Der Klassiker: Mengapa Bayern Lebih Berpeluang Kalahkan Dortmund
Baca dalam 60 detik
- Bayern Munich menyambut Borussia Dortmund di Allianz Arena dengan modal rekor kandang impresif dan dominasi historis atas rivalnya.
- Harry Kane yang baru meraih Ballon d'Or 2026 menjadi ancaman utama, didukung lini serang produktif dan pertahanan solid.
- Dortmund menghadapi ujian berat untuk memutus tren buruk di Munich dan menjaga persaingan gelar Bundesliga.

Bayern Munich akan menjamu Borussia Dortmund dalam laga bertajuk Der Klassiker di Allianz Arena, Sabtu malam waktu setempat. Laga ini menjadi penanda awal bagi kedua tim untuk mengukur ambisi di kompetisi domestik, terutama setelah Bayern menunjukkan performa dominan dalam beberapa pekan terakhir.
Menjelang pertandingan, Bayern memiliki sejumlah alasan untuk percaya diri. Salah satunya adalah kehadiran Harry Kane, yang baru saja dinobatkan sebagai peraih Ballon d'Or 2026. Penghargaan tersebut diraih setelah musim 2025/26 yang luar biasa: 73 gol dalam 65 pertandingan untuk klub dan negara, tiga trofi bersama Bayern, serta capaian semifinal Liga Champions dan Piala Dunia FIFA. Musim ini, Kane kembali menunjukkan ketajamannya dengan 10 gol dalam 12 penampilan di semua kompetisi, plus enam gol dalam empat laga untuk timnas Inggris. Rekor pribadinya melawan Dortmund pun impresif: 10 gol dalam 11 pertemuan. Catatan ini membuat publik Munich optimistis sang kapten kembali menjadi mimpi buruk bagi Die Schwarzgelben.
Kane tidak sendirian. Bayern memiliki sederet pemain kreatif yang membuat lini serang mereka sulit dibendung. Michael Olise menjadi sosok kunci dengan sembilan kontribusi gol (enam gol, tiga assist) musim ini, lebih banyak dari pemain lain. Ia juga menempati peringkat kesembilan dalam daftar Ballon d'Or, menjadikannya salah satu dari empat pemain Bayern di 30 besar dunia bersama Kane, Luis Díaz, dan Dayot Upamecano. Díaz absen karena cedera, tetapi Serge Gnabry yang kemungkinan menggantikannya baru saja mencetak gol Bundesliga ke-100 akhir pekan lalu. Nama-nama seperti Ismael Saibari, Lennart Karl, dan Tom Bischof juga siap memberikan opsi tambahan di lini depan.
Secara historis, Bayern memang mendominasi pertemuan kedua tim. Dari 23 laga terakhir di semua ajang, Dortmund hanya mampu meraih tiga kemenangan, dan hanya sekali menang di Allianz Arena dalam ajang Bundesliga sejak musim 2013/14. Bayern juga selalu mencetak minimal dua gol dalam tiga pertemuan terakhir melawan Dortmund, serta menyapu bersih dua kemenangan atas rivalnya musim lalu. Meski demikian, kedua laga tersebut berlangsung ketat, dan Bayern membuktikan kualitasnya dengan menemukan cara untuk menang.
Rekor kandang Bayern semakin membuat Dortmund waspada. Musim ini, Die Roten belum terkalahkan di Allianz Arena dan telah mencetak 18 gol di hadapan pendukung sendiri. Tren positif ini bukan hal baru: sejak awal musim lalu, mereka hanya sekali kalah di kandang, termasuk saat menghadapi tim-tim besar seperti Arsenal, Paris Saint-Germain, Real Madrid, dan Chelsea. Sejak awal dekade ini, Bayern baru 12 kali menelan kekalahan di Munich di semua kompetisi. Catatan ini menjadi peringatan serius bagi Dortmund yang tengah berupaya mengejar ketertinggalan di papan atas.
Kekuatan lini belakang Bayern juga patut diperhitungkan. Meski Dortmund menjadi satu-satunya tim yang kebobolan lebih sedikit (enam gol) di Bundesliga musim ini, Bayern mampu mengimbanginya dengan pertahanan solid. Manuel Neuer diragukan tampil, tetapi Jonas Urbig telah membuktikan diri sebagai pengganti yang mumpuni. Di jantung pertahanan, Upamecano berkembang menjadi salah satu bek terbaik Eropa. Kehadirannya sangat krusial: Bayern tidak pernah kalah dalam 51 laga terakhir saat ia bermain, dan bersama Jonathan Tah, mereka tak terkalahkan dalam 19 pertandingan Bundesliga. Dengan dukungan pemain sayap seperti Konrad Laimer, Nathaniel Brown, Alphonso Davies, dan Josip Stanišić, pertahanan Bayern akan sulit ditembus Dortmund.
"Kami tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Bayern memiliki kualitas individu dan kolektif yang luar biasa. Namun, Der Klassiker selalu punya dinamika sendiri," ujar seorang pengamat Bundesliga, seperti dikutip dari analisis pertandingan.
Bagi Dortmund, laga ini menjadi ujian mental dan taktik. Mereka harus mampu menetralisir agresivitas lini depan Bayern yang dipimpin Kane, sekaligus memanfaatkan peluang ketika Bayern sedikit lengah. Sejarah memang tidak berpihak kepada Dortmund, tetapi sepak bola selalu menyisakan ruang bagi kejutan. Pertanyaannya, mampukah Dortmund memutus dominasi Bayern di kandang sendiri dan membuka kembali persaingan gelar? Jawabannya akan terlihat di atas lapangan.



