Anggaran Inggris di Tengah Tekanan: Ambisi Politik Burnham Berhadapan dengan Realitas Fiskal
Baca dalam 60 detik
- Kanselir John Healey menghadapi dilema antara janji belanja publik dan keterbatasan kas negara yang diakui tidak sebesar era 90-an.
- Pemerintahan baru pimpinan Andy Burnham berupaya menyeimbangkan target pertahanan 3% PDB dengan kebutuhan subsidi energi dan devolusi.
- Ekonomi Inggris menunjukkan tanda pemulihan, tetapi lembaga think tank memperingatkan guncangan baru akibat konflik Timur Tengah.

Pemerintahan baru Inggris di bawah Perdana Menteri Andy Burnham harus menerjemahkan retorika perubahan besar menjadi kebijakan fiskal yang nyata, ketika Kanselir John Healey mempresentasikan anggaran di tengah beban utang dan inflasi yang masih tinggi. Pernyataan Healey bulan lalu bahwa "uang yang dimiliki Partai Buruh Baru pada 90-an tidak lagi tersedia" menjadi penanda keras bahwa ruang manuver keuangan negara kini jauh lebih sempit.
Burnham, beberapa hari sebelum resmi menjabat, menyebut momen ini sebagai "perubahan paling signifikan dalam politik kita selama 40 tahun". Namun, ambisi politik tersebut langsung berbenturan dengan kenyataan ekonomi: beban pajak berada di level tertinggi secara generasional, utang nasional melambung, tagihan energi naik, dan inflasi melampaui perkiraan. Direktur Institute for Fiscal Studies (IFS), Helen Miller, menilai pemerintah baru memiliki "ambisi besar namun menghadapi daftar panjang kendala", sebagian karena pilihan kebijakan sendiri dan sebagian lagi diperparah oleh perang di Timur Tengah.
Di Westminster, perdebatan tidak hanya soal jumlah uang yang tersedia, tetapi juga kualitas belanja. Banyak pihak menyerukan pengurangan pajak dan belanja, sementara sebagian kader Partai Buruh meyakini negara harus proaktif mendorong perbaikan hidup masyarakat. Pertanyaannya, bagaimana mewujudkan negara yang aktif ketika ruang fiskal begitu terbatas?
Healey dikabarkan akan mengumumkan dukungan biaya hidup, terutama subsidi tagihan energi yang menyasar kelompok paling rentan. Ia menyatakan ingin "memulai tindakan jangka panjang untuk menurunkan biaya energi secara permanen". Untuk membiayainya, sektor perbankan bersiap menanggung pungutan tambahan. Selain itu, devolusi kekuasaan dan sumber daya ke pemimpin lokal menjadi salah satu gagasan utama Burnham, yang oleh Healey disebut sebagai "devolusi radikal" agar kebijakan tidak tersandera sistem departemental di pusat.
Meski demikian, sejumlah pihak di Westminster khawatir penambahan dana bagi wali kota dan pemerintah daerah belum diimbangi pengawasan memadai. Kanselir berpendapat ekonomi mulai tangguh, dan sejumlah indikator memang lebih positif dari prakiraan. Namun, Resolution Foundation mengingatkan bahwa konflik di Timur Tengah kembali mendorong harga energi dan suku bunga naik, sehingga "keuangan rumah tangga dan publik akan menghadapi guncangan lagi" meski ekonomi Inggris tampak lebih resilien.
"Kita memiliki pemerintah yang relatif baru dengan ambisi besar, tetapi menghadapi daftar panjang kendala. Sebagian kendala itu bersifat self-imposed, sebagian lagi diperburuk oleh peristiwa global, terutama perang di Timur Tengah." โ Helen Miller, Direktur IFS
Anggaran kali ini diperkirakan lebih kecil dibandingkan beberapa tahun terakhir dalam hal skala perubahan pajak dan belanja. Healey berbicara tentang keinginan memberikan "ruang bernapas" dan "harapan", yang secara implisit mengakui keterbatasan pemerintah. Janji untuk tidak menaikkan pajak penghasilan, asuransi nasional, atau PPN menjadi kendala yang diciptakan sendiri, sebagaimana dicatat IFS, ditambah tekanan internasional di luar kendali.
Oposisi menilai anggaran ini tidak akan cukup menjawab tantangan. Kanselir Bayangan dari Partai Konservatif, Andrew Griffith, menyebut keuangan publik "di ambang jurang" dan mendesak Healey mengambil "keputusan sulit, bukan terus menunda". Liberal Demokrat melalui Daisy Cooper memperingatkan anggaran "stabil seperti biasa" tidak akan memadai, sementara Reform UK menuduh kanselir "bermain-main sementara ekonomi terbakar". Anggota Parlemen Partai Hijau, Ellie Chowns, menginginkan pendekatan berani namun khawatir hanya "bisnis seperti biasa".
Pemerintah akan berusaha meyakinkan publik bahwa anggaran ini adalah satu dari sekian momen dalam beberapa pekan dan bulan mendatang untuk mewujudkan perubahan yang dijanjikan Burnham. Namun, pertanyaan besarnya tetap: mampukah anggaran ini mengimbangi besarnya tuntutan zaman, atau justru menjadi sekadar tambal sulam di tengah tekanan global yang belum mereda?



