Hamilton Perpanjang Karier Demi Balapan di Afrika: Rwanda Jadi Motivasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton menegaskan komitmennya bertahan di F1 lebih lama setelah Rwanda resmi menjadi tuan rumah African Grand Prix dengan kontrak 10 tahun.
- Balapan yang diperkirakan digelar awal 2030-an itu akan menjadi ajang F1 pertama di Afrika sejak 1993, dan Hamilton mengaku telah lama memperjuangkannya.
- Pebalap Ferrari tersebut bertekad menjaga kebugaran dan performa agar tetap kompetitif hingga usia pertengahan 40-an saat Rwanda menjadi tuan rumah.

Lewis Hamilton memastikan tidak akan pensiun dalam waktu dekat. Keputusan Formula 1 menggelar African Grand Prix di Rwanda dengan kontrak sepuluh tahun menjadi alasan utama pebalap Ferrari itu memperpanjang masa baktinya di lintasan. Balapan yang diperkirakan baru berlangsung pada awal dekade 2030-an tersebut membuat Hamilton, yang kini berusia 40 tahun, harus tetap aktif hingga usia pertengahan 40-an jika ingin tampil di sana.
Dalam konferensi pers menjelang Grand Prix Amerika Serikat di Austin, Texas, akhir pekan ini, Hamilton duduk bersebelahan dengan pebalap Mercedes, Kimi Antonelli. Saat ditanya tentang persaingan gelar juara yang dijalani Antonelli, Hamilton sempat memuji juniornya itu. Namun, perhatiannya kemudian beralih ke masa depannya sendiri. Ia menyebut kehadiran balapan di Afrika sebagai mimpi yang telah lama ia tunggu.
โSaya tidak sabar untuk terus bersaing dengannya lebih lama, dan kita lihat nanti. Saya sekarang terpaksa harus bertahan lebih lama karena akan ada balapan di Afrika, dan itu sudah menjadi impian saya untuk bisa balapan di sana,โ ujar Hamilton, seperti dikutip Motorsport.com. Antonelli langsung menyahut, โJadi kamu harus datang.โ Hamilton menambahkan bahwa ia akan berusaha menjaga kebugaran dan terus mencetak hasil baik agar bisa memperpanjang kariernya.
โSaya telah memperjuangkan balapan di Afrika selama bertahun-tahun, dengan banyak sekali pertemuan dengan para pemangku kepentingan, termasuk dengan Stefano Domenicali di kantornya di London. Juga banyak panggilan dengan para presiden dari berbagai negara di Afrika. Bagi saya, Afrika adalah tempat yang layak memiliki grand prix. Ini bukan hanya tentang satu negara, tetapi tentang benua secara keseluruhan.โ
โ Lewis Hamilton, pebalap Ferrari
Hamilton memang bukan nama baru dalam kampanye menghadirkan F1 di Afrika. Ia mengaku telah terlibat aktif dalam berbagai diskusi di balik layar, termasuk bertemu dengan sejumlah kepala negara. Menurutnya, Afrika memiliki kekayaan budaya dan potensi besar yang bisa diperkenalkan ke dunia melalui olahraga otomotif. Ia berharap balapan di Rwanda nanti tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda di seluruh dunia.
Bagi Hamilton, balapan di Afrika bukan sekadar menambah daftar sirkuit yang ia jelajahi. Ini adalah warisan. Sepanjang kariernya, ia telah menjadi suara vokal dalam isu keberagaman dan inklusi di dunia motorsport. Kehadiran F1 di benua yang selama tiga dekade absen dari kalender balap menjadi pembuktian nyata dari upaya tersebut. Ia berharap anak-anak di Afrika dapat melihat langsung aksi para pebalap dan terinspirasi untuk mengejar mimpi di dunia otomotif.
Keputusan F1 untuk menjadikan Rwanda sebagai tuan rumah juga tidak lepas dari peran Stefano Domenicali selaku CEO. Hamilton mengungkapkan bahwa diskusi dengan Domenicali berlangsung intensif, termasuk di sela-sela akhir pekan balapan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa balapan ini bukan hanya tentang Rwanda, melainkan tentang seluruh benua. Ia menyebut banyak negara Afrika yang indah dan layak dikunjungi, serta berharap F1 dapat memperkenalkan kekayaan budaya mereka ke audiens global.
Dengan kontrak selama sepuluh tahun, African Grand Prix diproyeksikan menjadi agenda tetap dalam kalender F1. Namun, tantangan logistik dan infrastruktur tentu menjadi perhatian. Rwanda, yang belum memiliki sirkuit permanen berstandar F1, harus mempersiapkan diri. Pemerintah Rwanda dan F1 diyakini akan bekerja sama membangun fasilitas yang memadai. Sementara itu, Hamilton akan terus berusaha mempertahankan performa terbaiknya di usia yang tidak lagi muda.
Pertanyaannya kini: akankah Hamilton benar-benar masih membalap saat bendera start dikibarkan di Rwanda nanti? Jika melihat semangat dan tekadnya, peluang itu terbuka lebar. Yang jelas, keputusan F1 ini telah memberikan motivasi tambahan bagi salah satu pebalap terhebat sepanjang masa untuk tidak menggantung helm terlalu cepat.



