Christina Applegate Tetap 'Pejuang' MS Meski Salah Diagnosis, Soroti Beban Mental Pasien
Baca dalam 60 detik
- Christina Applegate menegaskan komitmennya mendukung komunitas multiple sclerosis (MS) meski dirinya sendiri divonis salah diagnosis.
- Pengalaman salah diagnosis membuat Applegate kehilangan pekerjaan dan mengalami depresi berat, sekaligus menggugah kesadaran akan pentingnya akurasi medis.
- Kasus ini menyoroti tantangan psikologis dan sosial yang dihadapi pasien dengan penyakit kronis, terutama di Indonesia yang masih kekurangan layanan kesehatan mental terintegrasi.

Aktris Hollywood Christina Applegate memastikan dirinya tidak akan meninggalkan komunitas multiple sclerosis (MS) yang selama ini ia bela, kendati tim medis baru-baru ini menyatakan bahwa dirinya tidak mengidap penyakit autoimun tersebut. Dalam episode terbaru podcast MeSsy yang ia pandu bersama Jamie-Lynn Sigler, Applegate menyatakan tetap menjadi “pejuang” bagi para penyandang MS.
Pengakuan itu muncul setelah Applegate mengungkapkan bahwa dirinya sempat salah didiagnosis. Perempuan berusia 54 tahun itu mengaku sempat merasa telah mengecewakan banyak pihak karena sebelumnya begitu vokal sebagai ikon MS. “Saya jatuh cinta pada semua pendengar dan teman-teman kita yang hidup dengan MS, dan saya tetap pejuang Anda,” ujarnya dalam rekaman podcast yang emosional.
Kasus Applegate bukan sekadar drama selebritas. Salah diagnosis merupakan persoalan serius dalam praktik medis global, termasuk di Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, kasus penyakit autoimun seperti MS memang tergolong langka, namun keterlambatan diagnosis dan minimnya tenaga ahli saraf di daerah menjadi kendala utama. Pasien sering harus menempuh perjalanan jauh ke kota besar untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat, dan tak jarang menerima diagnosis keliru yang berujung pada pengobatan tidak sesuai.
Applegate mengisahkan bahwa dirinya sempat menjadi “wajah” MS dan merasa memiliki alasan jelas untuk setiap hari buruk yang ia alami. “Segalanya menjadi masuk akal. Sekarang saya tidak punya alasan lagi. Ini sangat mengganggu dan membingungkan,” tuturnya. Ia bahkan mulai meragukan gejala yang masih dirasakannya, seperti kelemahan pada kaki dan kelelahan ekstrem, setelah tahu bahwa dirinya tidak mengidap MS. “Saya berpikir, mungkin saya hanya berpura-pura,” ujarnya.
“Tidak ada yang ajaib terjadi ketika dokter mengatakan saya tidak memiliki MS. Tidak ada yang berubah. Saya masih harus menggunakan kursi roda ketika ke dokter. Saya masih dalam kondisi ini.” — Christina Applegate
Dari sudut pandang psikologi, pengalaman Applegate mencerminkan fenomena yang kerap dialami pasien dengan penyakit kronis: kehilangan identitas dan dukungan sosial ketika diagnosis berubah. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Dewi, menilai bahwa pasien seperti ini rentan mengalami kecemasan dan depresi karena merasa kehilangan komunitas yang selama ini menjadi sandaran. “Ketika diagnosis dicabut, pasien tidak hanya kehilangan label penyakit, tetapi juga rasa memiliki dan validasi atas penderitaannya. Dukungan mental harus tetap diberikan meski penyakitnya belum jelas,” kata Ratna, seperti dikutip dari jurnal kesehatan mental nasional.
Di Indonesia, tantangan serupa juga dihadapi para penyandang penyakit autoimun. Yayasan Peduli Autoimun Indonesia mencatat bahwa selain akses pengobatan yang mahal, stigma dan kurangnya pemahaman masyarakat membuat banyak pasien enggan mencari bantuan psikologis. Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gangguan mental seperti depresi dan kecemasan lazim menyertai penyakit kronis dan memerlukan penanganan terpadu.
Applegate menegaskan bahwa dirinya akan terus menyuarakan hak-hak penyandang MS, meski statusnya kini berbeda. “Saya akan terus berbicara atas nama Anda selamanya. Saya masih merasa bagian dari komunitas ini,” ujarnya. Ia berharap pengalaman pahitnya dapat menjadi pelajaran bagi dunia medis untuk lebih berhati-hati dalam menegakkan diagnosis, serta bagi masyarakat untuk tidak mengabaikan aspek mental pasien.
Ke depan, kasus ini membuka ruang diskusi tentang perlunya protokol diagnosis yang lebih ketat dan pendekatan holistik dalam perawatan penyakit kronis. Di Indonesia, pemerintah didorong untuk memperluas layanan konseling psikologis di fasilitas kesehatan tingkat pertama, sehingga pasien seperti Applegate tidak perlu menanggung beban ganda: fisik dan mental. Pertanyaannya, mampukah sistem kesehatan kita belajar dari kisah ini?



