Jepang Perluas Skuad demi Piala Asia 2027, Indonesia Jadi Target Pertama di Jeddah
Baca dalam 60 detik
- Hajime Moriyasu berencana menambah kuota pemain Jepang pada FIFA Matchday November 2026, termasuk mempertimbangkan striker muda Shio Fukuda.
- Dua uji coba melawan Brasil dan Paraguay di Singapura menjadi panggung eksperimen sebelum Jepang menghadapi Indonesia di Grup F Piala Asia 2027.
- Sementara Jepang mematangkan kedalaman skuad, Indonesia masih menanti kepastian laga kontra Yordania akibat gejolak keamanan di Timur Tengah.

Timnas Jepang tidak sekadar bersiap menghadapi Piala Asia 2027—mereka sedang membangun fondasi skuad yang lebih dalam, dan laga pembuka melawan Indonesia di Jeddah, 11 Januari 2027, akan menjadi ujian pertama bagi eksperimen pelatih Hajime Moriyasu. Pada FIFA Matchday November 2026, Jepang akan menghadapi Brasil dan Paraguay di Stadion Nasional Singapura, masing-masing pada 14 dan 17 November, sebagai bagian dari persiapan menuju turnamen di Arab Saudi.
Yang menarik, Moriyasu tak hanya mengandalkan pemain reguler. Ia tengah mempertimbangkan untuk memperluas daftar panggilan di luar kuota normal 26 pemain. Tujuannya jelas: memberi ruang bagi talenta baru yang selama ini terpantau, termasuk mereka yang berkarier di Eropa namun belum sempat membela tim nasional senior. Salah satu nama yang mencuat adalah Shio Fukuda, penyerang 22 tahun yang memperkuat Karlsruhe di kasta kedua Liga Jerman.
Musim ini, Fukuda telah mencatatkan tiga gol dan dua assist dari delapan pertandingan di semua kompetisi. Performa itu membuat Moriyasu terbuka untuk memanggilnya, terlebih lagi posisi striker sedang rentan setelah Ayase Ueda mengalami cedera. “Dia tampil sangat baik di antara pemain seusianya, dan saya rasa dia sudah mengembangkan kemampuan yang layak untuk masuk tim nasional,” ujar Moriyasu seperti dikutip Nikkan Sports. Ia bahkan membandingkan Fukuda dengan Kento Shiogai, pemain Wolfsburg II yang juga masuk pertimbangan, namun menilai Fukuda lebih sering tampil dan menunjukkan hasil nyata.
Bagi Indonesia, langkah Jepang ini menjadi sinyal bahwa lawan di Grup F tidak akan tampil setengah hati. Moriyasu secara eksplisit menyebut penambahan pemain sebagai upaya mencoba potensi seluruh pemain, termasuk mereka yang belum pernah merumput di level internasional. “Awalnya kami berencana membawa 26 pemain, namun kami sedang mempertimbangkan untuk menambah jumlah tersebut,” tegasnya. Ini bukan kali pertama Jepang melakukan rotasi besar—sebelumnya mereka memanggil sejumlah pemain baru pada rangkaian empat laga September dan Oktober 2026.
Di sisi lain, persiapan Indonesia sendiri masih diliputi ketidakpastian. Rencana uji coba melawan Yordania pada 13 November 2026 belum menemui titik terang akibat gejolak keamanan di kawasan Timur Tengah. Sementara Jepang sudah memiliki agenda pasti di Singapura, Timnas Garuda harus mencari alternatif jika laga di Amman batal. Perbedaan tingkat kesiapan ini bisa menjadi faktor psikologis menjelang pertemuan di Jeddah nanti.
Jepang juga datang dengan modal empat kemenangan beruntun pasca-Piala Dunia 2026. Setelah tersingkir di babak 32 besar oleh Brasil, mereka bangkit dengan mengalahkan Uruguay (3-1), Venezuela (2-1), Ekuador (5-4), dan Selandia Baru (2-1). Moriyasu ingin memastikan tren positif itu berlanjut, sekaligus menguji kedalaman skuad sebelum menghadapi tekanan turnamen sesungguhnya. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu memanfaatkan ketidakstabilan lini belakang Jepang yang kerap kebobolan di laga uji coba, atau justru menjadi korban dari eksperimen Moriyasu?



