Ricciardo Akui Keputusan Hengkang dari Red Bull 2018 sebagai Penyesalan Terbesar
Baca dalam 60 detik
- Daniel Ricciardo mengaku menyesali keputusannya meninggalkan Red Bull akhir musim 2018.
- Ia menilai peluang terbaiknya meraih gelar juara dunia hilang akibat perpindahan ke Renault.
- Ricciardo tak mau menyalahkan Verstappen, tetapi mengakui penasaran dengan skenario alternatif kariernya.

Daniel Ricciardo akhirnya angkat bicara soal keputusan kontroversialnya delapan tahun lalu. Dalam podcast Beyond The Grid, pembalap Australia itu mengaku bahwa meninggalkan Red Bull pada akhir musim 2018 adalah salah satu penyesalan terbesar dalam kariernya. Ia yakin, andai bertahan, peluangnya menjadi juara dunia Formula 1 akan jauh lebih besar.
Keputusan hengkang ke Renault untuk musim 2019 sempat mengejutkan paddock. Saat itu, Ricciardo telah mengoleksi tujuh kemenangan grand prix bersama Red Bull dan dianggap sebagai salah satu pembalap tercepat di grid. Namun, ia memilih mencari tantangan baru karena merasa mulai nyaman dan kehilangan motivasi kompetitif. โSaya rasa saya hanya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Jadi tidak sesederhana hitam dan putih,โ ujarnya seperti dikutip Motorsport.com.
Konsekuensinya besar. Sepeninggal Ricciardo, Max Verstappen menjadi pemimpin tunggal tim dan menjelma dominan. Pembalap Belanda itu meraih empat gelar dunia beruntun sejak 2021. Sementara Ricciardo hanya menambah satu kemenangan lagi, yakni di Monza 2021 bersama McLaren, sebelum kariernya di F1 berakhir pada 2024. Ia sempat kembali ke keluarga Red Bull sebagai pembalap cadangan pada 2023 dan membalap untuk tim satelit, tetapi didepak setelah GP Singapura 2024.
Dalam podcast tersebut, Ricciardo menegaskan bahwa tim sebenarnya ingin ia bertahan. โJika boleh menjawab singkat, ya, saya berharap saya dulu bertahan. Saya tidak ingin mengatakan ini menghantui saya, tetapi itulah satu hal yang tidak diketahui yang sangat membuat saya penasaran,โ tuturnya. Ia juga menyadari bahwa kepindahannya ke Renault telah merenggut kesempatan terbaiknya untuk bersaing memperebutkan gelar juara dunia.
โJika saya bisa menjadi juara dunia, apakah itu peluang terbaik saya? Ya, tentu saja. Saya sangat ingin tahu realitas lain jika saya tetap di Red Bull.โ
Meski demikian, Ricciardo enggan mengklaim bahwa ia pasti bisa mengalahkan Verstappen. Menurutnya, pernyataan seperti itu tidak adil. Namun, ia yakin kemampuan balapnya saat itu masih di level puncak, terbukti dengan kemenangan di GP Monako dan pole position di Meksiko pada 2018. โSaya tidak meragukan kemampuan saya untuk terus bersaing dengan Max. Jelas setelah titik itu karier saya berjalan berliku dan bergelombang. Itu momen yang sangat menentukan,โ imbuhnya.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kisah Ricciardo menjadi pengingat bahwa keputusan karier di dunia balap tidak selalu soal angka di atas kertas. Faktor mental, kejenuhan, dan dorongan untuk keluar dari zona nyaman kerap berperan besar. Hal ini juga relevan dengan pembalap muda Indonesia yang sedang meniti karier di ajang internasional, seperti di kejuaraan junior atau bahkan F1 junior, di mana pilihan tim dan waktu yang tepat bisa menentukan masa depan.
Kini, dengan karier F1 Ricciardo yang telah berakhir, ia tinggal memiliki satu misteri yang tak akan pernah terpecahkan: seberapa besar potensinya jika tetap mengenakan seragam Red Bull. Apakah ia akan menjadi juara dunia, atau justru tetap berada di bawah bayang-bayang Verstappen? Publik boleh berspekulasi, tetapi Ricciardo sendiri telah memberi jawaban: ya, ia menyesal.



