Pramono Anung Kirim 10 Lurah Finalis Benyamin S Award 2026 Studi Banding ke Luar Negeri
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjanjikan program belajar ke luar negeri bagi sepuluh lurah yang lolos sebagai finalis Benyamin S Award 2026.
- Kompetisi ini menilai kelurahan berdasarkan empat kriteria: bersih, nyaman, indah, dan sejahtera, dengan tiga pemenang kategori utama.
- Inisiatif ini dipandang sebagai upaya membangun kapasitas aparatur kelurahan agar mampu mengadopsi praktik tata kelola perkotaan dari negara lain.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan sepuluh lurah yang menjadi finalis Benyamin S Award 2026 akan dikirim belajar ke luar negeri. Keputusan itu diumumkan langsung saat penganugerahan ajang tersebut di Jakarta, Jumat (30/10).
Menurut Pramono, kesempatan menimba ilmu di negara lain bukan sekadar hadiah simbolis. Ia berharap para lurah mengalami perubahan cara pandang dan pola pikir dalam menata wilayah masing-masing. "Pemprov DKI akan memberikan kesempatan belajar ke luar negeri. Supaya cara pandang, berpikir mengalami perubahan," ujarnya dalam acara itu.
Sepuluh kelurahan yang masuk babak final adalah Kebon Sirih, Kelapa Gading Timur, Srengseng, Sukabumi Utara, Taman Sari, Kebon Baru, Cilandak Barat, Utan Kayu Selatan, Malaka Sari, dan Pulau Panggang. Mereka bersaing dalam empat kategori penilaian: bersih, nyaman, indah, dan sejahtera.
Dari kompetisi itu, Kelurahan Utan Kayu Selatan keluar sebagai juara kategori nyaman, Kelurahan Kelapa Gading Timur unggul di kategori indah, dan Kelurahan Sukabumi Utara menonjol pada kategori sejahtera. Sementara itu, kategori bersih tidak disebutkan pemenangnya dalam pengumuman tersebut.
Benyamin S Award sendiri merupakan agenda tahunan Pemprov DKI untuk mengapresiasi kinerja lurah dalam meningkatkan kualitas lingkungan. Ajang ini dirancang sebagai bentuk penghormatan bagi kelurahan yang berkomitmen mewujudkan Jakarta yang bersih, nyaman, indah, dan sejahtera.
"Kesempatan belajar ke luar negeri diharapkan mengubah cara pandang dan cara berpikir para lurah dalam menata daerah," kata Pramono Anung.
Langkah Pramono mengirim lurah ke luar negeri bukan tanpa dasar. Sejumlah kota besar dunia, seperti Singapura, Seoul, dan Tokyo, kerap menjadi rujukan dalam pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau, hingga pelibatan warga dalam pembangunan. Studi banding semacam ini diharapkan tidak berhenti pada kunjungan seremonial, tetapi menghasilkan transfer pengetahuan yang bisa diterapkan di tingkat kelurahan.
Namun, efektivitas program ini akan bergantung pada desain pasca-kunjungan. Tanpa mekanisme diseminasi dan implementasi yang jelas, risiko studi banding menjadi sekadar wisata dinas sulit dihindari. Publik tentu menunggu bagaimana Pemprov DKI memastikan ilmu yang diperoleh para lurah benar-benar berdampak pada perbaikan layanan di 44 kecamatan dan 267 kelurahan di Jakarta.
Ke depan, Benyamin S Award bisa menjadi katalis peningkatan kapasitas aparatur jika disertai evaluasi dampak yang terukur. Apakah program belajar ke luar negeri ini akan menjadi model pengembangan SDM aparatur yang berkelanjutan, atau hanya berhenti sebagai insentif musiman?



