.
James, buah cinta Farrell dengan mantan kekasihnya Kim Bordenave, didiagnosis sindrom Angelman—kelainan genetik langka yang memengaruhi kemampuan bicara, gerak, keseimbangan, dan perkembangan. Menurut Mayo Clinic, kondisi ini memerlukan dukungan seumur hidup dengan tingkat yang bervariasi. Farrell sendiri telah beberapa kali berbicara terbuka tentang putranya. Pada 2008, ia menyebut James sebagai "hadiah" dan menegaskan bahwa putranya "persis seperti seharusnya."
Kepedulian Farrell terhadap isu ini bukan sekadar retorika. Pada 2024, ia mendirikan Colin Farrell Foundation, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang advokasi, edukasi, dan peningkatan akses layanan bagi penyandang disabilitas intelektual. Fokus utama yayasan ini adalah masa transisi yang kerap luput dari perhatian: ketika penyandang disabilitas menginjak usia 21 tahun, berbagai program pendukung seperti kelas pendidikan khusus dan layanan terstruktur lainnya berangsur-angsur berhenti. "Semua perlindungan yang ada, kelas pendidikan khusus, semuanya hilang. Anda hanya memiliki seorang dewasa muda yang seharusnya menjadi bagian dari masyarakat modern, tetapi lebih sering tertinggal," kata Farrell kepada People.
"Saya ingin dunia bersikap baik kepada James. Saya ingin dunia memperlakukannya dengan kebaikan dan rasa hormat." — Colin Farrell
Pernyataan itu menggema dalam konteks Indonesia. Data Kementerian Sosial menunjukkan bahwa penyandang disabilitas di Tanah Air masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan vokasional dan pendampingan setelah lulus usia sekolah. Menurut organisasi seperti Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), banyak keluarga yang merawat anggota disabilitas intelektual harus berjuang sendiri karena minimnya program pasca-sekolah. Film Farrell, meski berlatar Irlandia, menyentuh persoalan universal: bagaimana masyarakat menyiapkan ruang bagi mereka yang membutuhkan dukungan berkelanjutan.
Farrell, yang dikenal lewat peran dalam In Bruges, The Banshees of Inisherin, dan The Batman, juga meraih Golden Globe atas perannya sebagai Oswald Cobb di serial HBO The Penguin. Ia memiliki seorang putra lagi, Henry, 17 tahun, dari mantan pasangannya, aktris Alicja Bachleda-Curuś. Namun, dokumenter ini seolah menjadi panggung paling personal bagi Farrell untuk menunjukkan sisi lain kehidupannya—bukan sebagai bintang film, melainkan sebagai ayah yang gigih memperjuangkan masa depan anaknya.
Ke depan, The Slightest Touch berpotensi menjadi katalis dialog tentang layanan disabilitas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pertanyaannya, apakah film ini akan mendorong pembuat kebijakan untuk meninjau ulang program pendampingan yang ada, atau hanya menjadi tontonan emosional semata? Farrell telah memilih untuk tidak tinggal diam. Kini giliran publik menilai apakah kepeduliannya mampu menginspirasi perubahan nyata.



