Steam Next Fest 2026: Demo Ko-op Santai dan Game Incremental Dominasi, AI Generatif Mulai Ditinggalkan
Baca dalam 60 detik
- Valve merilis daftar 50 demo paling banyak dimainkan di Steam Next Fest, dengan game ko-op santai dan incremental mendominasi.
- Hanya empat dari 50 game yang mengungkap penggunaan AI generatif, menandakan resistensi pemain terhadap konten AI.
- Tidak ada penerbit besar selain Kalypso Media (Tropico 7), mencerminkan pergeseran preferensi ke game indie dan UGC.

Valve baru saja mengungkap 50 demo yang paling banyak dimainkan dalam Steam Next Fest pekan lalu, dan hasilnya mengonfirmasi tren yang sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir: game ko-op kasual bertema ringan dan game incremental masih merajai minat pemain. Dari lebih dari 8.000 demo yang tersedia, hanya segelintir judul yang berhasil mencuri perhatian, dengan Worst Class Ever—sebuah party game asimetris untuk 1-6 pemain—menempati posisi puncak.
Yang menarik, daftar ini juga menunjukkan sikap pemain terhadap penggunaan kecerdasan buatan generatif. Hanya empat dari 50 game yang secara terbuka mendeklarasikan penggunaan AI dalam pengembangannya. Salah satunya adalah Teach My Little Sister How To Drive, yang mengandalkan NPC bertenaga LLM dan dilaporkan menghabiskan biaya lebih dari $1.000 per hari untuk operasionalnya. Angka ini menggarisbawahi bahwa adopsi AI dalam game masih menghadapi tantangan biaya sekaligus resistensi dari sebagian komunitas.
Dari sisi genre, tercatat tujuh game incremental—termasuk 10 Million Pixels dan Unharvest—serta 15 game ko-op ringan atau komedi yang sering disebut sebagai "friendslop", seperti Dude, Trust Me, Oar'Some Adventures, dan Banana Airways. Tiga game bertahan hidup (Frostrail, Never Be Alone, Arctic Drive) dan tiga game bergaya "cozy" seperti Loftia juga masuk dalam jajaran. Menariknya, hanya ada satu game dari penerbit besar yang masuk daftar, yaitu Tropico 7 dari Kalypso Media—bukan Ubisoft seperti yang sempat dikira.
Perbandingan dengan gelaran lima tahun lalu menunjukkan pergeseran selera yang cukup tajam. Pada 2021, demo seperti Norco, Death Trash, Sable, Unpacking, dan The Inheritance of Crimson Manor masih mendominasi pembicaraan. Kini, kelima judul tersebut masih dikenang dan dimainkan, tetapi daftar terbaru lebih mencerminkan pengaruh besar platform seperti Roblox dan konten buatan pengguna (UGC). Game-game dengan grafis sederhana namun menawarkan pengalaman online yang bebas dan menyenangkan tampaknya menjadi favorit generasi yang tumbuh dengan aplikasi ponsel murah.
"Ini mungkin karena anak-anak yang dibesarkan dengan perangkat lunak ponsel murah bertanggung jawab atas lonjakan game ko-op online dengan grafis sederhana," tulis analis dalam laporan tersebut, seraya menambahkan bahwa lanskap 2026 terasa sangat berbeda dari 2021.
Fenomena ini juga mencerminkan pergeseran model bisnis dan ekspektasi pemain. Game ko-op ringan dengan lingkaran sosial kecil lebih mudah viral melalui streaming dan media sosial, sementara game incremental menawarkan keterlibatan jangka panjang dengan biaya pengembangan relatif rendah. Di sisi lain, keengganan terhadap AI generatif bisa menjadi sinyal bagi pengembang untuk lebih transparan atau bahkan menghindari teknologi tersebut jika ingin diterima pasar.
Bagi industri game Indonesia, tren ini membuka peluang bagi pengembang lokal untuk mengeksplorasi genre serupa—terutama game ko-op santai dan incremental yang tidak memerlukan anggaran besar namun mampu membangun komunitas. Dengan pasar game mobile yang besar dan budaya sosial yang kuat, Indonesia berpotensi menjadi pemain penting dalam gelombang "friendslop" dan UGC di kawasan Asia Tenggara, asalkan ada dukungan platform dan komunitas yang memadai.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah dominasi game indie dan konten buatan pengguna akan bertahan atau justru berbalik jika penerbit besar mulai mengadopsi formula serupa. Valve sendiri belum memberikan indikasi apakah akan menyesuaikan kurasi Next Fest berdasarkan tren ini. Namun satu hal yang jelas: preferensi pemain terus bergerak menjauh dari kemewahan grafis dan menuju pengalaman sosial yang sederhana, autentik, dan mudah diakses.



