PSIS Semarang Krisis Gol, Widodo C Putro Dibayangi Tren Negatif Jelang Duel Kontra Persikad
Baca dalam 60 detik
- PSIS Semarang menelan tiga hasil minor beruntun dan gagal mencetak gol lebih awal dalam pertandingan.
- Pelatih Widodo Cahyono Putro menyoroti lemahnya penyelesaian akhir sebagai akar masalah utama.
- Duel melawan Persikad Depok pada pekan ke-8 menjadi ujian krusial untuk menjaga posisi di papan atas.

PSIS Semarang kembali menelan hasil pahit pada pekan ketujuh Pegadaian Championship 2026/2027 setelah takluk 1-2 dari PSMS Medan di Stadion Jatidiri, Semarang. Kekalahan ini memperpanjang tren negatif Mahesa Jenar menjadi tiga pertandingan beruntun tanpa kemenangan, sekaligus mengungkap masalah mendasar yang belum terpecahkan: ketajaman lini depan.
Sebelum tumbang di tangan PSMS, PSIS juga harus mengakui keunggulan Persiraja Banda Aceh dengan skor 1-3, lalu hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan PSGC Ciamis. Padahal, pada awal musim, anak asuh Widodo Cahyono Putro sempat tampil impresif dengan menorehkan tiga kemenangan dan satu hasil imbang, yang sempat mengangkat mereka ke papan atas klasemen.
Widodo mengakui bahwa timnya memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Namun, ia menekankan bahwa persoalan paling krusial adalah bagaimana para pemainnya dapat mencetak gol ke gawang lawan. Dalam tiga laga terakhir, PSIS selalu terjebak pada pola yang sama: kesulitan membobol gawang lawan dan baru bisa mencetak gol ketika pertandingan hampir berakhir.
"Ada beberapa hal yang harus kami perbaiki, tentunya bagaimana kami berusaha untuk menciptakan gol, bukan hanya di akhir pertandingan, tetapi juga dari awal laga," ujar Widodo Cahyono Putro.
Data menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Saat melawan PSMS, PSIS baru bisa menjebol gawang lawan pada menit ke-90+8 melalui Fitra Ridwan. Sementara itu, ketika tumbang dari Persiraja di kandang, mereka baru memecah kebuntuan pada menit ke-88. Keterlambatan dalam mencetak gol ini membuat PSIS sering kehilangan momentum dan terpaksa mengejar ketertinggalan di sisa waktu yang minim.
Menurut pelatih berusia 55 tahun itu, timnya telah berupaya mengasah berbagai skema untuk menciptakan peluang. Namun, ia menilai bahwa pertahanan rapat PSMS menjadi faktor penghambat dalam laga terakhir. "Ada banyak yang dibenahi di latihan. Beberapa mungkin dari kombinasi passing atau kombinasi finishing. Ya, tetapi itu sebetulnya sudah sering kami lakukan. Tapi memang di laga sebelumnya, compact defense PSMS sangat kuat," ujarnya.
Meski demikian, Widodo menegaskan bahwa PSIS akan kembali menggenjot latihan untuk meningkatkan ketajaman di depan gawang jelang pertandingan berikutnya. Fokus utama adalah memperbaiki efektivitas serangan agar tidak lagi bergantung pada gol-gol di menit akhir.
Duel melawan Persikad Depok di Stadion Jatidiri, Semarang, pada Minggu (1/11/2026), menjadi momen krusial bagi PSIS. Persikad saat ini berada di peringkat ketiga dengan koleksi 12 poin, hanya dua poin di atas PSIS yang menempati posisi keempat. Kemenangan akan mengangkat posisi Mahesa Jenar ke tiga besar, sementara kekalahan bisa semakin menjauhkan mereka dari persaingan papan atas.
Pertandingan ini juga akan menjadi ujian bagi Widodo dalam membuktikan kemampuannya membenahi lini serang. Jika masalah penyelesaian akhir tidak segera diatasi, tren negatif PSIS berpotensi berlanjut dan mengancam ambisi mereka untuk bersaing di jalur juara. Mampukah Mahesa Jenar bangkit dan memecah kebuntuan sebelum terlambat?



