Isack Hadjar Sesali Kritik Pedas ke Red Bull: Ada Hal yang Seharusnya Saya Simpan
Baca dalam 60 detik
- Isack Hadjar mengakui pernyataannya yang blak-blakan soal eksekusi Red Bull usai GP Amerika Serikat sebaiknya tidak disampaikan ke publik.
- Red Bull telah mengevaluasi balapan di Austin dan menemukan bahwa strategi one-stop seharusnya bisa lebih dipertimbangkan.
- Masalah teknis radio dan start yang konsisten masih membelit tim, dan perbaikannya baru bisa dilakukan musim depan.

Isack Hadjar menyadari bahwa kata-katanya terlalu tajam. Pembalap muda Red Bull itu mengakui bahwa kritik terbuka terhadap timnya setelah Grand Prix Amerika Serikat seharusnya tidak diutarakan di depan publik. Meski begitu, ia menegaskan bahwa apa yang disampaikannya adalah cerminan dari rasa frustrasi yang nyata.
Kekecewaan Hadjar dan Max Verstappen memuncak di Austin. Keduanya tidak puas dengan keputusan strategi tim, dan lebih dari itu, mereka terhambat oleh dua masalah klasik yang sudah lama menghantui Red Bull: gangguan komunikasi radio dan prosedur start yang tidak konsisten. "Radio saya buruk, saya bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Dan setiap kali saya melepas kopling, hasilnya seperti mimpi buruk," ujar Hadjar di media pen usai balapan, seperti dikutip Motorsport.com. "Jika kami memperbaiki dua hal ini, kami mungkin sudah berada di podium. Kami bisa melakukan hal-hal tersulit, tapi tidak bisa melakukan hal-hal sepele."
Pernyataan itu langsung menuai perhatian. Namun, dalam sesi media day di Meksiko, pembalap Prancis tersebut merenungkan kembali ucapannya. Ia menyadari bahwa kebebasan berbicara yang dimiliki pembalap Red Bullโyang memang menginginkan karakter kuatโtetap memiliki batas. "Saya tidak berpikir panjang. Kami perlu jujur pada diri sendiri, tetapi ada hal-hal yang seharusnya saya simpan untuk diri sendiri. Saya tahu itu," akunya.
Evaluasi internal Red Bull mengonfirmasi bahwa keputusan strategi di Austin memang bisa lebih baik. Hadjar menjelaskan bahwa tim terlalu yakin dengan performa ban kompon lunak dan menganggap degradasi lebih tinggi dari kenyataan. "Sebagai tim, kami mungkin tidak cukup terbuka terhadap strategi one-stop. Kami sangat yakin ban lunak bekerja lebih baik. Mungkin kami mengira degradasinya lebih tinggi dari yang sebenarnya, dan begitu kami memulai dengan cara itu, kami menempatkan diri dalam situasi sulit," jelasnya.
Akibatnya, muncul kebingungan saat Hadjar diminta membiarkan Verstappen lewat di lintasan lurus menuju Tikungan 12. Ia tidak segera melakukannya, yang sempat membuat Verstappen frustrasi. Hadjar menegaskan bahwa itu bukan tindakan sengaja, melainkan imbas dari ketidakjelasan strategi. "Saya punya laju bagus dengan ban lunak, jadi saya tidak ingin masuk pit terlalu awal. Di saat yang sama, kami tidak ingin Max kehilangan waktu karena strateginya berbeda. Pada akhirnya, itu membingungkan karena jika kami semua menggunakan one-stop, semua orang akan senang," tuturnya.
Meski pelajaran dari Austin bisa diterapkan pada sisa balapan musim ini, Hadjar tahu bahwa beberapa keterbatasan Red Bull tidak bisa segera diatasi. Masalah start, misalnya, memerlukan perubahan perangkat keras yang tidak mungkin dilakukan hingga akhir tahun. "Kami terus mendorong di area itu. Ini sesuatu yang telah kami kerjakan. Ada peningkatan besar jika melihat beberapa balapan pertama tahun ini. Sekarang kami berada di titik yang naik-turun. Kami sadar akan hal itu dan harus bekerja dengan apa yang ada hingga akhir tahun," kata Hadjar.
Ia juga menepis anggapan bahwa masalah-masalah tersebut remeh. "Saya tidak akan mengatakan hal-hal lain itu sepele. Saya akan mengatakan itu adalah hal-hal kecil penting yang tidak kami lakukan dengan baik," tegasnya. Red Bull memang dikenal sebagai tim yang menuntut kesempurnaan, dan kritik terbuka dari pembalap muda seperti Hadjar menjadi cermin bahwa standar tinggi tetap dijunjung, bahkan jika itu berarti harus mengoreksi diri sendiri.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat Red Bull mampu membenahi kelemahan teknis yang telah lama menghantui mereka. Jika tidak, potensi pembalap seperti Hadjar dan Verstappen bisa terus terbuang sia-sia di lintasan. Musim masih panjang, tetapi jendela perbaikan semakin sempit.



