Empat Pelatih Tumbang di Enam Pekan, Gusnul Yakin: Liga Indonesia Memang Kejam
Baca dalam 60 detik
- BRI Super League 2026/2027 telah memakan empat korban pelatih hanya dalam enam pekan, dengan Persijap, PSIM, dan Arema menjadi klub yang paling cepat menarik pelatuk.
- Gusnul Yakin menilai pemecatan dini sebagai konsekuensi wajar dari tuntutan prestasi, namun ia mengingatkan bahwa tekanan finansial kerap menjadi alasan tersembunyi di balik keputusan manajemen.
- Fenomena ini memunculkan pertanyaan tentang budaya sabar klub Indonesia dan dampaknya terhadap pembinaan tim jangka panjang.

Empat pelatih sudah kehilangan kursi di BRI Super League 2026/2027 sebelum kompetisi genap berjalan enam pekan. Persijap Jepara, PSIM Yogyakarta, dan Arema FC menjadi klub yang paling cepat mengambil keputusan drastis, sementara satu nama lain menyusul tak lama kemudian. Bagi pengamat sepak bola nasional Gusnul Yakin, pemandangan itu bukan hal baru—melainkan cermin dari karakter liga yang menuntut hasil instan.
“Siapa pun pelatihnya, lokal atau asing, yang pernah bekerja di sini pasti tahu risikonya. Liga kita memang tidak memberi ruang panjang untuk membangun tim,” ujar Gusnul saat dihubungi dari Kediri, Selasa (27/10/2026). Ia menegaskan bahwa pemecatan dini bukanlah kejutan, melainkan bagian dari aturan main yang sudah dipahami sejak awal kontrak ditandatangani.
Persijap menjadi contoh paling unik. Mario Lemos, yang musim lalu menyelamatkan tim dari degradasi, dipindah ke kursi Direktur Teknik, sementara Juan Cortes didatangkan sebagai pelatih kepala. Namun setelah serangkaian hasil buruk, keduanya bertukar posisi. Ketika Lemos kembali memegang kendali, ia justru harus hengkang sepenuhnya. Dalam hitungan hari, pelatih asal Portugal itu menyeberang ke Persis sebagai direktur teknik untuk Pegadaian Championship 2026/2027.
Di tempat lain, PSIM dan Arema FC memilih jalan berbeda. Manajemen kedua klub tidak melakukan rotasi internal, melainkan langsung memutus kontrak Jean-Paul van Gastel dan Marcos Santos. Keputusan itu diambil setelah evaluasi internal menilai keduanya gagal memenuhi target. Arema bahkan langsung menuai hasil manis di bawah pelatih interim Andre Caldas: menghajar Dewa United 4-0 di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang, Minggu (25/10/2026).
Gusnul Yakin sendiri pernah merasakan getirnya pemecatan. Pada 2011, ia dilengserkan dari kursi pelatih Persik. Namun, ia mengaku sudah menduga hal itu karena materi pemain dianggap tidak cukup kuat untuk bersaing. “Saya legawa. Pelatih lain yang bernasib sama juga seharusnya sadar diri,” katanya.
Pengalaman berbeda datang dari Persibo Bojonegoro. Saat itu, Gusnul memilih mundur bukan karena prestasi, melainkan karena kondisi keuangan klub yang sangat minim—bahkan untuk membelikan sepatu pemain pun manajemen kesulitan. “Saya pamit baik-baik setelah laga melawan Persebaya dan Manokwari berakhir seri. Saya tidak mau terus bekerja tanpa dukungan yang layak,” ujarnya.
“Alasan utama pemecatan biasanya prestasi. Tapi di balik itu, ada juga soal finansial yang tidak selalu terungkap ke publik. Pelatih yang berpengalaman tahu kapan harus bertahan dan kapan harus pergi.” — Gusnul Yakin, pengamat sepak bola nasional.
Fenomena ini menyoroti budaya kesabaran klub-klub Indonesia yang kian tipis. Di liga-liga Eropa, pelatih baru biasanya diberi waktu setidaknya satu musim penuh untuk membangun skuad. Di Indonesia, enam pekan bisa menjadi penentu hidup-mati. Tekanan dari suporter, ekspektasi manajemen, dan kebutuhan mendesak akan hasil positif sering kali mempercepat putusan, bahkan sebelum pelatih sempat menerapkan ide permainannya.
Bagi klub, pemecatan dini memang bisa menjadi jalan pintas untuk meredam kemarahan publik. Namun, efek jangka panjangnya perlu dipertanyakan: apakah pergantian pelatih yang terlalu sering benar-benar meningkatkan performa, atau justru menciptakan ketidakstabilan yang merugikan pembinaan pemain muda? Gusnul Yakin tidak menampik bahwa liga Indonesia punya karakter kompetitif yang keras. “Tapi kalau terus begini, pelatih hanya jadi angka statistik,” ujarnya.
Ke depan, tantangan bagi operator kompetisi dan klub adalah menciptakan ekosistem yang lebih rasional. Kontrak berjangka dengan klausul evaluasi yang jelas, misalnya, bisa menjadi solusi agar pemecatan tidak selalu menjadi respons pertama. Tanpa itu, siklus “kejam” ini akan terus berulang setiap musim, dan sepak bola Indonesia hanya akan kehilangan pelatih-pelatih berkualitas sebelum mereka sempat membuktikan kemampuan.



