Steiner Peringatkan Russell: Mercedes Tak Akan Menunggu Selamanya
Baca dalam 60 detik
- Mantan bos Haas, Guenther Steiner, menilai performa George Russell yang tertinggal jauh dari Kimi Antonelli bisa memaksa Mercedes mengubah susunan pembalap akhir musim depan.
- Steiner membandingkan situasi Russell dengan Daniel Ricciardo yang kariernya merosot setelah kalah dari Lando Norris di McLaren.
- Dukungan Toto Wolff dianggap penting, tetapi Mercedes tetap menuntut hasil sebagai pabrikan juara dunia.

Guenther Steiner, mantan kepala tim Haas, mengirim peringatan keras kepada George Russell: Mercedes tidak akan selamanya memberikan kesabaran. Jika performa pembalap Inggris itu tidak kunjung membaik hingga akhir musim depan, perubahan pada susunan pembalap bisa menjadi keniscayaan.
Russell memulai musim 2026 sebagai favorit, tetapi rekan setimnya, Kimi Antonelli, justru mencuri perhatian. Pembalap muda Italia itu menjadi pemimpin klasemen termuda setelah kemenangan beruntun di Grand Prix China dan Jepang. Hingga kini, Antonelli telah mengoleksi sembilan kemenangan grand prix dan berada di ambang gelar juara dunia pertamanya.
Menjelang Grand Prix Meksiko akhir pekan ini, Russell tertahan di posisi kedua dengan defisit 123 poin dari Antonelli. Tekanan juga datang dari belakang: Lewis Hamilton dari Ferrari hanya terpaut satu poin di urutan ketiga, dan hanya sembilan poin memisahkan posisi kedua hingga kelima. Situasi ini menempatkan Russell di pusaran spekulasi masa depannya.
Berbicara di The Red Flags Podcast, Steiner menilai masalah Russell lebih bersifat kepercayaan diri ketimbang performa mobil. Ia setuju dengan anggapan bahwa situasi Russell mirip dengan yang dialami Daniel Ricciardo. "Saya pikir ini lebih merupakan situasi Daniel Ricciardo daripada Lewis," ujar Steiner, mengutip Motorsport.com.
Ricciardo, kata Steiner, adalah contoh nyata bagaimana tekanan di tim papan atas bisa menghancurkan karier. Setelah tersingkir oleh Lando Norris di McLaren dan dilepas lebih awal pada akhir 2022, performa pembalap Australia itu tidak pernah pulih. "Saya harap dia bisa menemukan jalannya kembali, karena Daniel sayangnya tidak benar-benar menemukannya. Bahkan menjadi lebih buruk ketika dia dilepas McLaren. Itu pada dasarnya menghancurkannya," tambah Steiner.
Meski demikian, Steiner melihat satu faktor yang bisa menyelamatkan Russell: dukungan dari bos Mercedes, Toto Wolff. "Tapi George memiliki orang-orang di sekitarnya yang percaya padanya, seperti Toto, itu akan membantu," katanya. Namun, ia menegaskan bahwa kesabaran Mercedes ada batasnya. "Akhir tahun depan, saya pikir, jika dia berada di posisi yang sama seperti sekarang, Mercedes, dan ini bukan masalah pribadi bagi Toto, Mercedes akan mencari tahu, 'apa yang perlu kita lakukan di sini untuk menjadi juara dunia pabrikan?' karena itulah tujuan mereka, dan Anda tidak bisa menyalahkan mereka."
"Jika George tidak membawa performa, akan ada perubahan. Saya tidak mengatakan mereka secara aktif bekerja untuk perubahan, mereka memberinya waktu, tetapi jika itu tidak terjadi, mereka akan membuat perubahan."
โ Guenther Steiner, mantan kepala tim Haas
Pernyataan Steiner menggambarkan dilema klasik di tim papan atas: antara kesetiaan pada pembalap dan tuntutan hasil. Mercedes, yang telah lama mendominasi era turbo-hybrid, kini menghadapi tekanan untuk kembali merebut gelar juara dunia pabrikan. Russell, yang dianggap sebagai penerus generasi emas, harus membuktikan bahwa ia layak dipercaya.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, dinamika di Mercedes ini menjadi tontonan menarik. Meski tidak ada pembalap Indonesia di grid, persaingan ketat di tim-tim papan atas kerap menjadi barometer bagi pembalap muda Tanah Air yang bercita-cita menembus F1. Kisah Russell juga menjadi pelajaran tentang betapa brutalnya kompetisi di level tertinggi: bakat saja tidak cukup tanpa mental yang kuat.
Dengan 123 poin yang harus dikejar dan musim yang belum berakhir, Russell masih memiliki waktu untuk membalikkan keadaan. Namun, jika tren negatif berlanjut hingga akhir musim depan, kursi di Mercedes bisa menjadi panas. Akankah Russell mampu membuktikan bahwa ia bukan "Ricciardo berikutnya", atau justru sebaliknya?



