Norwegia Balas 'Shithouse' Trump dengan Toilet Desainer: Humor Diplomasi di Tengah Nobel
Baca dalam 60 detik
- Visit Norway merespons sindiran Trump yang menyebut Norwegia 'negara jamban' dengan kampanye wisata toilet-toilet ikonik.
- Pernyataan Trump muncul setelah ia kecewa karena Nobel Perdamaian 2025 jatuh ke Navi Pillay, bukan dirinya.
- Pakar retorika menilai balasan berhumor lebih efektif meredam provokasi daripada respons serius yang memperpanjang konflik.

Badan promosi pariwisata Norwegia, Visit Norway, memilih jalur tak biasa ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan hinaan 'negara jamban' (shithouse country) terhadap negara itu: mereka mengangkat deretan toilet umum berdesain arsitektural sebagai bahan kampanye. Langkah tersebut menjadi bantahan tidak langsung yang menyoroti keunggulan Norwegia di bidang desain dan pariwisata, sekaligus meredam tensi politik yang dipicu kekecewaan Trump atas hasil Nobel Perdamaian.
Dalam unggahan di situs resminya, Visit Norway mempertanyakan apakah toilet-toilet di negaranya layak disebut yang terbaik di dunia. Mereka menampilkan foto sejumlah fasilitas umum yang tersebar di 18 rute pemandangan (scenic routes) di Norwegia, yang pembangunannya melibatkan arsitek terkemuka dan beberapa di antaranya telah meraih penghargaan internasional. Toilet-toilet itu menawarkan pemandangan fjord, sungai deras, air terjun, dan titik pandang menakjubkan, sehingga pengunjung diajak berlama-lama menikmati lanskap bahkan tanpa keperluan mendesak.
Beberapa contoh yang ditonjolkan antara lain toilet di titik pandang Stegastein, kawasan Sognefjord, Norwegia barat, yang oleh majalah arsitektur DesignCurial pernah dimasukkan dalam sepuluh toilet umum terbaik dunia. Toilet ini dikenal karena jendela kaca gelap berukuran besar yang memungkinkan pengunjung melihat panorama fjord dari dalam tanpa terlihat dari luar. Selain itu, ada toilet bergelombang di Ureddplassen, pesisir Helgeland, yang oleh sejumlah publikasi internasional disebut sebagai toilet paling indah di dunia; toilet modern bertenaga surya di titik pandang Utsikten; toilet Tungeneset yang instagramable; serta toilet segitiga 'emas' di Pulau Senja.
Hinaan Trump disampaikan dalam kampanye di Michigan menjelang pemilu sela AS. Ia menyebut Norwegia 'menyedihkan' dan 'telah menjadi negara jamban', istilah yang sebelumnya ia gunakan untuk Haiti, Libya, Somalia, dan Yaman. Ia juga menegaskan tidak akan menerima migran dari Norwegia karena 'tidak mendapatkan Hadiah Nobel'. Sebelumnya, Trump mengkritik keras keputusan pemberian Nobel Perdamaian kepada Navi Pillay, mantan hakim Mahkamah Pidana Internasional, dan menyebutnya sebagai noda bagi Norwegia.
"Ini seperti pengganggu di taman kanak-kanak. Jika kita terlalu serius, si pengganggu menang," kata Jens Kjeldsen, guru besar retorika Universitas Bergen, kepada televisi publik NRK.
Evgenia Egorova, konsultan senior Visit Norway, mengatakan respons di media sosial mendapat sambutan luar biasa. "Dunia perlu sedikit tawa. Kami berpikir: mari hadapi dengan kebaikan dan sedikit humor," ujarnya. Visit Norway juga menyiapkan toilet baru, termasuk toilet terinspirasi hutan yang menggunakan kayu kering dari lebih dari 60 pohon, dan mengajak publik menyambut 'pit stop dalam hidup Anda'.
Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide menegaskan bahwa Hadiah Nobel Perdamaian tidak diberikan oleh negara atau pemerintah Norwegia, melainkan oleh komite Nobel yang independen—sesuatu yang menurutnya diketahui betul oleh Trump. "Kami telah mengingatkannya, kalau ada yang bertanya-tanya," kata Eide.
Di tengah dinamika politik global, respons Norwegia menunjukkan bahwa diplomasi publik tidak selalu harus berupa pernyataan resmi yang kaku. Pendekatan humor dan promosi budaya dapat menjadi instrumen lunak untuk menjaga citra negara tanpa memperkeruh suasana. Namun, insiden ini juga menggarisbawahi bagaimana pernyataan seorang pemimpin negara dapat dengan cepat memicu reaksi internasional, terutama bila menyentuh isu bergengsi seperti Nobel. Ke depan, publik akan menantikan apakah gaya komunikasi semacam ini akan menjadi preseden dalam menanggapi provokasi serupa, atau justru memperuncing ketegangan bilateral.



