McLaren Jelaskan Alasan Perintah Tim ke Piastri: 'Kami Peduli Kepentingan Tim'
Baca dalam 60 detik
- Andrea Stella mengungkap perintah tim kepada Oscar Piastri untuk membiarkan Lando Norris lewat di GP Amerika Serikat sudah direncanakan sebelum balapan.
- Keputusan itu diambil karena Piastri kehilangan sekitar satu detik per lap di COTA, sementara Norris lebih adaptif menghadapi kondisi trek yang berubah-ubah.
- McLaren menegaskan prioritas tim di atas rivalitas internal, terutama setelah insiden tabrakan kedua pembalap di sprint Singapura.

Kepala tim McLaren, Andrea Stella, buka suara soal instruksi kontroversial yang meminta Oscar Piastri menyingkir bagi Lando Norris pada Formula 1 GP Amerika Serikat di Circuit of The Americas (COTA). Ia menegaskan keputusan itu bukan spontan, melainkan bagian dari skenario yang sudah disepakati sebelum balapan dimulai.
Piastri dan Norris sebenarnya mengunci baris keempat grid setelah gagal menantang Mercedes, Red Bull, dan Ferrari di sesi kualifikasi. Namun pada tujuh putaran awal, Piastri kehilangan sekitar satu detik per lap dari pemimpin balapan Kimi Antonelli โ rata-rata 0,997 detik per lap di luar lap pertama. Ia bahkan tidak mampu mengikuti laju George Russell yang sedang kesulitan, yang justru menjauh dua persepuluh detik per lap.
Norris pun mengeluh lewat radio bahwa ia "tertahan" oleh rekan setimnya. McLaren lantas meminta Piastri untuk memberi jalan, yang dilakukan pembalap Australia itu di Tikungan 1 pada lap kedelapan. Setelah itu, Norris langsung membangun keunggulan empat detik dalam tujuh putaran.
Stella membeberkan alasan teknis di balik keputusan tersebut. Menurutnya, karakteristik COTA memang lebih cocok untuk Norris. "Sepanjang akhir pekan kami melihat Lando sedikit lebih cepat dari Oscar. Trek ini adalah salah satu di mana Lando unggul dan Oscar sedikit lebih kesulitan," ujarnya seperti dikutip Motorsport.com.
Ia menjelaskan bahwa kekuatan utama Piastri adalah membangun referensi lap demi lap. Namun di COTA, setiap lap memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pembalap berusia 24 tahun itu kesulitan. Sebaliknya, Norris dinilai memiliki keunggulan dalam beradaptasi dengan kondisi yang berubah, terutama saat mobil mulai kehilangan cengkeraman.
"Kami sudah berdiskusi sebelum balapan bahwa jika Lando berada di belakang Oscar dan Oscar tidak bisa mengikuti mobil di depannya, maka kami akan memberi Lando kesempatan untuk menyerang mobil di depan. Itulah yang kami lakukan," tambah Stella.
Keputusan ini juga sarat makna bagi McLaren setelah kedua pembalapnya bertabrakan di sprint Singapura. Stella menyebut perintah tim sebagai cara menunjukkan bahwa kepentingan tim berada di atas segalanya. "Terutama setelah Singapura, kami memperkuat betapa pentingnya bagi kami semua untuk membantu McLaren kembali ke posisi yang kami inginkan: Oscar dan Lando di baris pertama kualifikasi, bertarung untuk kemenangan, dan baru kemudian mengelola kompetisi internal," tegasnya.
Dari sisi strategi, McLaren memilih satu kali pit stop untuk menantang tim-tim top. Ferrari dengan Lewis Hamilton dan Charles Leclerc serta Max Verstappen memakai dua stop. Norris sempat bertahan di posisi kedua hingga lap ke-46 sebelum disalip ketiganya, tetapi ia tetap mampu menyalip Isack Hadjar dan Russell untuk finis kelima. Piastri juga mengalahkan Russell dan finis ketujuh.
Stella mengakui bahwa strategi satu stop memberi peluang memanfaatkan safety car yang tak kunjung muncul. Ia bahkan menyindir nasib sial di Madrid. "Kami masih menunggu kompensasi atas apa yang terjadi di Madrid โ itu akan datang," ujarnya merujuk pada insiden virtual safety car yang merugikan Norris di Madring.
Meski gagal podium, Stella puas dengan eksekusi strategi dan peningkatan mobil berkat upgrade. Namun ia menekankan perlunya perbaikan performa kualifikasi. "Kami perlu meningkatkan performa di kualifikasi dan terus mengembangkan mobil jika ingin konsisten bersaing untuk podium, terutama kemenangan," pungkasnya.
McLaren kini mencatat empat seri beruntun tanpa podium, periode terburuk sejak akhir musim 2023 dan awal musim 2024. Dengan rival-rival yang semakin kompetitif, akankah perintah tim seperti ini menjadi preseden permanen dalam upaya McLaren kembali ke jalur kemenangan?



