Satelit Cuaca Jepang Abadikan Bulan di Balik Cakrawala Bumi
Baca dalam 60 detik
- Himawari-9, satelit geostasioner milik Badan Meteorologi Jepang, menangkap momen Bulan muncul dari balik lengkungan Bumi.
- Citra tersebut diolah oleh CIRA di Universitas Colorado State dan dipublikasikan di media sosial pada 24 Oktober.
- Selain untuk pemantauan cuaca, satelit ini menunjukkan potensi observasi ruang angkasa yang bisa dimanfaatkan untuk pendidikan dan riset di Indonesia.

Satelit cuaca Himawari-9 milik Japan Meteorological Agency (JMA) berhasil merekam pemandangan langka: Bulan yang tampak menyembul dari balik horizon Bumi. Gambar itu diproses oleh Cooperative Institute for Research in the Atmosphere (CIRA) di Colorado State University dan diunggah ke platform X pada 24 Oktober, memicu perbincangan di kalangan pengamat antariksa.
Himawari-9 sendiri merupakan satelit geostasioner yang mengorbit pada ketinggian sekitar 35.786 kilometer di atas permukaan laut. Posisinya yang tetap memungkinkan satelit ini memantau kawasan Asia-Pasifik secara terus-menerus, terutama untuk mendeteksi pembentukan awan, siklon tropis, dan perubahan cuaca ekstrem. Namun, di sela tugas utamanya, instrumen satelit sempat mengarah ke sisi luar Bumi dan menangkap siluet Bulan yang kontras dengan gelapnya angkasa.
Dalam unggahan di X, CIRA menulis, "Terlihat di balik cakrawala Bumi dari Himawari-9, Bulan mengintip untuk menyapa." Meski singkat, pernyataan itu menegaskan bahwa citra tersebut bukan hasil manipulasi, melainkan bagian dari data mentah yang diolah tim CIRA. Lembaga ini memang dikenal sebagai mitra JMA dalam mendistribusikan citra satelit untuk kepentingan riset dan publik.
Bagi Indonesia, keberadaan satelit cuaca seperti Himawari-9 memiliki arti strategis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) selama ini memanfaatkan data Himawari untuk memperkuat sistem peringatan dini cuaca ekstrem, terutama di wilayah rawan bencana hidrometeorologi. Kemampuan satelit dalam menyajikan citra resolusi tinggi setiap 10 menit membantu analisis cepat terhadap pertumbuhan awan konvektif yang sering memicu hujan lebat dan angin kencang.
Selain aspek operasional, rekaman visual semacam ini juga bernilai edukatif. Masyarakat dapat melihat langsung bagaimana Bumi dan Bulan berinteraksi dalam satu bingkai, sesuatu yang biasanya hanya bisa disaksikan melalui simulasi komputer. Fenomena ini sekaligus mengingatkan bahwa satelit cuaca tidak sekadar alat pemantau awan, tetapi juga jendela untuk memahami tata surya dari sudut pandang yang tidak biasa.
Ke depan, makin banyak satelit geostasioner yang dilengkapi sensor multispektral canggih. Peluang untuk menangkap momen serupa—misalnya transit Bulan atau bahkan planet lain—akan semakin terbuka. Pertanyaannya, akankah lembaga antariksa dan meteorologi di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, turut mengembangkan kapasitas serupa agar tidak hanya menjadi pengguna data, tetapi juga produsen citra?



