Carrick Tinggalkan Carrington Tanpa Kepastian, Manchester United di Ambang Krisis Kepelatihan
Baca dalam 60 detik
- Michael Carrick angkat kaki dari pusat latihan Manchester United setelah rapat darurat antara CEO Omar Berrada dan Direktur Sepak Bola Jason Wilcox, tanpa ada pernyataan resmi soal masa depannya.
- Kekalahan 0-3 dari Bournemouth memperpanjang paceklik Setan Merah menjadi delapan laga tanpa kemenangan dan menempatkan mereka di peringkat ke-16, hanya berjarak satu poin dari zona degradasi.
- Nama Eddie Howe dan Julian Nagelsmann muncul sebagai kandidat pengganti, sementara para pemain dijadwalkan kembali berlatih Selasa dengan Carrick masih memimpin sesi.

Michael Carrick meninggalkan kompleks latihan Carrington pada Senin sore tanpa kejelasan statusnya sebagai pelatih Manchester United, setelah jajaran direksi menggelar pembicaraan internal menyusul kekalahan telak 0-3 dari Bournemouth di Old Trafford akhir pekan lalu.
CEO Omar Berrada dan Direktur Sepak Bola Jason Wilcox tiba di Carrington pada Senin pagi untuk membahas situasi tim, menurut laporan Press Association. Carrick baru muncul menjelang pukul 14.00 waktu setempat, saat tim U-21 sedang menjalani laga persahabatan tertutup melawan Hull City. Ia bertahan sekitar tiga jam sebelum pergi sesaat sebelum pukul 17.00, tak lama setelah Wilcox lebih dulu meninggalkan lokasi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari klub mengenai posisi pelatih berusia 45 tahun tersebut.
Tekanan terhadap Carrick bukan tanpa alasan. Dalam 12 pertandingan di semua kompetisi musim ini, United baru meraih dua kemenangan. Koleksi tujuh poin dari delapan laga Premier League menjadi start terburuk klub sejak 1986. Kekalahan dari Bournemouth juga memperpanjang rekor tanpa kemenangan menjadi delapan pertandingan beruntun, termasuk dibantai Como 1-4 di Liga Champions beberapa hari sebelumnya. Kini Setan Merah terpuruk di peringkat ke-16, hanya unggul satu poin dari zona degradasi.
Ironi menyelimuti situasi ini. Carrick sempat dipuji ketika datang pada Januari lalu dan membawa United merangkak ke posisi ketiga Premier League. Performa itu berbuah kontrak dua tahun yang ditekennya. Namun, hanya lima bulan berselang, posisinya kembali goyah. Setelah kekalahan dari Bournemouth, Carrick memilih menghindari pertanyaan wartawan soal masa depannya. Ia hanya melambaikan tangan ke arah tribun dan menepuk dada saat meninggalkan lapangan, sementara sebagian suporter meneriakkan namanya sebagai bentuk dukungan.
Kekecewaan pendukung justru lebih banyak diarahkan kepada keluarga Glazer, co-owner Sir Jim Ratcliffe, dan jajaran Ineos, termasuk Wilcox. Para pemain mendapat sorakan negatif saat meninggalkan lapangan, terlebih setelah Carrick memutuskan mencadangkan kapten Bruno Fernandes sepanjang pertandingan. Fernandes, yang musim lalu meraih penghargaan dari PFA dan FWA, belum menemukan performa terbaiknya. Ia bahkan sempat mempertanyakan taktik Carrick setelah kekalahan dari Como. Carrick berdalih keputusan mencadangkan Fernandes murni pertimbangan sepak bola, bukan hukuman. Meski demikian, Fernandes tetap datang ke Carrington pada hari libur untuk menjalani perawatan yang sudah dijadwalkan.
"Keputusan mencadangkan Bruno adalah murni pertimbangan sepak bola, bukan bentuk hukuman," ujar Carrick seperti dikutip dari pernyataannya usai laga.
Di balik layar, manajemen mulai menyiapkan opsi pengganti. Sumber ESPN menyebut nama Eddie Howe dan Julian Nagelsmann masuk dalam daftar kandidat potensial. Keduanya memiliki profil berbeda: Howe dikenal lewat gaya main agresif bersama Bournemouth dan Newcastle, sementara Nagelsmann punya rekam jejak taktis di level elite Eropa. Namun, belum ada pembicaraan resmi yang dikonfirmasi klub.
Para pemain dijadwalkan kembali berlatih pada Selasa setelah mendapat jatah libur sehari. Carrick diperkirakan tetap memimpin sesi tersebut, meski statusnya masih abu-abu. Jika ia bertahan, laga-laga berikutnya akan menjadi ujian berat: bukan hanya soal taktik, tetapi juga kemampuan mengelola ruang ganti yang mulai retak. Sebaliknya, jika manajemen memilih mencopotnya, United harus bergerak cepat di tengah jadwal padat dan tekanan publik yang semakin membesar.
Krisis ini juga memunculkan pertanyaan lebih besar tentang arah kebijakan klub di bawah Ineos. Sejak mengambil alih kendali operasional sepak bola, Ratcliffe dan jajarannya menjanjikan stabilitas dan perbaikan struktur. Namun, rentetan hasil buruk dan ketidakpastian di kursi pelatih justru memperlihatkan bahwa masalah United tidak berhenti pada sosok Carrick. Apakah manajemen akan memberi waktu bagi proyek yang sempat menjanjikan, atau kembali menempuh jalur pergantian pelatih sebagai solusi cepat? Jawabannya akan menentukan arah musim Setan Merah.



