Patrick Stewart Tutup Usia: Akademi Oscars dan RSC Kenang Warisan Akting yang Menyentuh
Baca dalam 60 detik
- Sir Patrick Stewart meninggal di usia 86 tahun setelah berjuang melawan Alzheimer dan demensia Lewy Body.
- Akademi Film dan Royal Shakespeare Company memberikan penghormatan atas kontribusinya di layar lebar dan panggung teater.
- Karya ikoniknya sebagai Captain Picard dan Professor X meninggalkan jejak mendalam bagi generasi penonton.

Aktor legendaris Sir Patrick Stewart menghembuskan napas terakhir di kediamannya di Los Angeles pada Rabu (28/10/2026) dalam usia 86 tahun. Kabar duka ini disampaikan setelah ia berjuang melawan penyakit Alzheimer dan demensia Lewy Body. Kepergiannya memicu gelombang penghormatan dari berbagai kalangan, termasuk dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences dan Royal Shakespeare Company (RSC).
Akademi, yang dikenal sebagai penyelenggara ajang Oscar, menyatakan bahwa Stewart memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat karakter paling kuat sekalipun terasa sangat manusiawi. Dalam pernyataan yang diunggah di Instagram, Akademi menyoroti peran ikoniknya sebagai Captain Jean-Luc Picard dalam Star Trek: The Next Generation dan Professor Charles Xavier dalam waralaba X-Men. Menurut mereka, Stewart membawa kelembutan pada setiap peran yang membuat penonton merasa mengenal karakter tersebut secara pribadi.
Royal Shakespeare Company juga menyampaikan duka mendalam. Mereka menyebut Stewart sebagai salah satu aktor klasik Shakespeare terbaik di generasinya. Stewart pertama kali bergabung dengan RSC pada 1966 dan menjadi anggota inti hingga 1982, tampil dalam lebih dari 40 produksi. Peran-peran besarnya meliputi Shylock, Prospero, Macbeth, Antony, Claudius, dan Henry IV. Meskipun namanya mendunia berkat layar lebar, ia tetap terhubung erat dengan Stratford-upon-Avon dan RSC sepanjang kariernya.
Karier Stewart yang membentang lebih dari enam dekade telah menyentuh berbagai generasi. Perannya sebagai Picard dalam Star Trek tidak hanya ikonik di dunia fiksi ilmiah, tetapi juga menjadi simbol kepemimpinan yang bijaksana. Sementara sebagai Professor X, ia memberikan dimensi baru pada karakter superhero dengan menunjukkan kerentanan dan kekuatan sekaligus. Akademi menekankan bahwa di balik suaranya yang khas, Stewart memahami bahwa pahlawan terbesar pun bisa merasa tidak pasti, dan bahwa belas kasih bukanlah kelemahan.
"Ada sesuatu yang luar biasa dalam cara Sir Patrick Stewart membuat karakter paling kuat sekalipun terasa sangat manusiawi. Baik saat memimpin Enterprise atau membimbing generasi mutant muda, ia membawa kelembutan yang membuat kita merasa mengenal mereka," demikian pernyataan Akademi.
Bagi industri hiburan Indonesia, kepergian Stewart menjadi pengingat akan pentingnya akting yang autentik dan kemampuan menyentuh emosi penonton. Banyak aktor Tanah Air yang mengagumi karyanya, terutama dalam membangun karakter yang kompleks. Warisan Stewart juga menginspirasi para pelaku teater dan film untuk terus mendalami seni peran, sebagaimana ia memadukan kesuksesan di panggung Shakespeare dan layar Hollywood.
Kepergian Stewart meninggalkan celah besar di dunia seni peran. Namun, karya-karyanya akan terus hidup melalui berbagai platform streaming dan arsip teater. Publik dapat mengenangnya melalui peran-peran ikonik yang telah menjadi bagian dari budaya populer. Pertanyaannya, akankah ada aktor yang mampu menyamai dedikasi dan kedalaman emosi seperti yang ditunjukkan Stewart? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi standar yang ia tetapkan akan terus menjadi rujukan.



