Teleskop Rubin Temukan Kandidat Planet Kerdil Raksasa yang Tersembunyi di Sabuk Kuiper
Baca dalam 60 detik
- Objek bernama 2026 ED138 diperkirakan berdiameter 600–1.500 km dan mengorbit Matahari dalam rentang jarak yang mirip Pluto.
- Penemuan ini menjadi kandidat planet kerdil pertama dari Observatorium Vera C. Rubin, yang baru beroperasi penuh sejak 2025.
- Jika terkonfirmasi, ED138 akan memperkaya pemahaman tentang populasi objek trans-Neptunus dan berpotensi mengungkap keberadaan Planet Nine.

Astronom mengumumkan penemuan objek besar di Sabuk Kuiper yang kemungkinan memenuhi syarat sebagai planet kerdil. Objek tersebut diberi nama 2026 ED138, dan merupakan kandidat planet kerdil pertama yang ditemukan oleh Observatorium Vera C. Rubin—teleskop generasi baru yang mulai beroperasi pada Juni 2025. Dengan diameter estimasi antara 600 hingga 1.500 kilometer, objek ini bisa jadi salah satu dunia terbesar yang pernah terdeteksi di wilayah trans-Neptunus, setara dengan Makemake atau Haumea.
Penemuan ini bermula pada 13 Oktober 2026, ketika astrofisikawan Matthew Holman dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics tengah menganalisis data Rubin menggunakan perangkat lunak yang dikembangkan bersama rekannya, Kevin Napier. Ia menemukan titik bergerak yang tidak biasa di antara bintang-bintang latar. “Reaksi pertama saya adalah tidak percaya bercampur gembira,” kata Holman. “Objek seperti ini sangat langka, jadi saya langsung memeriksa apakah saya atau kode saya melakukan kesalahan.”
Tim kemudian melacak objek itu melalui 30 deteksi dalam 20 malam pengamatan Rubin antara 4 Maret dan 11 Juli 2026. Namun, kejutan sesungguhnya muncul ketika mereka menelusuri arsip data dari Dark Energy Camera. Ternyata, objek tersebut telah terekam pada Februari 2016, lalu muncul lagi pada 2017, 2018, 2019, dan 2023. Selama satu dekade, bukti keberadaan dunia jauh ini tersimpan dalam citra astronomi, menunggu seseorang menemukannya.
Mengapa objek sebesar ini baru terdeteksi? Ada beberapa faktor. Pertama, jaraknya yang sangat jauh dari Matahari membuatnya tampak sangat redup pada panjang gelombang optik. Kedua, orbitnya miring 24,5 derajat terhadap bidang tata surya, sehingga posisinya di langit tidak biasa. Ketiga, latar belakang Bima Sakti yang penuh bintang membuat upaya identifikasi semakin sulit. Namun, kemampuan Rubin dalam memindai langit selatan secara berulang dengan kamera digital terbesar yang pernah dibuat—3,2 gigapiksel—membuka jalan bagi penemuan ini.
Ukuran pastinya masih menjadi misteri. Para astronom hanya dapat memperkirakan diameter berdasarkan kecerahan dan jaraknya, tetapi ada jebakan: objek kecil dengan permukaan es yang sangat reflektif bisa tampak sama terangnya dengan objek besar yang permukaannya gelap. Tanpa mengetahui albedo (tingkat reflektivitas) ED138, rentang 600–1.500 km adalah tebakan terbaik. Meski demikian, pada ukuran tersebut, gravitasi objek ini kemungkinan cukup kuat untuk membentuknya menjadi bola, ciri utama planet kerdil. Pengamatan lanjutan, terutama pada inframerah, akan membantu memastikan statusnya dan memberi nama yang lebih mudah diingat ketimbang “2026 ED138”.
Penemuan ini bukan sekadar catatan kaki. Observatorium Rubin, yang dirancang untuk survei langit selama sepuluh tahun, diperkirakan akan menemukan ribuan objek baru di tata surya bagian luar. Salah satu target paling dinanti adalah Planet Nine—dunia hipotetis yang massanya besar namun belum terlihat, yang diusulkan untuk menjelaskan orbit aneh sejumlah objek trans-Neptunus. Rubin bisa menjadi kunci untuk mengungkap apakah orbit-orbit aneh itu disebabkan oleh planet sungguhan atau hanya kumpulan batuan yang berperilaku seperti planet. “Rubin akan mengamati seluruh langit selatan berulang kali selama sepuluh tahun,” ujar Holman. “Jadi objek lain yang bersembunyi di tempat yang dilewati survei sebelumnya kini dalam jangkauan.”
Bagi Indonesia, penemuan ini lebih bersifat inspiratif ketimbang praktis. Namun, bagi komunitas astronomi global, ini menandai babak baru dalam eksplorasi tata surya. Dengan kemampuan Rubin yang belum pernah ada sebelumnya, pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan menemukan lebih banyak dunia jauh, melainkan seberapa cepat kita akan menemukannya—dan apakah salah satunya adalah Planet Nine yang selama ini misterius.



