Antonelli Menangi GP Amerika, Wolff Ungkap Rahasia Mental Sang Pembalap
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli memenangi GP Amerika Serikat di Circuit of the Americas dan memperkokoh posisinya di puncak klasemen pembalap.
- Toto Wolff mengungkap bahwa Antonelli sama sekali tidak memikirkan gelar juara sebelum balapan, memilih fokus menikmati setiap momen.
- Kemenangan ini membuat Antonelli hanya butuh finis di sembilan besar pada GP Meksiko untuk mengunci titel musim ini.

Kimi Antonelli tampil sebagai pemenang dalam Grand Prix Amerika Serikat yang berlangsung di Circuit of the Americas, Minggu (19/10/2025). Kemenangan ini tidak hanya memperpanjang catatan impresifnya musim ini, tetapi juga membuka jalan menuju gelar juara dunia pertamanya. Yang menarik, jelang balapan, pembalap muda Mercedes itu justru menunjukkan ketenangan luar biasa.
Principal tim Mercedes, Toto Wolff, mengungkapkan kepada Sky Sports F1 bahwa Antonelli sempat menyelinap ke ruangannya sebelum balapan. “Dia bilang, ‘Saya hanya ingin menikmati momen ini. Aneh, saya sama sekali tidak memikirkan kejuaraan,’” ujar Wolff menirukan ucapan pembalapnya. Menurut Wolff, sikap tersebut mencerminkan pendekatan mental yang matang dari seorang pembalap yang baru menjalani musim keduanya di Formula 1.
Antonelli memulai balapan dari posisi pole dan langsung mengambil kendali. Meski menggunakan ban medium yang sedikit lebih lambat saat start, ia berhasil menahan tekanan Max Verstappen yang mengalami wheelspin. “Saya pikir Max mengalami hodoh yang cukup parah, jadi itu menguntungkan kami,” kata Wolff. Keputusan strategi Mercedes juga menjadi kunci: saat Verstappen beralih ke dua pit stop, tim memilih bertahan dengan satu pit stop untuk Antonelli. “Kami percaya pada data. Kami tidak ingin bereaksi hanya karena tim lain melakukannya. Itu keputusan yang menakutkan, tetapi kami bertahan,” tambah Wolff.
Dengan empat balapan tersisa, posisi Antonelli sangat diuntungkan. Rekan setimnya, Russell, finis kedelapan, sementara Hamilton harus puas di posisi keempat. Meski secara matematis gelar belum pasti, peluang Antonelli sangat besar. Mercedes sendiri memiliki sejarah manis di Meksiko, di mana Hamilton meraih gelar dunia keempat dan kelimanya pada 2017 dan 2018. Namun Wolff enggan terburu-buru. “Kami pernah mengalami momen seperti itu bersama Lewis. Pasti akan ada banyak tequila dingin, tetapi dia masih harus menyelesaikan balapan di Meksiko,” ujarnya hati-hati.
Bagi publik Indonesia, kisah Antonelli menjadi cermin tentang pentingnya ketenangan mental di tengah tekanan kompetisi. Dalam dunia olahraga, termasuk sepak bola nasional yang kerap menghadapi ekspektasi tinggi, pendekatan “menikmati proses” ala Antonelli bisa menjadi pelajaran berharga. Kemenangan di AS juga menegaskan dominasi Mercedes musim ini, yang berimbas pada persaingan konstruktor. Sementara itu, bagi penggemar F1 di Indonesia, balapan di Meksiko nanti akan menjadi momen yang sayang untuk dilewatkan.
Pertanyaannya, apakah Antonelli mampu mempertahankan ketenangan serupa di Meksiko? Ataukah tekanan untuk mengunci gelar justru menjadi bumerang? Yang jelas, Wolff dan Mercedes telah menunjukkan bahwa kepercayaan pada data dan mental yang kuat adalah kombinasi mematikan di lintasan.



