Restoran Sardinia Larang Ponsel di Meja Makan, Uji Coba Dimulai Pekan Depan
Baca dalam 60 detik
- Lima belas restoran di Sardinia berpartisipasi dalam uji coba sebulan yang mewajibkan keluarga menitipkan gawai sebelum bersantap.
- Inisiatif 'A tavola senza schermi' digagas ombudsman anak setempat dan didukung asosiasi restoran Fipe-Confcommercio.
- Program ini menyediakan 'reunion kit' berisi permainan dan panduan digital untuk memicu percakapan antaranggota keluarga.

Sebanyak 15 restoran di Sardinia, Italia, mulai pekan depan akan melarang pengunjung—khususnya keluarga dengan anak—menggunakan ponsel dan perangkat lain selama berada di meja makan. Kebijakan ini bagian dari uji coba satu bulan bertajuk "A tavola senza schermi" (Di Meja Tanpa Layar) yang bertujuan mengembalikan interaksi tatap muka saat bersantap.
Prakarsa ini digagas Anna Cau, ombudsman anak untuk pulau tersebut, yang sebelumnya menjabat sebagai hakim juvenile. Menurut Cau, pendekatan ini tidak sekadar melarang, tetapi menciptakan lingkungan yang mendukung peran orang tua dan membantu anak berinteraksi. "Kami membutuhkan ruang nyata yang memperkuat kehidupan orang dewasa dan anak-anak," ujarnya, seperti dikutip The Guardian.
Setelah keluarga menyerahkan gawai kepada staf restoran, mereka akan menerima "reunion kit"—paket berisi permainan dan gambar yang dirancang Federasi Dokter Anak Italia. Kit itu juga dilengkapi brosur tentang risiko paparan digital berlebihan dan kiat mengelola media sosial di rumah. "Restoran akan menawarkan aktivitas alternatif berupa permainan yang mendorong interaksi," kata Cau. Permainan tersebut dibatasi waktu, menyesuaikan durasi makan siang atau malam.
Emanuele Frongia, presiden Fipe-Confcommercio Sardinia, menyatakan restoran-restoran tersebut langsung setuju berpartisipasi. "Restoran berperan penting dalam membangun keintiman yang ditemukan kembali saat keluarga makan di luar," katanya. Namun, ia mengamati bahwa obrolan ramai kini sering digantikan keheningan karena orang sibuk dengan gawai. "Sering kali anak diberi ponsel agar tenang," tambahnya.
Inisiatif ini menyusul meningkatnya kekhawatiran di Eropa tentang dampak layar terhadap perkembangan anak. Berbagai negara telah memberlakukan pembatasan penggunaan ponsel di sekolah, tetapi pendekatan di Sardinia menyasar ruang publik informal seperti restoran. Cau menekankan bahwa program ini bagian dari filosofi yang lebih luas untuk menangani masalah kompleks tersebut, bukan sekadar larangan.
Di Indonesia, gagasan serupa mungkin relevan mengingat tingginya penetrasi ponsel di kalangan keluarga. Namun, pendekatan sukarela di restoran bisa menjadi alternatif yang tidak terlalu memberatkan dibanding regulasi formal. Beberapa kafe di Jakarta dan Surabaya pernah menerapkan kebijakan serupa, meski belum ada gerakan terorganisir seperti di Sardinia.
Ke depan, keberhasilan uji coba ini akan diukur dari seberapa jauh kebiasaan baru terbentuk. Jika respons positif, Fipe-Confcommercio berencana memperluas program secara sukarela ke restoran lain di pulau itu. Pertanyaannya, apakah konsumen akan menerima pembatasan semacam ini sebagai bagian dari gaya hidup sehat, atau justru menganggapnya campur tangan terhadap privasi?



