Mid-Century Modern Kehilangan Pamor: Gen Z Beralih ke Cottagecore dan Chrome
Baca dalam 60 detik
- Gaya mid-century modern yang identik dengan milenial kini dianggap ketinggalan zaman oleh generasi muda, digantikan oleh estetika cottagecore dan sentuhan chrome.
- Harga furnitur vintage ikonik seperti sideboard G Plan melonjak tajam, memicu keluhan bahwa desain ini telah menjadi terlalu elitis.
- Para desainer menilai pergeseran selera ini didorong oleh keinginan menghindari interior seragam dan meningkatnya kesadaran akan dampak lingkungan dari fast furniture.

Furnitur mid-century modern, yang selama satu dekade menjadi simbol keanggunan hunian kaum milenial, kini menghadapi tantangan besar: generasi Z dan milenial muda mulai meninggalkannya. Gaya yang pernah dipuja karena garisnya yang bersih dan fungsional itu sekarang dianggap terlalu umum, bahkan cenderung membosankan, oleh sebagian konsumen yang mendambakan tampilan lebih personal dan eksentrik.
Laura Budds, seorang pedagang furnitur vintage di Norfolk, Inggris, mengakui bahwa popularitas gaya ini telah mencapai puncaknya. Meski enggan menyebutnya “cringe”, ia melihat tren mulai menurun. Budds, yang telah berkecimpung di pasar barang antik modern, harus mendiversifikasi dagangannya untuk mengikuti selera generasi yang lebih muda. Menurutnya, gen Z tidak terlalu terikat pada era atau desainer tertentu; mereka membeli apa yang disukai, termasuk barang antik yang lebih tua atau elemen whimsical seperti taksidermi.
Istilah “mid-century modern” pertama kali dipopulerkan oleh buku Cara Greenberg pada 1984, merujuk pada desain dari 1940-an hingga 1970-an yang menekankan kesederhanaan dan fungsi. Namun, Greenberg sendiri menilai istilah itu kini kehilangan makna karena digunakan secara sembarangan, dari karya museum hingga replika murah buatan China. Ia tetap membela karya terbaik dari era itu, seperti kursi Eames dan Tulip chair karya Eero Saarinen, sebagai inovasi paling bergaya yang pernah dihasilkan Amerika. Namun, ia mengakui bahwa sofa empuk bukanlah spesialisasi gaya ini, yang cenderung kaku dan dirancang untuk percakapan formal, bukan untuk bersantai.
Keith Stephenson, pendiri perusahaan desain Mini Moderns, menegaskan bahwa filosofi awal mid-century adalah aksesibilitas: desain bagus dengan harga terjangkau untuk sebanyak mungkin orang. Namun, harga pasar vintage yang melambung telah mengubah citra itu. Natasha Landers, desainer interior di London Timur, mencatat bahwa rak bukunya yang dibeli seharga £30 kini bernilai jauh lebih tinggi, sementara meja kopi £50-nya bisa laku £200. Meski demikian, ia menolak menganggap desain yang populer otomatis menjadi buruk. “Desain yang baik tidak menjadi buruk hanya karena banyak orang menikmatinya,” ujarnya, seraya menyoroti bahwa keseragaman hunian adalah masalah sebenarnya.
Keseragaman itulah yang kini menjadi pemicu utama keengganan generasi muda. Sheree Millington, penulis copy di Margate, dan Lucy Hayes, penulis sekaligus sutradara di London Timur, sepakat bahwa rumah ideal mereka adalah campuran berbagai gaya dan era, bukan kapsul waktu dari satu dekade tertentu. Millington melihat kebangkitan gaya Inggris klasik seperti cottagecore dan townhouse dengan perpaduan pola serta bahan yang tidak serasi. Ia juga memperhatikan kembalinya chrome, material khas 1990-an yang sempat redup.
Carina Harford, desainer interior dari London Barat, menyatakan bahwa kegilaan membeli satu set furnitur mid-century sudah berakhir. Ia mengkritik furnitur imitasi yang muncul lima tahun terakhir karena dianggap merusak esensi desain dan berdampak buruk pada lingkungan. “Berhenti membeli barang baru jika tidak perlu,” tegasnya. Harford sendiri mengoleksi barang bekas dari berbagai era, seperti meja kartu Victoria lipat seharga £110 dan lampu dari gedung biliar yang tutup seharga £40, yang ia padukan secara eklektik.
“Ada sedikit sikap snob jika kita memutuskan sesuatu tidak keren lagi hanya karena lebih banyak orang dapat menikmatinya. Masalahnya adalah ketika rumah semua orang terlihat sama.” — Natasha Landers, desainer interior
Fenomena ini bukan sekadar soal selera estetika. Di baliknya, ada pergeseran nilai konsumsi: dari keinginan memiliki barang ikonik menjadi keinginan menunjukkan identitas unik. Media sosial seperti Pinterest dan Instagram berperan besar dalam menyebarkan gaya milenial secara masif, tetapi juga mempercepat kejenuhan. Ketika toko-toko besar seperti Marks & Spencer, Dunelm, hingga H&M dan Temu membanjiri pasar dengan replika mid-century, gaya tersebut kehilangan aura eksklusivitasnya. Konsumen muda kini lebih tertarik pada barang antik asli dari era lain, yang memberi kesan lebih personal dan autentik.
Bagi pasar furnitur global, tren ini menandakan perlunya diversifikasi. Pedagang vintage seperti Budds telah mengalihkan fokus ke barang-barang dari era Victoria atau campuran gaya. Sementara itu, desainer dan konsumen di Indonesia yang selama ini mengagumi estetika mid-century modern—terutama karya-karya lokal dari kayu jati—mungkin perlu memperhatikan pergeseran ini. Di dalam negeri, gaya ini masih populer di kafe dan hotel, tetapi permintaan rumah tangga bisa terpengaruh jika gelombang “anti-keseragaman” merambah. Pertanyaannya, akankah mid-century modern benar-benar punah, atau hanya berevolusi menjadi bagian dari eklektisisme yang lebih luas?



