Danny Masterson Kalah Banding, Vonis 30 Tahun Penjara Tetap Berdiri
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan banding California menolak permohonan Danny Masterson, sehingga hukuman 30 tahun hingga seumur hidup untuk dua kasus pemerkosaan tetap berlaku.
- Majelis hakim menilai dalil bias agama dan kedaluwarsa tidak berdasar, sementara tim kuasa hukum menuding ada bukti baru yang diabaikan.
- Upaya hukum berikutnya akan dibawa ke Mahkamah Agung California, memperpanjang babak akhir sengketa hukum yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.

Danny Masterson, aktor yang dikenal lewat serial That '70s Show, gagal membatalkan putusan pengadilan tahun 2023 yang menyatakan dirinya bersalah atas dua tuduhan pemerkosaan dengan kekerasan. Panel tiga hakim di pengadilan banding California menolak seluruh argumen yang diajukan tim pembela, sehingga hukuman 30 tahun hingga seumur hidup yang dijatuhkan kepada pria berusia 50 tahun itu tetap dipertahankan.
Keputusan tersebut menjadi pukulan telak bagi upaya hukum Masterson yang telah berjalan sejak ia mengajukan banding pada tahun berikutnya. Dalam permohonannya, kuasa hukum Masterson mendalilkan bahwa Hakim Charlaine Olmedo, yang memimpin persidangan, memiliki prasangka terhadap ajaran Scientology yang dianut kliennya. Mereka juga menuding sejumlah pernyataan hakim telah melanggar hak konstitusional Masterson atas kebebasan beragama.
Namun, majelis banding menegaskan bahwa tidak ada bukti permusuhan atau penyimpangan dari sikap netral terhadap Scientology. Mereka menulis dalam putusan bahwa juri dalam perkara itu tidak diminta untuk menilai benar atau salahnya doktrin gereja, sehingga kehadiran kesaksian ahli tentang praktik kepercayaan tersebut tidak melanggar Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat.
Selain isu agama, tim pembela juga mempersoalkan berlakunya batas waktu 10 tahun yang mereka klaim seharusnya menghalangi penuntutan. Argumen ini dipatahkan oleh majelis hakim yang menyatakan bahwa ketentuan tersebut tidak berlaku ketika tindak pidana pemerkosaan dilakukan terhadap lebih dari satu korban. Permohonan lain terkait keputusan hakim dalam menerima bukti dan permintaan pemberitahuan yudisial juga ditolak karena dinilai tidak melanggar hak konstitusional terdakwa.
Panel banding turut menolak petisi habeas corpus terpisah yang menyebut Masterson tidak mendapat pembelaan yang memadai. Kuasa hukum Masterson, Cliff Gardner, menyatakan bahwa putusan tersebut mengabaikan bukti baru yang telah diajukan lebih dari setahun terakhir. Menurutnya, dua saksi pelapor pernah menyatakan bahwa pengalaman seksual dengan Masterson bersifat konsensual dan positif. Gardner menegaskan kliennya sedang menjalani hukuman seumur hidup untuk kejahatan yang tidak ia lakukan.
"Tidak ada seorang pun di California โ baik terdakwa maupun korban kejahatan seksual โ yang menjadi lebih aman dengan keputusan hari ini," kata Gardner seperti dikutip dari pernyataannya.
Rekan pengacara Masterson, Eric Multhaup, menyebut putusan itu "salah secara fundamental". Ia mengklaim petisi habeas corpus memuat bukti kuat yang tidak pernah disampaikan kepada juri, termasuk percakapan dua saksi pelapor dengan teman dekat mereka sebelum tuduhan muncul. Multhaup menilai pengadilan banding hanya merangkum bukti dari pihak penuntut dalam satu paragraf tanpa mempertimbangkan bukti yang meringankan.
Kasus ini bermula dari laporan dua perempuan yang merupakan mantan anggota Gereja Scientology. Jaksa penuntut berargumen bahwa para korban tidak segera melapor karena takut akan pembalasan berdasarkan aturan gereja yang melarang anggota melaporkan sesama anggota ke polisi. Persidangan tahun 2023 lalu menghadirkan seorang mantan Scientologist sebagai saksi ahli untuk menjelaskan keyakinan dan praktik gereja tersebut.
Dengan ditolaknya banding, tim hukum Masterson kini bersiap mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung California. Langkah ini menandai babak baru dalam pertarungan hukum yang telah berlangsung lebih dari dua dekade, sekaligus mempertanyakan sejauh mana pengadilan tinggi akan menilai kembali bukti-bukti yang selama ini tidak tersentuh oleh majelis banding. Akankah Mahkamah Agung California memberikan angin segar bagi upaya pembelaan, atau justru memperkuat putusan yang telah ada?



